The Circle - Chapter 4: Istana Astral (Ind)
Rhea
[info]carthegian
Long time no update guys =D

ISTANA ASTRAL


Mereka kembali berbicara segera setelah berada di dalam. Meski sebenarnya mereka lelah dan ingin beristirahat, namun sebelum itu ada hal yang mendesak yang perlu diluruskan. Maka mereka berbicara di ruang baca.
“Kita harus masuk Astral!” tandas Seth. “Di sanalah aku yakin kita bisa menemukan bukti yang diperlukan.”
“Menyusup ke Astral?” ulang Ezar. “Caranya?”
“Hmm, kita tidak mungkin bisa masuk waktu malam. Penjagaan di sana jauh lebih ketat dari tempat manapun di negara ini. Besar kemungkinan kita kan tertangkap bahkan sebelum sempat membuka pintu. Dan aku juga tidak lagi bisa masuk sana, setelah dinon-aktifkan. Mereka akan mencurigaiku.” Seth tampak berpikir keras, ia mondar-mandir lagi di atas permadaninya.


“Bagaimana kalau di hari kunjungan?” saran Ezar.
Seth menatapnya sejenak.
“Yah, aku memang belum sempat mengunjungi Astral, tapi aku diberitahu kalau pada hari kunjungan kita bisa masuk ke sana dalam grup, hanya saja aku tidak tahu boleh sampai mana...”
“Ya, ya, betul juga,” ujar Seth mengerti, “hari kunjungan memungkinkan kita untuk masuk ke aula utama dan sayap kiri istana. Selanjutnya kita menyelinap keluar dari grup dan melanjutkan sendiri.”
“Lalu ke mana kita harus mencari bukti-bukti itu?”
“Kuduga ada di kantor Herven.”
“Kau yakin ia menyimpannya di sana? Tidak disembunyikannya di suatu tempat?”
“Tidak, bukti itu akan ada di sana,” kata Seth lambat-lambat, menyilangkan lengannya. “Herven adalah orang yang percaya diri atas kekuasaannya. Ia terlalu angkuh dan licik. Justru kantornyalah tempat yang teraman baginya. Tidak akan ada yang berani memeriksa kantor itu, terlebih dengan Bregend yang menjadi kroninya. Tapi kita mungkin akan kepergok olehnya....”
“Yah, kita harus mengambil resiko itu, bukan?”


Seth mengiyakan, ia senang dengan sikap Ezar yang tidak takut. “Setahuku hari kunjungan adalah tiga hari dalam seminggu, dan kalau aku tidak salah hitung hari kunjungan yang terakhir jatuh pada hari ini.”
“Kebetulan sekali!” seru Ezar. “Kita tidak bisa menunggu terlalu lama.”
“Masih ada waktu untuk beristirahat. Ezar, tidurlah sejenak. Kau pasti lelah. Aku akan memberitahumu nanti.”
Dengan menguap Ezar mengangguk dan melangkah gontai menuju kamar tamu.



Beberapa jam setelahnya, Ezar dan Seth sudah berada di antrian masuk istana. Tak lama mereka diperbolehkan masuk dan didampingi seorang pemandu, menjelajahi istana.
“Selamat datang di Astral, istana Dewan Monastir yang megah, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Jika Anda memandang sekeliling, Anda dapat melihat balairung utama. Terbentang seluas...” kata seorang wanita yang bertugas sebagai pemandu pada sekumpulan orang-orang yang semuanya berbeda pakaiannya. Mereka semua adalah turis yang sedang mengunjungi Astral di hari kunjungan. Semua, kecuali, dua orang di barisan belakang yang tampak tidak mempedulikan ucapan pemandu. Ezar dan Seth.
“Dengar, kita akan mengikuti pemandu ini sampai sayap kiri istana. Dari situ kita akan menuju kantor Herven di sayap kanan. Aku tahu jalan tembus menuju ke sana,” bisik Seth pada Ezar.


Yang diajak bicara mengangguk sambil menatap tiga penjaga yang mengawal rombongan. Ia menenteng tas yang berisi Savr. Seth menyuruhnya untuk memasukkan senapan itu ke suatu tempat yang tidak akan mencurigakan. Seth yang masih memakai pakaian penyamarannya masih memandang sekeliling dengan siaga, sementara Ezar tenang-tenang saja, karena ia tahu kalau penyelundup itu tidak akan begitu bodoh untuk muncul siang hari.
Ia lalu melihat-lihat balairung tempat mereka berada. Rasanya luas dan megah sekali. Terdapat banyak pintu dan tangga di situ, yang entah menuju ke mana. Langit-langitnya tinggi dan dihiasi ukiran yang bagus, sementara lantainya terbuat dari marmer yang terbaik. Bayangan terpantul dari batu yang mengkilap itu. Tapi yang paling menarik perhatian adalah air mancur yang berada di tengah-tengah balairung. Setinggi kurang lebih tiga meter dan berwujudkan elang yang terbuat dari emas, air mancur itu adalah ornamen terpenting dari ruangan luas itu.
Puas melihat-lihat bangunannya, ia ganti mengamati pengunjung. Kira-kira ada tujuh puluh orang lebih. Bagus, pikir Ezar dalam hati, itu akan memudahkan mereka untuk menyelinap. Orang-orang itu terlihat begitu variatif, menurutnya. Ada yang memakai pakaian manik-manik yang indah, tapi juga ada yang hanya memakai baju sederhana. Ada seorang wanita yang mengenakan kerudung, dan tubuhnya tertutup dari atas ke bawah. Ezar sempat memperhatikannya sejenak, tapi ia tidak ingin orang-orang terlalu menyadari kehadirannya.
Si pemandu masih saja berbicara tentang sejarah istana. Kalau saja Ezar sedang berada dalam kunjungan biasa, tentulah ia akan menyimak perkataannya dengan senang hati.


Rombongan pengunjung perlahan mulai bergerak pindah ke suatu lorong yang dari penjelasan si pemandu bernama lorong sidang, semata-mata karena lorong itu akan berujung pada ruang sidang yang biasa untuk melakukan sidang terhadap staf kedewanan, komisi-komisi dan anggota dewan yang dinilai indisipliner.
Dari lorong itu pemandu berjalan memasuki sebuah aula. Tempat itu menyimpan lukisan-lukisan yang berkenaan dengan dewan, antara lain potret diri mereka dan lukisan Astral yang dulu, sebelum dibangun seperti ini. Rombongan langsung mengikuti si pemandu masuk.
Seth berbisik pada Ezar untuk memisahkan diri saat itu juga, ketika para penjaga berbalik arah, dan ia menurut. Seth menyuruh Ezar untuk mengikutinya naik sebuah tangga di samping aula. Tangga itu ternyata tembus di lantai dua aula. Suara si pemandu terdengar cukup jelas sampai di atas. Mereka berjalan menuju sebuah pintu di seberang dengan mengendap-endap berhalang tembok sandaran yang cukup tinggi. Mata mereka sesekali mengawasi kalau-kalau ada yang menyadari kehadiran mereka. Sebelum mereka masuk pintu, Ezar menyadari wanita berkerudung itu juga menghilang.
Setelah menutup pintu dan mengeluarkan Savr dari tas, Ezar bertanya pada Seth. “Sekarang ke mana?”
Menunjuk ke lorong dengan terpaan sinar yang kuat, Seth berjalan di depan. Dari lantai dua itu mereka dapat melihat ke sebuah lapangan yang terbuat dari batu blok. Rupanya tempat yang mereka lalui adalah sebuah foyer besar yang memang dirancang untuk menyerap sinar matahari sebanyak-banyaknya. Tak heran jendelanya besar-besar.


Tapi di ujung Ezar melihat seseorang. Seth pun menyadarinya. Dengan sigap mereka bersembunyi di balik tembok batu, hingga ia pergi menjauh. Namun rupanya ia malah mendekat ke arah persembunyian mereka. Merasa ia mungkin akan memergoki mereka — dan tak ada alternatif lain — Ezar memutuskan untuk melumpuhkannya.
Ketika orang itu muncul dari balik tembok, Ezar segera menyerangnya dan menjatuhkannya ke lantai. Namun alangkah kagetnya ia ketika mendengar jeritan wanita yang dikenalnya.
“Ezar?” seru sang wanita terkejut.
“Rhea?” balas Ezar lebih terkejut, tapi ia toh membantu gadis itu berdiri. “Ke-kenapa kau di sini? Kau tidak apa-apa?” Ezar gelagapan.
Rhea mengurut-urut lengan kirinya. “Kurasa, ya, aku baik-baik saja...” ujarnya datar.
Seth yang sedari tadi melihat segera bertanya pada Ezar, “Kau mengenal gadis ini?”
Sedikit tersipu Ezar menjawab, “Kami berkenalan beberapa hari yang lalu di kota ini...”
Seth mafhum. “Tapi kita tidak bisa berbicara di sini. Kita cari tempat dulu.”
Di sebuah ruangan berpintu berat mereka kembali berbicara. Ezar yang pertama kali angkat bicara.
“Apa yang kau lakukan di sini, Rhea?” tanyanya dengan mimik heran. 
“Kau sendiri, mengapa menyerangku tiba-tiba?” balas Rhea acuh.


“Itu karena...ah sudahlah, Seth, kau saja yang menjelaskannya,” ujar Ezar bingung.
“Seth?” ulang gadis itu perlahan, wajahnya menatap Seth lekat-lekat dan segera terperanjat. “Anda Seth J. Goffer? Sesh na hola,” katanya memberi salam.
“Sesh na hola juga untukmu,” jawab Seth tidak sabaran. Ia rupanya merasa tidak nyaman melihat orang memberi salam yang sopan kepadanya. “Namamu Rhea, Nona? Nah jelaskan pada kami apa yang kau lakukan di sini. Tolong.”
Rhea menatap Seth dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. “Aku datang ke sini sebagai pengunjung di hari kunjungan...”
“Tunggu,” potong Ezar, “kau ikut rombongan?” lalu ia memukul tangannya tanda paham. “Jadi kaulah wanita berkerudung tadi...”
Rhea tidak mengiyakan atau membantahnya. Ia melanjutkan bicaranya. “Lalu aku memisahkan diri ketika tidak ada yang menyadarinya. Aku naik lewat tangga yang di dekat balairung dan melepaskan kerudung dan terusan. Lalu aku bertemu kalian di sini.”
Seth mendengarkannya dengan seksama. Rhea kembali berkata, “Apa yang Tuan Goffer lakukan di sini? Bukankah Anda saat ini dinon-aktifkan dan tidak dapat mengurus pemerintahan?”
Seth terlihat begitu serius sebelum melunak. “Aku senang kau membaca kabar tentangku,” ujarnya lembut, “namun ada satu dua hal yang perlu diluruskan.”



Maka Seth menceritakan segalanya pada Rhea, setelah mendapat jaminan dari Ezar. Ia mengatakan kalau ia merasa dijebak atas tuduhan penyelundupan itu dan bertekad untuk mencari kebenarannya. Ia juga mengisahkan bagaimana mereka pergi ke Lugo untuk mengetahui tentang penyelundupan, tapi ia tidak menceritakan pertarungan Ezar. Seth juga tidak mengatakan kecurigaannya terhadap Herven pada Rhea. Ia hanya menceritakan seperlunya, apa yang patut diketahui Rhea.
“Nah, Nona, setelah kau mengetahui ceritaku, maukah kau mengatakan pada kami mengapa kau menyusup di Astral?” Seth bertanya dengan nada lembut namun mengandung perintah.
Rhea menatap Ezar yang bersandar pada tembok sambil menjilat bibirnya, terlihat begitu serius, begitu berbeda dengan Ezar yang berbicara dengannya saat makan siang beberapa hari yang lalu. Dari bibirnya terucap kata-kata.
“Aku mencari sesuatu di ruang arsip. Ada hal penting yang harus kudapatkan.”
Sejenak suasana hening dengan ucapan Rhea, hingga Seth berbicara.
“Dan kau menerobos masuk untuk mencarinya?” kata-kata Seth agak terasa menyudutkan.
Rhea tidak menjawab.


“Sudahlah Seth,” kata Ezar membela Rhea. Ia terlihat setengah senang karena bertemu Rhea lagi, juga merasa sebal karena harus bertemu seperti ini. “Bukankah yang kita lakukan sama saja dengannya?” ia mendekati Rhea dan berkata. “Rhea, maukah kau membantu kami?”
Seth tampak bereaksi mendengarnya.
“Tunggu Seth, sebelum kau menentangnya. Inilah jalan yang terbaik. Kita tidak mungkin membiarkannya sendirian. Bagaimana kalau ia tertangkap dan membocorkan tentang kita? Lebih baik kita mengawasinya. Lagipula, bukankah tiga pasang mata lebih baik daripada dua?”
Seth tampak ingin membantah, tapi toh ia menyerah dengan argumen Ezar. “Perkataanmu memang tidak sepenuhnya salah. Ezar, suatu kali kemampuanmu berbicara itu akan menyulitkanmu... nah Nona Rhea, dengan berat hati kau terpaksa harus ikut kami. Tapi aku berjanji, setelah semuanya usai, aku akan memudahkan jalanmu. Bagaimana?”
“Saya memang tidak memiliki pilihan lain, bukan?” jawab Rhea.
“Bagus,” komentar Ezar, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Ayo kita lanjutkan, Seth. Dan Rhea, jangan jauh-jauh. Mungkin nanti akan berbahaya.”



Seth memimpin mereka bertiga melewati kembali foyer besar yang menuju sayap kanan. Dari situ mereka naik tangga lagi yang terletak di samping foyer. Di lantai tiga, mereka harus bersembunyi sejenak karena ada seorang pengawal istana yang berkeliaran di sana.
“Kantor Herven ada di balik bangsal ini,” kata Seth.
Ia melihat pintu yang dimaksud dengan hati-hati. Kelihatannya tidak ada seorang pun di sana. Tapi baru saja Seth hendak menuju pintu, mendadak terdengar langkah kaki. Seth segera bersembunyi kembali sambil mengintip. Seorang pengawal istana datang dan mengetuk pintu kantor, kemudian masuk setelah dipersilakan. Rupanya Herven berada di ruangnya.
Tak lama pengawal istana itu keluar lagi, diikuti oleh orang kedua yang berhidung bengkok. Rambutnya coklat legam dan tatapannya tajam. Umurnya diperkirakan mendekati lima puluh. Ialah Herven Sager.
Seth mengawasi Herven hingga ia pergi menjauh. “Sekarang waktunya. Kuduga ia dipanggil untuk rapat atau entah apa...” ia berjalan ke pintu dan memutar gagangnya.


“Terkunci,” Seth tampak gusar memutar-mutar gagangnya, tapi bergeming.
“Biar aku coba,” kata Ezar. Ia meletakkan tangannya di atas gagang dan mulai berkonsentrasi. Sama seperti di pelabuhan, sekujur tubuhnya diselimuti aura ungu. Dan sesaat kemudian terdengar bunyi mendesis dari gagang pintu, seakan-akan gagang itu meleleh.
Sekilas mata Rhea tampak membesar melihat tindakan Ezar. Ia agak lama menatap wajah Ezar yang berkonsentrasi.
Klik!
Ezar dengan mudah memutar gagang dan membuka pintu itu. “Nah, silakan, Tuan,” ujarnya berkelakar. Seth tampak tidak bisa berkata apa-apa, tapi toh ia masuk dengan bersemangat.
Ruangan Herven lumayan besar, dan berkesan mewah. Meja kerjanya terbuat dari kayu mahogani yang mahal, dengan kursi yang besar dam berlapis kulit. Seluruh ruangan terhampar permadani. Kabinet-kabinet besar tersusun rapi di sisi kanan. Lemari lainnya di sisi kiri.
“Wow,” desah Ezar sedikit kagum. “Ia rupanya mempunyai selera yang bagus,” lanjutnya sambil melihat lukisan-lukisan di dinding yang kebanyakan menampilkan wanita dan alam.
“Ya, ya,” ujar Seth tidak sabaran. “Sekarang marilah kita mencari dokumen itu. Tapi jangan sampai berantakan. Nona, sudikah kau membantu kami juga?”
“Apa yang harus kucari?” tanya Rhea, kelihatan agak terpaksa.
“Apa saja! Mungkin kertas-kertas atau buku...”


“Dan itulah yang membuat sulit,” timpal Ezar dari seberang ruangan. Ia membuka lemari dan menemukan setumpuk buku-buku dan kertas yang berhamburan.
Secara seksama mereka mencari-cari ke setiap sudut. Tapi tak ada satu pun yang menunjukkan keterkaitan dengan penyelundupan.
“Heh,” ujar Ezar menghela nafas, duduk di atas meja. Ia dan Rhea sudah berhenti mencari. “Mungkin kau salah, Seth. Herven tidak menyimpannya di sini...”
“Tidak mungkin,” bantah Seth, melihat ke lukisan-lukisan di dinding. “Kecuali...” ia segera mencopot lukisan-lukisan itu satu persatu. Ezar dan Rhea melihatnya tidak mengerti.
“Ini dia!” serunya puas.
Di balik lukisan pegunungan yang dicopot Seth ternyata terdapat sebuah lemari kecil yang menyatu dengan dinding. Lemari itu terbuat dari besi dengan pintu tingkap yang berporos putar.
Ezar turun dari meja segera. “Itu dia,” ujarnya kembali bersemangat.
Seth ia lalu membuka pintu lemari besi yang ternyata tidak dikunci dan ternganga akan isinya. Barang-barang yang terbuat dari emas ada di sana, termasuk patung bentuk elang dari emas bertatahkan berlian. Tangan Seth merogoh hingga relung yang terdalam dan ketika keluar, ia menggenggam secarik kertas. Ia membacanya dan tersenyum.
“Apa itu?” tanya Ezar.


“Bacalah,” ia menyerahkannya pada Ezar lalu menutup pintu lemari dan mengembalikan lukisan-lukisan yang dicopotnya. Ia membereskan kantor itu sama seperti sebelumnya.
Ezar dan Rhea membaca kertas itu, yang ternyata adalah sebuah surat pengiriman kristal ke Amavisca di kertas resmi berkop dengan stempel milik Herven.
“Itu bukti yang kita perlukan untuk sementara ini,” ujar Seth sambil mengantungi kertas itu. Ia lalu menutup lemari besi dan mengembalikan semua lukisan ke keadaan semula.
Tiba-tiba Rhea yang berada di dekat pintu menyenggol lengan Ezar.
“Hei, aku mendengar suara langkah kaki...”
“Gawat!” tukas Seth segera. “Mungkin itu Herven. Kita harus keluar sebelum...”
Tapi terlambat. Herven sudah masuk ke ruangannya. Sejenak ia menatap tiga orang yang ada di dalam, terlebih saat ia sadar salah satunya adalah Seth. Matanya berkilat-kilat karenanya. Ia lalu berteriak dengan lantang memanggil pengawal istana.
Ezar sudah hendak bergerak maju, tapi Seth menahannya. Ia seakan menyuruh Ezar agar tidak bertindak sembrono. Pandangannya terlihat begitu serius.
“Kau, bukan lagi anggota dewan. Untuk apa kau di sini?” tanya Herven dingin. Di belakangnya muncul beberapa pengawal istana yang merespon panggilannya.
Seth tidak menjawab.
“Pengawal, tangkap mereka semua karena telah memasuki kantorku tanpa izin! Yang satu ini bersenjata, sita senapannya.”
Pengawal istana yang diperintah segera menahan ketiganya dan mengambil Savr.


Herven melihat sekeliling ruangannya, tidak menemukan tanda-tanda terusik, maka ia mendekati Seth dan berkata dengan nada yang menusuk. “Mungkin kau hendak membalas dendam, tapi kini kau sudah menambah daftar kesalahanmu sendiri. Sayang sekali bagimu aku kembali terlalu cepat sebelum kau sempat melakukan niatmu. Dan kau tahu, akan lebih bagus melihatmu dihakimi oleh Dewan Monastir secara pribadi. Kali ini mereka tidak akan memberi keringanan padamu, seperti pada sidang khusus yang lalu.” Ia meoleh pada anak buahnya. “Bawa mereka semua ke ruang sidang. Dan jangan sampai kabur.”
Ia kemudian keluar dari ruangannya.



“Mengapa kau seakan membiarkan dirimu tertangkap?” tanya Ezar dengan berbisik pada Seth, agak heran, ketika mereka digiring oleh pengawal istana menuju ruang sidang.
“Aku merasa ini bukan saatnya untuk berlari lagi,” jawabnya tenang.
“Jadi kau punya ide?”
“Biarkan aku yang beraksi,” jawabnya mantap.
Mereka dibawa menuruni tangga-tangga hingga kembali ke lantai dasar. Sekali lagi mereka melewati lorong sidang. Kali ini sampai habis. Di ujung ruang itu berdiri pintu yang sangat besar dengan ornamen yang rumit. Pengawal istana itu membuka pintu itu dan menampakkan ruangan yang besar.
Ruangan itu berbentuk agak bulat, dengan langit-langit tinggi berbentuk kubah. Terdapat bangku-bangku di sepanjang ruangan, menyisakan sebuah jalur di tengahnya. Ketika mereka digiring ke tengah ruangan, di seberang ruangan berdiri meja tinggi yang di belakangnya duduk empat orang.
Ezar harus mendongak agar bisa melihat siapa yang duduk di situ. Ia mengenali mereka sebagai anggota dewan, yang mungkin dipanggil Herven secara pribadi. Engelbert duduk di tengah, lalu Ludivus, Seneca dan yang paling kiri, tentu saja adalah Herven.
Para pengawal itu menempatkan Ezar dan Rhea duduk di sebuah meja dan kursi yang rendah, sementara Seth disuruh berdiri di sebuah podium di tengah, tepat menghadap meja dewan.


Herven menatap Seth dengan tatapan licik. Ia seperti mengatakan kalau Seth akan dihukum seberat-beratnya.
“Hmm, hmm,” gumam Engelbert, ketua Dewan Monastir. “Seth J. Goffer,” katanya perlahan. Ia menatap pria yang berdiri di podium itu sambil membetulkan kacamatanya. “Bukankah kau sudah dinon-aktifkan sebagai anggota dewan dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan terkait tuduhan skandal penyelundupan? Dan kini kami diinformasikan bahwa kau telah memasuki kantor Herven tanpa izin, atau lebih tepatnya mendobrak masuk. Apakah itu benar terjadi? Kalau ya, kau tentu sudah mengetahui akibatnya.”
Seringai kemenangan terhias di wajah Herven.
“Yang terhormat Dewan Monastir, sebelum saya menjawab pertanyaan itu, ijinkan saya untuk membela diri,” Seth berkata dengan tenang.
Engelbert berpikir sejenak sebelum berkata, “Baiklah. Itu cukup adil.”
Seringai Herven seketika berubah menjadi amarah. “Tidak ada yang perlu ia katakan lagi,” desis Herven tajam. “Ia sudah tertangkap basah berada di kantorku. Bukankah itu sudah lebih dari bukti?”


Seneca yang berada di sebelahnya menggeleng. “Hentikan, Herven. Meskipun tertuduh ia mempunyai kesempatan untuk membela diri, Herven. Lagipula ia masih tercatat sebagai anggota dewan, dan di sini kami menjunjung tinggi status itu dan menghormati hak-haknya.”
Herven terhenyak ke dalam kursinya.
“Nah, apa yang ingin kau katakan?” tanya Engelbert kembali.
Seth berkata dengan jelas. “Saya menolak dengan keras tuduhan masuk tanpa izin yang dituduhkan kepada saya.” Ia lalu berhenti, sengaja untuk melihat efek ucapannya.
Alis Engelbert serta merta terangkat mendengar perkataan Seth. Begitupun dengan anggota dewan yang lain. Terutama Herven, mukanya terlihat memerah karena murka.
Seth kembali melanjutkan. “Karena kehadiran saya di sini adalah untuk mencari bukti yang dapat membuktikan bahwa saya dijebak atas tuduhan penyelundupan kristal energi.”
Engelbert terpekur, “Kau dijebak? Lantas apa hubungannya dengan kantor Herven?” tanyanya heran.
“Di situlah dugaan terdapat bukti yang saya maksud.”


“Tunggu dulu,” kali ini giliran Ludivus yang bereaksi, “Maksudmu kau mengindikasikan kalau terdapat bukti yang membuktikan kau tidak bersalah di ruang Herven?”
“Benar.”
“Tapi itu berarti kau menuduh Herven sebagi orang yang menjebakmu!”
“Benar,” jawab Seth sangat tenang.
“Tidak bisa diterima! Ini menggelikan!” seru Herven penuh amarah. “Dasar kau makhluk rendahan!”
“Herven! Kendalikan dirimu!” kata Engelbert mengingatkan. “Kita masih berada di tengah-tengah sidang.”
Herven menatap Engelbert dengan tajam. Ia mengertakkan giginya saking kesalnya, namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia mengetuk-ketukkan jemarinya di meja.
Setelah keadaan tenang, Engelbert kembali berbicara seakan-akan tidak terjadi apapun. “Ini tuduhan yang sangat berat dan serius. Apa kau punya buktinya?”
“Ya,” jawab Seth yakin. “Pertama-tama saya akan membantah tentang dokumen yang ditemukan di ruangan saya, yang oleh komisi internal dijadikan bukti hanya karena ada stempel saya tertera. Pada saat yang bersamaan saya perlu melaporkan bahwa stempel itu hilang.”
“Kau kehilangan stempelmu?” ulang Seneca tidak percaya. “Lalu mengapa tidak kau katakan sewaktu kau diperiksa?”
Seth sedikit tersenyum. “Tentu, pada saat itu saya belum menyadari apa yang terjadi, dan tidak melihat kaitannya. Namun saya kini telah mengerti. Herven, yang telah melaporkan saya karena diduga menyelundupkan kristal energi, pada kenyataannya adalah penyelundup itu sendiri! Dan ia membuat dokumen palsu dengan stempel saya yang hilang!”


“Pembohong!” suara Herven membahana di ruang sidang. Kelihatan lagi ia tidak bisa menahan diri. Wajahnya dipenuhi otot yang menegang. “Aku tidak bisa menerima dituduh seperti itu! Penjarakan ia segera!”
“Nanti dulu,” seru Ludivus, tampak tertarik dengan perkataan Seth. Ia mengusap kepala botaknya perlahan. “Seth, apa kau mengatakan kalau justru Herven-lah yang menjadi penyelundup itu?”
“Tepat,” Seth turun dari podium itu. Ia berjalan mendekati meja tinggi. “Dan saya punya buktinya. Perkenankan saya.” Ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan surat pengiriman yang tadi ditemukan, dan menyerahkannya pada penjaga yang menyerahkannya pada Engelbert. Seth dapat melihat mata Herven menyipit terkejut saat surat itu diserahkan. “Surat itu saya temukan di kantor Herven.”
Sang ketua dewan membaca surat itu dengan mata membelalak, seakan tidak percaya. Engelbert yang pertama bicara, membetulkan kacamatanya yang jatuh ke hidung.


“Ya, ampun,” ujarnya geleng-geleng. “Dokumen yang sama seperti bukti tuduhanmu...”
“Dan aku juga menemukan stempel saya di tempat surat itu berada.” Seth mengacungkan stempel emas dengan ukiran namanya di atas dan dasar.
Engelbert menoleh kepada Herven. “Sebaiknya kau menjelaskan apa yang terjadi, sejujur-jujurnya.” Ada nada tegas dalam bicaranya. Anggota dewan lainnya pun menatap pada Herven, seakan memerintahkannya untuk berbicara.
Herven menggertak-gertakkan giginya. Kemudian tanpa disangka ia mengambil sebuah bungkusan dari balik bajunya dan melemparkannya ke tengah ruang sidang.
Bum!
Bungkusan itu meledak dengan kencang. Namun tidak ada api yang keluar, melainkan asap yang banyak sekali. Dalam sekejap saja asap itu telah memenuhi ruang sidang, membubung hingga ke langit-langit. Begitu pekat sehingga orang sama sekali tidak bisa melihat.
Semua orang yang ada kaget seketika. Terdengar teriakan-teriakan dari entah siapa. Beberapa di antaranya batuk-batuk seraya mengeluh matanya sakit kemasukan asap. Kelihatannya semua orang panik. Mereka hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi.
Tak lama kemudian asap itu mulai menipis. Pandangan perlahan menjadi normal kembali, karena asap itu menghilang secepat munculnya. Terlihat Seneca dan Ludivus terpental dari meja tinggi saking kagetnya, terlungkup di lantai belakang, hanya diam saking kagetnya, sementara Engelbert pingsan di meja. Seth tampak terbatuk-batuk, berlutut bersandarkan meja tinggi. Ezar berada di bawah meja, sempat menarik Rhea bersamanya. Entah bagaimana, tampaknya ia sempat menghindar ketika bungkusan itu meledak. Orang-orang yang lain terbatuk-batuk di belakang, tampak tidak berdaya.
Ezar yang pertama bangun. Itu juga setelah sadar, bahwa ternyata tanpa sadar ia mendekap Rhea. Ia langsung melepaskannya, dengan muka memerah. Rhea sendiri tidak kurang apapun, hanya merasa sedikit rikuh.


Ezar segera membantu Seth berdiri. Ia masih terhuyung-huyung. Mereka lalu memeriksa anggota dewan yang lainnya. Mereka tampak baik-baik saja. Tapi Herven tidak kelihatan batang hidungnya.
Seth terperangah melihat sebuah pintu dorong di belakang meja tinggi terbuka.
“Herven! Rupanya ia melarikan diri melalui pintu belakang!” serunya kesal. Ezar hendak mengejar, tapi Seth menahan. “Tidak usah. Biar penjaga saja yang mencarinya. Kita bantu yang lain dulu.”



“Tuan Goffer, Anda dipanggil masuk,” kata seorang pengawal istana, menyadarkan Seth yang sedang melamun di pinggiran lorong.
Seth tersenyum pada Ezar sejenak, kemudian masuk ke dalam ruang sidang. Tinggallah Ezar berdiri saat pintu ditutup, dan Rhea yang duduk di sebuah bangku. Ezar lalu ikut duduk dan menghela nafas. Ia menatap Rhea di sebelahnya.
“Maaf aku telah melibatkanmu dalam masalah ini,” ujarnya merasa menyesal.
“Tak apa,” jawabnya pendek. Lalu ia diam dan termenung.
“Aku – eh – kau mau keluar? Kupikir, daripada kita di sini menunggu...”
“Dengan senang hati,” sambut Rhea.
Mereka lalu berjalan melewati halaman istana, di dekat ruang sidang. Halaman yang luas itu banyak ditumbuhi tanaman. Pohon-pohon yang rindang memberikan keteduhan yang menawan. Bunga-bunga tumbuh dengan subur di sepanjang pagar istana, seperti terpelihara dengan baik. Sudah lewat tengah hari, dan matahari masih bersinar terik.
“Katanya kau akan meninggalkan Zen Aveshta, tapi mengapa kau masih ada di sini?” tanya Rhea angkat bicara.
“Yah, tadinya... ceritanya panjang,” jawab Ezar. Maka ia lalu menceritakan pagi hari di mana ia bertemu dengan Seth dan setelahnya. Kali ini ia tidak menyembunyikan apapun dalam perkataannya. Ia mengakhiri cerita ketika mereka bertemu di lorong.
Rhea terutama nampak sangat tertarik dengan saat di mana Ezar menggunakan kekuatan Omninya.
“Jadi kau seorang user...” kata Rhea. Ada nada antusiasme.
“Aku sudah menduganya. Kau menpunyai aura yang berbeda. Terlebih setelah kau membuka pintu kantor itu.”
“Ah, itu bukan apa-apa,” ujar Ezar sedikit tersipu, tidak merasa heran akan ketertarikan Rhea pada hal itu. “Kau sendiri, mengatakan akan berada di sini lebih lama lagi, apakah untuk menyusup ke ruang arsip? Kalau boleh thu, apakah alasanmu hingga nekat untuk menerobos Astral demi berkas-berkas belaka?”
Rhea mendekati sekuntum bunga dafodil dan memetiknya. “Ya, itu tujuanku. Aku hendak mencari sesuatu tentang ibuku...”
“Tentang ibumu?”


“Ya, ia meninggalkanku waktu kecil, tidak tahu di mana ia berada. Ia seorang peneliti negara, jadi mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu tentangnya dari sini,” jawabnya sambil mencium bunga itu. Ia menoleh ke Ezar. “Dan kau, bukankah kau datang dari jauh. Untuk apa kau datang kemari?”
“Ah, aku hanya ingin berkelana,” jawab Ezar cepat. Ia memandang langit yang tidak berawan. “Aku tak ingin hanya berada di negeri asalku, Bezellum, dan melepaskan pandangan untuk melihat ke dunia luar.”
“Begitu...”
Terlihat barisan orang berjalan keluar dari ruang sidang.
“Sepertinya mereka sudah selesai. Mari kita temui Seth,” ajak Ezar.
Tapi Seth sendiri yang menemui mereka. Ia kelihatan sangat senang ketika menghampiri mereka.
“Ezar dan Rhea. Maaf, sidang itu pasti membuat kalian bosan menunggu,” katanya tersenyum. Mereka berjalan masuk ke area istana. “Terima kasih atas bantuan kalian. Aku telah kembali dilantik menjadi anggota dewan.”
“Betulkah? Selamat!” kata Ezar menjabat tangannya. Begitu pun Rhea.
“Dewan Monastir percaya dengan kesaksian yang aku buat. Mereka menarik kembali tuduhan dan mengembalikan statusku. Terlebih lagi ketika Herven kabur, itu menegaskan siapa yang sebenarnya bersalah.”


“Omong-omong tentang Herven, bagaimana?” tanya Ezar menyelidik.
“Penjaga tidak berhasil menemukannya. Ia pasti sudah berhasil keluar dari lingkungan istana. Akan sulit untuk melacaknya di kota ini, tapi aku duga ia pasti akan meninggalkan kota secepatnya. Bagaimanapun kita harus menangkap mantan anggota dewan itu,” ia mengerling pada Ezar, “Engelbert memecatnya secara tidak hormat tadi. Aku akan membujuk dewan agar menyetujuiku untuk melacak ke mana dia pergi dan membawanya kemari untuk diadili, meski sebenarnya itu wewenang komisi internal dibantu militer.
“Tapi Bregend yang ketua komisi adalah kroni Herven, dan militer di Arushkar akan lama dalam memobilisasi pasukannya. Makanya aku sendiri yang akan menghadapinya.”
Ezar mendengarkannya seksama. “Apakah bantuanku diperlukan?”
Seth mengiyakan dengan cepat. “Tentu, aku bisa sangat terbantu dengan kehadiranmu. Dan Nona Rhea, hari ini aku tidak akan menangkapmu karena menyusup ke istana dan dengan senang hati membukakan ruang arsip lebar-lebar untukmu. Kau bisa menggunakannya sesuka hati.”
“Terima kasih, Tuan Goffer,” kata Rhea kelihatan senang.
“Sekarang, mari bicarakan rencana...” kata Seth pada Ezar.

***

Character Illustration 1
Ashe
[info]carthegian
I'm dumping a lot of character illustrations here, so have a look see. Too bad I still haven't figured how to draw the scenery / background illustration yet, still finishing with the concept and checking with the overall story so far.

Rhea - Stern - Ladia



From left to right: Rhea Silva, Stern deGratta, and Ladia Sesta. They're the 3 other main characters aside Ezar Immelhein.
Rhea is almost at the same age with Ezar while Stern and Ladia are older a couple years.

What's your impression of their characters upon seeing their face? Below is the skecth version:



Rhea sketch fullbody. The final color version has been uploaded to my DeviantArt account. Actually I had drawn her so many times already in the past, but each time with a different style and costume >.< Hopefully this is the last change I ever made to her.




Free - Seth
Frre Allster is a carefree coach that Ezar first met in Hally's. He acts as if he knows every place (though he does know his places around), and always laughing in a stupid manner.
Seth J. Goffer is our honorable counselor, righteous and just, and the best of all, he's still young. I might have drawn him a bit too young here, but nevertheless, I want to have him as a great politician who cares about his people.




Herven
He's one of the counselor in Commonwealth of Monastir, meaning he's one of the most powerful person there. I think you know already if you have read chapter 2 that he is the culprit behind Seth's false accusation of smuggling. And that shows you just how bad he is.



That's all folks, I hope you like it as I do =D Comments are welcome =D

The Circle - Chapter 3: Pelabuhan (Ind)
Rhea
[info]carthegian
Chapter 3 in Indonesian. Enjoy!!

PELABUHAN


 


Dua hari yang lalu Ezar masih berada di kediaman Seth yang nyaman. Selama menjadi tamu Seth, ia merasa begitu ingin menyelidiki Lugo dan menolong Seth, namun anggota dewan itu menahannya dan berkata kalau ia belum cukup memperoleh informasi. Jadi Ezar hanya menghabiskan hari-harinya dengan berjalan-jalan di sekitar rumah Seth. Saat siang hari ia dapat melihat apa yang tidak dilihatnya sewaktu datang ke sana. Ternyata rumah itu memiliki pemandangan yang spektakuler. Dibangun ke arah selatan, rumah itu berhadapan dengan deretan Pegunungan Apollyon yang berwarna putih karena saljunya. Sungguh rumah yang berada di kawasan bagus.

Selain itu, Ezar juga sering mengunjungi ruang baca Seth. Ruang itu berisi buku-buku yang menarik. Seth rupanya gemar membaca buku, karena koleksi bukunya begitu beragam. Ada kumpulan dongeng rakyat yang tersusun rapi di salah satu lemari, maupun buku undang-undang yang berat dan buku tentang pemerintahan yang kelihatan sering dibaca, karena halamannya terlipat di sana sini.

Ezar juga menemukan buku biografi Seth yang diterbitkan Gannagon Press. Ia terkejut menemukan buku itu di rak teratas dan mulai membacanya, berharap bisa mengetahui lebih jauh mengenai Seth.

Rupanya Seth tidak berasal dari keluarga yang terpandang. Keluarganya adalah peternak kuda di dataran rendah. Ia sama seperti rakyat biasa, hanya saja ia mempunyai kepandaian lebih sehingga mendapat biaya dari negara untuk belajar di Rouen. Sekembalinya ia di Monastir, ia mulai meniti karir dalam politik. Berkat ketekunannya, ia mendaki jalur hidupnya sampai menjadi kepala komisi internal. Lalu ketika posisi Dewan Monastir terbuka akibat seorang anggota, Kylie Bosco, mengundurkan diri karena usia tua, Seth disebut-sebut sebagi calon terkuat. Dan di usia akhir dua puluh, ia telah menjadi salah satu orang paling berkuasa di Monastir.

Selama jabatannya, ia sering disebut ‘Res-Vinu’, bahasa Monastir yang artinya ‘yang berbeda’, karena memang ia sangat berbeda dari anggota yang sebelumnya. Muda, murah senyum, dan tidak berasal dari keluarga yang terpandang. Ia disukai banyak penduduk karena sikapnya yang menaruh perhatian pada rakyat biasa dan terasa dekat dengan mereka.

Ezar menutup buku itu dengan perasaan hormat terhadap Seth. Ini semakin membuat dirinya ingin menolong Seth.


Maka ketika sore tadi ketika Ezar sedang membaca sebuah buku lainnya di ruang baca, saat Seth datang tiba-tiba dan mengatakan kalau ia sudah mendapat informasi tentang pelabuhan Lugo, lalu menanyakan apakah ia sudah siap, ia segera mengiyakan.

Seth tersenyum mendengarnya, lalu bertanya “Kau bisa menunggang kuda?”, yang dijawab dengan anggukan Ezar.

Maka mereka berangkat menjelang jam tujuh malam, dengan menunggang kuda. Seth menyamarkan wajahnya dengan memakai jubah panjang seperti yang digunakannya saat di pasar. Keduanya meninggalkan Zen Aveshta melalui gerbang utara kota, yang merupakan gerbang utama dan mulai menyusuri jalanan besar yang terbentang ke banyak tempat. Meskipun malam, tetap saja sesekali mereka menjumpai kereta kuda yang lalu lalang.

Seth memacu kudanya dengan kencang. Terlihat sekali kalau ia sering menunggang kuda, karena ia begitu cekatan dalam mengendalikannya. Sedang Ezar, meski ia bukanlah penunggang yang buruk, harus berusaha keras menyamai kecepatan Seth, seraya berhati-hati untuk tidak terjatuh dari pelananya saat melakukannya. 

“Masih jauhkah Lugo?” tanya Ezar. Ia agak menunduk, menghindari angin malam yang menampar-nampar wajahnya.

“Lugo terletak sekitar seratus kilometer arah utara dari Zen Aveshta. Kita akan sampai di sana dalam dua jam.”



Tepat seperti yang dikatakan Seth. Sekitar jam sembilan mereka tiba di pinggiran Lugo. Seth melambatkan laju kudanya dan melangkah dengan perlahan.

Hujan gerimis turun dengan perlahan, membasahi jalanan dan menciptakan atmosfer tidak menyenangkan yang pekat, menyelumuti Lugo. Jalanan kota juga menjadi berlumpur karenanya, sebab jalan di Lugo tidak terbuat dari batu blok atau aspal, hanya batu kerikil yang dimampatkan. Mereka berdua terus menyusuri jalan, dan di suatu tempat tidak jauh dari gerbang kota,  tapi agak tersembunyi. Seth menghentikan kudanya.

“Tambatkan kudanya. Kita berjalan dari sini,” perintahnya.

Ezar turun dari kuda, menambatkannya pada sebuah tembok besi, dan memandang pada kota itu.

Lugo ternyata lumayan besar. Kota itu berdiri di pinggir laut dan udaranya terasa begitu lembab. Ezar melihat banyak terdapat bangunan besar yang menyerupai gudang. Rumah-rumah yang ada berdempetan satu sama lain dengan atap yang datar, namun berbeda ketinggian karena jumlah lantai. Sama seperti rumah Seth, rumah-rumah itu tidak memiliki jendela di lantai bawah. Tampaknya kesan tidak terawat melekat kuat pada rumah-rumah itu, sebagian disebabkan oleh kondisinya, sebagian disebabkan lingkungan sekitarnya yang kumuh.

Berbeda dengan Zen Aveshta yang tetap hidup meskipun gelap, di Lugo sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Hanya ada lampu-lampu jalan yang temaram, dan beberapa lentera kecil di depan rumah yang menerangi malam.

Dengan kondisi yang seperti itu, Ezar sedikit tidak mengerti mengapa Seth berniat menjadikan Lugo sebagai lokasi proyek pelabuhannya. Bukankah kota ini terlihat begitu... tidak indah, menurut Ezar.




Seakan tahu apa yang ada di pikiran Ezar ketika melihatnya mengerutkan kening dengan mata tertumbuk ke kota,  Seth langsung berujar dengan suara pelan, “Jangan berprasangka buruk dahulu terhadap kota ini. Kebanyakan penduduk kota ini adalah nelayan dan kapal carter, dan mereka beraktivitas hanya pada siang hari. Lagipula, mereka tidak begitu pandai membangun dan juga tidak begitu mempedulikan tata kota. Yang kuincar adalah posisi kota ini yang strategis, tepat berada di teluk. Kedalamannya cocok untuk berlabuhnya kapal besar. Setelah membangun pelabuhan aku berencana membangun kembali infrastrukturnya.”

“Baiklah, terserah kau saja,” komentar Ezar. “Lalu apa yang kita lakukan sekarang?”

“Informasi yang kuterima mengatakan kalau akan ada pengiriman kristal energi di pelabuhan lewat tengah malam. Kita menuju ke sana dan menunggu.”

Pelabuhan yang dimaksud ada di timur laut kota. Pelabuhan itu tidak begitu besar. Di kejauhan terdapat siluet kapal-kapal nelayan dengan tiang yang tinggi dan layar yang tergulung. Juga terdapat beberapa kapal tongkang yang tertambat di dermaga.

Terdapat pagar kayu yang mengelilinginya. Satu-satunya pintu masuk adalah gerbang yang meski terbuka, terdapat sebuah pos penjagaan. Ada orang yang duduk di kursi di depan gerbang, dengan lentera di sisinya. Orang itu rupanya sedang tidur, tapi tangannya memegang sebuah senapan.

Seth memberi isyarat pada Ezar untuk menyusup. Dengan hati-hati mereka memanjat pagar yang agak rendah, berusaha tidak membuat suara supaya penjaga tidak terbangun.

“Kita tunggu di sini saja,” bisik Seth, menunjuk tumpukan tong-tong yang berisi jaring, tak jauh dari gerbang, yang disambut anggukan Ezar.

Setelah memastikan posisi mereka tidak akan terlihat, mereka diam sambil memasang telinga.


***


Agak lama mereka menunggu. Ezar sudah sedikit bosan menunggu ketika terdengar suara derap kuda dan putaran roda. Sebuah kereta kuda hendak memasuki pelabuhan. Dari kejauhan Seth memandang kejadian itu sementara Ezar melihat jam tangannya yang berpendar. Kira-kira jam setengah sebelas.

Mendengar suara kereta kuda mendekat, penjaga yang tadinya tidur segera terbangun. Kereta kuda itu lalu berhenti di depan gerbang. Salah seorang darinya turun. Seorang pria bertubuh besar dengan janggut lebat dan mengenakan jas hujan.

“Bodoh kau!” katanya mengumpat, “Lagi-lagi kau tertidur saat berjaga! Bagaimana kalau ada yang menyusup masuk?”

Yang dimaki hanya bisa menunduk, sambil bergegas bangun dan membuka gerbang. Orang yang turun itu naik kereta kuda lagi dan masuk ke pelabuhan. Pintu gerbang segera ditutup kembali begitu kereta kuda lewat.




Seth berbisik supaya mereka mengikuti kereta kuda itu. Dengan mengendap-endap di balik bayangan peti-peti, tong dan kapal, serta menghindari cahaya, mereka tiba di tempat kereta kuda berhenti, yaitu di dermaga yang paling ujung.

Mereka berdua berada cukup dekat untuk dapat mendengar pembicaraan, namun cukup jauh untuk tidak ketahuan. Beberapa orang turun dari kereta kuda. Orang yang besar tadi segera memerintahkan yang lainnya untuk menurunkan muatan. Seth memberi gestur untuk melihat peti-peti yang sedang diturunkan. Ia berkata kalau mereka persis dengan peti yang dilihatnya waktu itu, tanpa segel resmi.

Orang besar itu pergi sendirian pergi ke ujung dermaga, dan menyalakan sebuah lentera. Kemudian ia membuat sebuah isyarat dengan membuat cahayanya terputus-putus.

Tak lama setelah itu sebuah bayangan dari laut bergerak mendekati dermaga, yang ternyata sebuah kapal tongkang yang kecil, tanpa bendera ataupun tanda pengenal. Banyak orang di atasnya.




“Jadi begitu,” kata Seth lirih, “kapal itu telah membuang sauh di laut dan menunggu isyarat dinyalakan dalam gelap. Lalu mereka akan mendekat dan memuat kristal itu. Dan aku mengeri mengapa Herven begitu menentang proyekku, karena di pelabuhan inilah lokasi yang paling baik untuk penyelundup.”

“Karena dekat dengan Zen Avehsta, sehingga mudah diawasinya?”

“Bukan dengan Zen Aveshta, tapi dengan Arushkar. Di sana lah kristal ditambang, dan jaraknya hanya seratus dua puluh kilometer arah barat dari sini.”

Kapal itu berhenti di sisi dermaga. Orang-orang di atasnya meloncat turun dan membantu yang di darat mengangkat peti-peti. Tapi Ezar tidak melihat orang besar itu membantu mereka ke mana perginya? Ezar sempat melihat sekeliling, kalau-kalau ia memergoki mereka, tapi ia tidak ada. Mungkin ia pergi ke gerbang.

Selagi Seth dan Ezar memperhatikan bagaimana peti-peti dinaikkan ke kapal, terdengar lagi suara kereta kuda mendekat. Kereta itu lalu berhenti di samping kereta yang pertama. Darinya hanya satu orang yang turun, sambil mendekap sebuah buku catatan.

Seth tiba-tiba menggertakan giginya, kelihatan begitu marah dan terkejut karenanya. Ia tampak mengenali orang yang baru turun.

“Tak mungkin!” serunya lirih.

“Kau kenal dia?” tanya Ezar.




“Tentu saja. Ia Bregend, kepala komisi internal, orang yang menyelidiki tuduhan skandal penyelundupanku! Rupanya ia juga terlibat dalam penyelundupan ini!”

Ezarpun tak kalah terkejutnya dengan Seth, meski ia tidak mengenal siapa dia.

“Jadi ia kaki tangan Herven?”

“Kurasa begitu,” jawab Seth, masih terlihat gusar, “Aku merasa kalau Herven tidak mungkin akan turun tangan dalam melakukan penyelundupan, kalau ia mempunyai bawahan yang bisa disuruh, tapi aku tidak mengira Bregendlah orangnya. Sehari-hari ia terlihat begitu jujur dan terhormat.”

“Yah, ini membuktikan bahwa tak selamanya prasangka itu buruk, bukan?” kata Ezar menimpali.

“Ya, mari kita tunggu sebentar lagi, lalu kita segera pergi dari sini.”

Orang yang bernama Bregend nampak sedang berbicara dengan salah seorang anak buahnya, seorang pria kurus.

“Bagus, bagus,” ujarnya sambil menyeringai, “Tuan Sager pasti akan puas dengannya. Omong-omong mana Smert? Panggil dia kemari!”

Tapi belum juga si kurus berjalan jauh sesuai perintah Bregend, orang yang dimaksud sudah datang. Ia langsung menemui Bregend.

“Ada apa Smert?” tanya Bregend agak acuh, ia sedang menulis sesuatu di bukunya.

“Kita punya masalah,” lapornya. Ia diam sejenak, menunggu Bregend bereaksi.

Bregend mengerutkan keningnya.

Smert melanjutkan, “Aku rasa seseorang, atau lebih telah menyusup kemari.”

Mendengar Smert berkata demikian, Seth dan Ezar berpandang-pandangan sejenak sebelum mengatakan pelan, “Kita ketahuan...”

Bregend bereaksi dan murka. Dengan geram ia berkata, “Bagaimana bisa?!”

“Ada jejak lumpur di sisi pagar, dan masih baru.”

“Cari mereka! Suruh setiap orang menyisir pelabuhan ini!” teriaknya keras hingga semua orang dapat mendengar.




Smert membuka pintu kereta kuda pertama dan mengeluarkan sejumlah senapan dan pedang dari dalamnya. Ia membagi-bagikan kepada setiap orang dan mereka mulai bergerak untuk mencari penyusup.

Ezar menarik Seth. “Ayo,” katanya, “kita harus pergi dari sini!”

Mereka berdua berlari menembus gelapnya malam, di balik peti-peti sementara orang-orang itu berada di belakang mereka. Tanpa cahaya sama sekali yang menerangi, sungguh sulit untuk melihat di mana kaki mereka berpijak. Meski sudah berhati-hati, tetap saja mereka menabrak sebuah tong hingga terguling. Suara yang ditimbulkan menarik perhatian seorang penyelundup yang terdekat.

“Hei, kemari semua! Aku mendengar suara di sini!” katanya disambut dengan kedatangan teman-temannya. Ada yang membawa lentera, sehingga sosok Ezar dan Seth yang sedang berlari menimbulkan bayangan panjang yang mudah dikenali.

“Itu pernyusupnya!”

Keruan saja suara senapan menyalak membelah kesunyian malam. Ezar dan Seth terus saja berlari tanpa mempedulikan apakah mereka sedang ditembaki. Rasanya pelabuhan yang tidak begitu besar menjadi dua kali lipat luasnya, ketika kaki melangkah.

“Hati-hati kalian! Ia membawa senapan,” ujar Smert yang sempat melihat senapan yang digenggam Ezar. Bregend yang berada di belakangnya memerintahkan anak buahnya untuk lebih siaga.

Mendengar perintah demikian, para penyelundup tidak lagi terang-terangan menembak, mereka mengambil posisi yang sulit dilihat Ezar selagi terus menembaki mereka.




Sementara itu, Ezar sudah dapat melihat gerbang, tapi di situ sudah berdiri beberapa orang dengan senapan. Salah satunya penjaga yang tadinya tertidur, mungkin menjadi siaga karena mendengar letusan senapan.

Seth dan Ezar berhenti berlari. Mereka menunduk di balik peti, berharap tidak terlihat oleh mereka yang ada di gerbang. Tapi terlambat, penjaga itu sudah menyadari keberadaan mereka.

Sebelum mereka memuntahkan peluru, Seth dan Ezar sudah bersembunyi di belakang suatu peti besar. Di depan mereka, di gerbang, telah menanti beberapa orang, sedangkan di belakang suara-suara pengejar sudah semakin mendekat.

Ketika semua pengejar sudah mengepung keduanya, tak pelak lagi hujan peluru menerpa mereka. Sebisa mungkin Ezar dan Seth mencoba berlindung. Ezar bersandar di balik peti besar dari kayu. Di sebelahnya Seth duduk dengan terengah-engah, tangannya terus mengusap keringat, meski malam itu dingin sekali, karena angin terus menerpa pelabuhan kecil itu. 

“Kau tidak apa-apa Seth?” tanya Ezar agak khawatir.

“Ya, aku baik-baik saja...” jawab Seth pura-pura meyakinkan. “Cuma agak lelah. Kau tahu, sejak aku masuk dewan, aku tidak pernah lagi melatih diriku. Staminaku banyak melorot sejak aku seusiamu dulu,” ia meringis.

Dor!




Sekali lagi sebuah senapan menyalak dan pelurunya menerjang, bersarang di peti yang mereka sandari. Tak lama kemudian senapan-senapan yang lain ikut menyalak dan memuntahkan pelurunya.

“Kelihatannya peti ini tidak akan bertahan lama,” kata Ezar pada Seth. “Kita harus meloloskan diri.”

“Yah, terserah kau saja,” balas Seth sambil sedikit mengintip orang-orang yang menembak mereka. “Mereka berada di balik bangunan. Beberapa ada di atas peti. Apa kau bisa melihat me...”

Sebutir peluru nyaris mengenai kepala Seth. Beruntunglah itu hanya menghantam pinggiran peti. Seth secara refleks kembali bersembunyi di balik peti. Ia dapat merasakan jantungnya berdebar lebih kencang.

“Hampir saja,” ujarnya lega.

“Ya, nyaris saja,” komentar Ezar.

“Sekarang bagaimana?” tanya Seth agak panik. Ia sama sekali tidak melihat jalan keluar dari bahaya ini. Situasinya benar-benar gawat. Lebih dari sepuluh orang bersenjata sudah mengepung mereka.

Ezar hanya tersenyum.

“Kau punya ide?” ulang Seth.

“Kurasa ya. Begini, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Sementara itu kau carilah saat yang tepat ketika mereka semua mengerjarku, lalu berlarilah sekencang-kencangnya hingga sampai ke kuda. Aku akan menyusulmu kemudian,” jelas Ezar. “Kau mengerti Seth?”

“Bagaimana denganmu?”

“Percayalah padaku,” kata Ezar mantap.




Ezar keluar dari persembunyian dengan lincah, dan seketika itu pula tekanan angin seperti berubah. Sejenak ia tampak berkonsetrasi penuh, dan orang-orang yang tadinya menembaki tertegun sesaat, pertama karena mereka heran melihat seorang pemuda keluar terang-terangan di tengah hujan peluru, apalagi ketika mereka melihat aura aneh di sekujur tubuhnya, menyala-nyala seakan ia sedang dilahap oleh api yang berwarna ungu.

“Savr!” teriak Ezar, menggenggam erat senapannya pada popornya. Perlahan-lahan terbentuk suatu garis tipis di sekeliling senapan itu. Kemudian muncul warna keperakan yang menyelimuti, dan saat itu juga bentuk senapannya mulai berubah. Ujung larasnya menipis dan memanjang serta bagian popornya berubah seperti pangkal pedang. Tangan yang menggenggamnya bergetar dengan hebat. Tak lama kemudian senapan panjang itu telah berubah sepenuhnya menjadi pedang besar sepanjang satu setengah meter, dengan bilah yang sempurna.

Semua orang yang menyaksikan terpana, lebih-lebih Seth. Ia tidak menyangka akan apa yang telah terjadi. Ezar hanya maju dan tahu-tahu ia sudah memiliki sebilah pedang.




Sebelum semua sadar dari keheranannya, Ezar sudah bergerak maju, cepat sekali. Ia mengincar penyelundup yang bersembunyi di balik bangunan. Wajah-wajah penyelundup segera berubah terkejut saat mendapati seorang pemuda melesat ke arah mereka dengan pedang terhunus. Mereka yang sadar lalu membidikkan senapannya, tapi terlambat! Ezar lebih cepat dan menebas semua yang bersembunyi di sana.

Penyelundup yang lain tampak sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Ezar. Beberapa mulai maju untuk menghabisi Ezar. Smert juga ada di antara mereka, senapan di tangan kanan, golok di tangan kiri.

Tapi peluru yang ditembakkan dihindari Ezar dengan terus berlari zig-zag. Ia berkelit ke sana kemari sambil bersiap untuk menebas lawan. Dengan satu ayunan, para penyelundup itu terlempar ke belakang, dengan luka yang cukup serius.

Kini semuanya menjadi marah dan maju, tidak terkecuali mereka yang ada di gerbang. Sadar bukan waktunya untuk menyaksikan pertarungan itu, ketika Seth melihat gerbang ditinggalkan, ia merasa itulah kesempatan untuknya. Ia segera berlari menuju gerbang sekencang-kencangnya, sementara Ezar melawan penyelundup lainnya.




“Jangan takut! Ia hanya seorang anak kecil!” seru Smert saat melihat beberapa orang mulai mundur dan ragu-ragu.

Smert maju melawan Ezar, mengibaskan goloknya sekuat tenaga, tapi ia tidak menyangka reaksi lawannya. Dengan kedua tangan memegang pedang ia menahan serangan secara langsung, lalu dengan cepat ia mengayunkan pedangnya. Golok yang baru saja berdenting itu tergelincir dari tangan pemegangnya karena ayunan itu, sehingga Smert terhuyung ke samping. Di saat itulah Ezar menunduk sebentar dan menebaskan pedangnya tiga kali. Dua mengenai pinggangnya., satu mengenai perutnya. Smert roboh. Meski luka tidak dalam, Smert roboh juga.

Melihat pimpinannya roboh, penyelundup yang lain bergidik ketakutan. Lebih lagi Bregend yang melihat kejadian itu dari belakang. Ia menatap Ezar dengan pandangan yang aneh, ketakutan bercampur rasa kagum.

Ezar berdiri tidak begitu jauh dari Bregend. Lalu mendadak ia melihat sekitar dan berlalu. Ia melihat Seth sudah tidak ada dan mungkin sudah menuju kuda, maka ia pun segera mengubah kembali Savrnya dan berlari meninggalkan pelabuhan. Tapi karena itu ia tidak melihat apa yang dilakukan Bregend. Ia memungut senapan Smert yang terjatuh dan membidik pemuda yang berlari di kejauhan itu. Sejenak Ezar jari Bregend sudah hendak menekan picunya, namun ia mengurungkan niatnya. Ezar rupanya sudah terlalu jauh.

Suara Bregend yang marah-marah terdengar di belakang. Ia memerintahkan penyelundup sisanya untuk mengejar Ezar, bagaimana pun caranya.


***


Di lain pihak, Seth sudah mencapai tempat kuda-kuda sebelum Ezar melawan Smert. Ia tersengal-sengal, bertumpu pada lututnya. Ia menunggu kedatangan Ezar, namun ia tidak kunjung datang. Ia sedikit khawatir, dan bingung, apakah hendak pergi duluan dan mencari bantuan atau menunggunya 

Seth sudah berada di atas kuda dan hendak pergi manakala ia mendengar langkah terburu-buru. Tenyata Ezar, ia tidak tampak terluka. Seth agak lega melihatnya selamat.

Setelah Ezar naik kuda, mereka segera memacu tunggangan mereka sekencang-kencangnya.  Mereka keluar dari Lugo tanpa membuang-buang waktu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Seth, ia kagum melihat Ezar bertarung dengan banyak orang dan kembali tanpa tergores sedikitpun.

“Baik-baik saja, tapi lengan kiriku sempat terkena pisau. Tapi tidak parah,” jawab Ezar.

“Aku tidak habis pikir. Kekuatanmu, bagaimana caranya kau bisa tiba-tiba menggenggam pedang?” tanya Seth antusias.

“Yah, bisa dibilang itu kemampuanku sebagai user,” jawab Ezar, sembari menengok ke belakang, “tapi bukan waktunya untuk membicarakan hal itu. Mereka masih mengejar kita – lihat!”

Seth melongok ke belakang dan melihat beberapa kuda berlari di belakang mereka, dengan penunggang yang mengacung-acungkan senapan.

“Sial, bagaimana mungkin mereka mendapat kuda?”

“Pacu sekencang-kencangnya sampai Zen Aveshta!” teriak Ezar memberi ide.




Tapi Seth berpikir lain. “Tidak, kuda kita akan kelelahan bahkan sebelum kita mencapai Zen Aveshta. Lebih baik kita menyesatkan mereka. Dengar, di depan sana jalan akan bercabang. Kita akan berputar dan mengelabui mereka di daerah padang rumput di barat. Kita ke sana sejenak untuk memberi kesan kita tidak menuju Zen Aveshta.  Lekas, ikuti aku,” seru Seth.

Ia menarik kekang kudanya meninggalkan jalan untuk berbelok menuju barat, lalu memacu kudanya dalam kecepatan maksimum. Ezar mengikutinya tak jauh dari belakang.

Padang rumput yang dimaksud terbentang luas setelah percabangan, sama seperti padang rumput yang ditemui Ezar dulu ketika menuju Zen Aveshta. Tapi di sini rumputnya bahkan mencapai sedada orang dewasa. Juga ada beberapa karang-karang dan pepohonan yang tersaru. Pantas saja Seth mengatakan untuk pergi ke sana.

Sambil sesekali bertanya pada Ezar, apakah pengejar mereka masih di belakang atau tidak, Seth melajukan kudanya agak pelan membelah padang rumput itu. Ia sengaja membiarkan pengejarnya melihat ke mana mereka pergi.

Setelah berputar-putar dan pergi agak jauh ke barat, Seth mengambil tindakan. Ia mengambil manuver untuk kembali kencang dan meninggalkan pengejarnya di belakang. Rumput yang tinggi membantu pelarian mereka. Lalu di balik sebuah karang yang besar, Seth melajukan kudanya perlahan supaya tidak menyibak rumput.

“Ezar ikuti aku kembali ke timur,” bisiknya sambil tersenyum puas.

Tanpa suara mereka meninggalkan padang rumput. Terakhir Ezar melihat, para pengejar itu terlihat kebingungan, terbukti dari suara mereka yang berteriak-teriak, bertanya-tanya ke mana buruan mereka. Mau tidak mau Ezar kagum dengan strategi Seth.


 


Pukul dua dini hari mereka tiba kembali di Zen Aveshta. Di perjalanan mereka sempat berbicara sejenak, apakah identitas mereka ketahuan atau tidak.

“Apa kau yakin mereka tidak mengetahui siapa diriku? Jika mereka tahu tentu tidak akan aman untuk kembali ke rumahku,” tanya Seth agak sangsi.

“Yakin seyakin-yakinnya. Kau mengenakan jubah panjang, dan sama sekali tidak terlihat oleh mereka. Kita akan aman di rumahmu. Lain halnya dengan aku. Bregend telah melihatku saat aku merobohkan Smert,” jawab Ezar.

“Kau merobohkan Smert?” ulang Seth hampir tidak percaya.

Di Zen Aveshta mereka pun masih harus berhati-hati, supaya tidak menarik perhatian, sebelum akhirnya mereka tiba di kawasan perumahan. Sedikit lagi mereka tiba di rumah Seth.


***



Komennya sangat diharapkan loh kawan2 =D

The Circle - Chapter 2: The Market and The Counselor (Eng)
Rhea
[info]carthegian
Here goes chapter 2 in English, the last chapter translated in English. I didn't have time to finish translating chapter 3.

THE MARKET AND THE COUNSELOR



The very morning Ezar went to the market district to buy some supplies before continuing his journey. He had thought he went too early, but apparently the place was already opened. There were not much people though, but some shops and merchant kiosks had opened up their sells since daybreak. That was because the market opened almost twenty four hours a day. The peak of the business was at the afternoon, where hundreds of people would gather around in the market, which was actually not that large, negotiating and transacting. Although it was busy, it was not as big as the main market of Zen Avehsta, that locals called it the Bazaar, because that was where the international trading commerce was held. Merchants from outside the country usually came with tons of merchandises and went home empty handed, since the citizens would buy out everything. This was due to enormous income per capital of Monastir so that people were capable of spending their money without worrying too much.

Even so famous, the market itself was not located in square, but was like desolated part of the city filled with alleys in throughout. When Ezar walked on one of the alleys, it was lone and looked as if slum by the piles of garbage that reeked badly. He felt sick of the sight, fastened his way out.  He was about to pass by the alley when someone hit him in sudden, hard.

The collision was so hard and unexpected, it made Ezar and that someone shot away. Ezar groaned. His hand was scratched when he hit the street stones. When he rose, he saw a man sitting in front of him. He was pale and nervous, as if he had experienced unthinkable fear, but it seemed he tried his best to overcome the fear and hide his expression. Nevertheless he was coated in long robe that covered his entire physical build.

“Sir,” he said addressing Ezar, in a hasty, shaky voice. Then out of the blue he continued, “You have to help me!”

“What?”

“Listen, help me! They are after me! If I ever get caught, heaven knows what would happen.”

“Calm down. Who, who are after you?” asked Ezar in confusion. This man looked like a common vagrant, but from his well-behaved manner of speech, still using polite addressing in such a situation, clearly stated that he was not one.

“No, please don’t ask now. They’ll be here soon,” jostled him full of anxiety.

“Alright, so what can I do?”

“I’ll hide there,” said the man pointing to a large junk heap in a corner, “then if they come and ask you where I’ve gone, just pretend you saw me running elsewhere to deceive them. Can you, Sir?”

Before Ezar had a chance to reply, the man had run hastily, plunging himself to the junk heap he was pointing to. Not long afterwards, he heard people shouting, “Hey, he came this way!”

“Get him quick. Don’t let him get away!”

A group of six grim looking men with arms came in sonorous hustle. Their eyes wildly scoured the vicinity, and when desperately failed to find signs of the man they were chasing, they yelled furiously. One of the chasers, hard built and carrying a huge blade in his right arm saw Ezar.

“Hey, you, have you seen someone suspicious running this way?” asked him brusquely.

“Is he wearing a robe?” replied Ezar calmly.

“Yeah.”

“And looked so terrified?”

“Definitely.”

“He went that way,” answered Ezar pointing to a labyrinth like alley.

“Great!” roared the man, trusting easily. He told his fellows, “He went that way.” With the same hustle from which they produced upon their arrival, the six men left in hurry.

After they were not seen anymore, Ezar approached the heap and called the man inside. “Come out, they have left.”

“For real?” There was unclear mumble from inside the heap.

“Yes, trust me.”

The man came out from the heap slowly while staying on guard, looking here and there in case his chasers came back to that place again. Ezar observed him carefully. He was more relaxed now, and when he shifted his robe, his figure came to reveal. Estimated he was more less thirty, though looked still young. His face was dashing, and he had sharp, blue yet friendly eyes.

“Do you mind if we leave this place first before saying or asking something. They might come back again if they found they have been had,” requested him. Ezar had no objection and he followed the man went into a place in the outskirt of the market, going into a narrow alley where no one could listen to their conversation.

“Now,” said the man politely, “allow me to express my gratitude, Master...”

“Ezar.”

“Yes, Master Ezar, it was because your help I am saved.”

“Can you tell me why they were after you?” asked Ezar curiously.

For some moment the man silenced, as if thinking.

“Yes, apparently they chased me because I caught them red-handed while stealing.”

“And that is why they chased you?”

“Precisely. Let say I was walking in the vicinity then inpurposely I saw their doing. To be short they noticed me and therefore they wanted to eliminate the witness.”

“And they want to eliminate you just like that, in the market?”

The man frowned a little. “Then you are not from here,” he said strictly.

“Yes indeed I’m not from here. But what does that have to do with?”

“I see. The connection is close and firm regarding this matter, Master Ezar. Zen Aveshta is not as safe as you think it is. The very reason they have the guts to do so is the market itself.”

“The market?” repeated Ezar, not able to understand.

“Yes, the market. For your information, the market district holds the highest crime rate throughout the city. Many crimes take place there. A common people could be robbed and injured, especially when there’s barely someone there.”

“But are there not guards?”

The man smiled in cynical. “Unfortunately, they were the guards.”

“Come on...” Ezar could not believe what he had heard. “So who were actually guilty?”

“Let us not prejudice first, Master. Wrong or not, you have made the decision to help me, not the other way around, and for that I am in your debt. And furthermore, not every suspect is really guilty until they are proven so...” smiled the man sympathetically.

“Then Sir, could I ask you something?”

“Yes, go on.”

“I was a bit confused with you. You said you were chased by the guards who were stealing. Now for common sense it is hard to perceive. You also said ‘let say’, which can be interpreted this way, you did not tell the full truth of the story. So in that way, it could be really you that is actually guilty. But what bothers me the most is yourself.”

“Me?” asked the man surprised. But he showed interest in his identity being blown and nevertheless just listened.

“Well,” continued Ezar, “you do not speak like a common vagrant would do, or even criminals. You were so nervous and terrified back then, but when you were no longer in danger, you could gain control over yourself in such a short amount of time, a thing that a normal person finds difficult to do. In short, you are not an ordinary person.”

The man applause. His expression was mixed of amaze and admiration.

“I would not have predicted, Master Ezar, congratulations,” he said amiably. “Everything you said was almost true. I was impressed.”

“Then who are you actually?” asked Ezar seriously.

“I was suspicious with you before, but upon hearing you spoke, now I have no doubt anymore. It would not harm me to make acquaintance with such bright young lad like yourself. Allow me to introduce myself, my name is Seth J. Goffer,” he said, stretching his right arm to shake hands.


Seth J. Goffer. A name Ezar had heard before, or maybe seen somewhere. Then he was thunderstruck. Seth J. Goffer was one of the five counselors of Council of Monastir, the highest and supreme power in the lower lands of Monastir. The power that controlled one of the most prosperous nations. And now one of them was standing in front of him, in such improper outfit for him,  smeared in dirty waters he obtained when he was hiding, reek with foul smell and yet at the same time he was smiling elegantly.

“You are Lord Master Seth J. Goffer...” said Ezar repeating the name. Automatically he bowed down greeted him, “Sesh na hola...

Seth moved forward and held his bow.

Sesh na hola, no need to bow to me,” he said. “And no need also to call me with all the title and formal polite addressing. Just greet me casually.”

Ezar was bewildered. This was the first time someone of higher status would inhibit lower ranked people to address him formally. But if that was his wish, then he would have to submit.

“As you wish, Sir.”

“Excellent,” said Seth looked satisfied. “Now, forgive me for making such request to you, but I think now is not the right time to talk further. Those men were chasing me for some dangerous reason. I know that a lad your age would have many questions regarding this bizarre incident, but I have to decline that. I tell you what, since I haven’t had the time to express my gratitude, then I’ll invite you to visit my resident. Maybe we can talk more freely there.” He took a piece of paper and a pen from his robe, then wrote an address. “Here, come over to the address. But remember, come at night. It is better for our won safety.”

Ezar received the address, though he still had a lot of questions inside. He felt that Seth told him the truth and it would be unwise to do the otherwise.  

“Good lad,” the counselor said. “Save your queries for later, for I must go right now.” He tightened his robe and left the alley. “I presume we will see each other again later.”

In hurry he quickly disappeared.


Now Ezar was stumbled with the event he had just experienced. Quite extraordinary, he thought, how could a counselor be in a humble place like that, let alone unguarded and in disguise. That and mixed with the truth that some people were after him, it was pretty unbelievable. This spoiled Ezar’s common sense.

As he went out of the alley, he noticed now the market had gotten crowded. People had started their daily activities. He instantly shivered upon remembering the fact that the market was not safe after all, a fact that the honorable counselor had told him. Everything was clouded for him, but a single ray of light uncovered the veil when he was walking down Anthiokh IV, hearing an old newspaper deliveryman shouted loudly, selling his papers amongst the crowd.

“Come on and buy here! The latest news about the turmoil in the council! The counselor Seth J. Goffer is about to be impeached!”

That was the cue for Ezar to stop and buy a newspaper.

“I buy one!” he said, giving the old man five sesterces. He read it quickly:


COUNSELOR SUSPECTED FOR SMUGGLE

Government crisis is at hand


In accordance to suspension note issued by the Council of Monastir against one of the counselor, the youngest Seth J. Goffer on last Tuesday, 17th of June, the Council stated that it would effectively be in effect starting today, 19th of June year 99 Post Parabellum to indefinite amount of time until the investigation is carried to completion. The note was approved by three member of the Council last night, after series of debate and argument.

Seth J. Goffer, 29 years old, was accused to have been involved in an affair of energy crystal smuggling revealed by internal source. The affair was pronounced after the discovery of illegal crystal shipment delivery from Arushkar to country of Amavisca, with the official seal of Seth J. Goffer marked imprint. The shipped energy crystals are estimated to be of value around 150 million sesterces, in details 90 million value  of type B energy crystal and the rest are of type A. The authority, the Council Internal Commission is currently investigating the case.  

Meanwhile, facing the accusation, Seth has pleaded not guilty to the affair involvement, when interviewed in his resident last afternoon.

The happening crisis inside the council has caused the suspension of a new design of bill and the approval of new large scale project in Lugo. Further speculation about Seth’s impeachment would stir instability within government.

Read ‘Disrupted Stability’ in page two for more.



Ezar could not believe what he read. “Is this the actual?” He tapped the old man’s shoulder, who was still shouting out loud selling his papers.

“Accurate as written!” the old man answered confidently.

“But it seems impossible,” argued Ezar.

The deliveryman smiled, then spoke almost like whispering.

“Son, that’s what I think too,” said him. “Lord Master Goffer is a man of honor. He is trustful, and we all in the city support him. He can’t be doing the things he is accused for. Usually the news would exaggerate something like this. But even so...”

“Even so what?” Ezar asked impatiently.

“His position in the council will fall due to the scandal. And if this keeps happening, then we, commoners, will lose a figure that cares about us. Most unfortunate...”

As the deliveryman continued to walk around the passer-byes and convince them to buy papers, Ezar was struck by the profound matter. It was hilariously curious so that he forgot that originally he planned to leave the city that very day. He had to meet him again, he thought. Tonight he would go there and find out the truth.



Ezar had not expected that the resident of Seth would be so humble. He imagined it would be big, more luxurious, and heavily guarded. But it was not. The resident, which was located in the southern part of city, was just like other ordinary residencies. He saw no one guarding the gate. He walked in and closed the gate just like he owned the place.

The house was two storied, but it did not depict luxury at all. It was built in the original architectural style of Monastir. No windows on the first floor. The wall was not even painted, so the color would be the natural shades of the stones, as the building materials. The yard was spacious, and the garden was well taken care of, though there were only a few of plants. He had the impression that the house was made unimpressive in purpose.

He rang the bell on the door. A moment later it was opened and an old lady came out. She put unfriendly face as he saw Ezar.

“What do you want?” asked her sharply.

“I’m here to see Master Goffer. Would you let me meet him?” he said as polite as he could.  

“What for?” Her tone was full of suspicion.

“I was invited by him. My name is Ezar,” answered Ezar hesitantly.

“Oh, so is that. Come in,” said her, pulling his inside. Before closing the door she looked outside carefully, as if searching for someone hiding beyond the fences.

“Put the gun on the shelf, if you please. I guarantee it will remain safe,” she said persuasively. Ezar had no choice but to trust her. After he put the gun, she said again, while walking through a long hallway. “Come, follow me. Master Goffer waits for you in the study.”

He followed her. Through the hallway he could see the inside of the house. In opposite to its humble outside, the interior befitted Seth’s status as a counselor. There were valuables; comfortable and high valued furniture, beautiful paintings decorated the wall. A nice way, he thought. He once read about a house which the outer was made unimpressive to protect the valuables inside, just like this very house.

On the second floor, the lady opened a door next to the stair, and let him in. She then left immediately.

In the study full of bookshelves sat Seth behind a massive wooden desk. And as soon as he saw Ezar he stood and greeted him warm.

“Ah here comes the young man, my savior,” he said friendly. “Come, take a seat.”

“Thank you.”

“What would you like for a drink? There’s lime and soda,” offered Seth, taking a bottle and a glass from the glass shelf. “Not cold I’m afraid, since my cooler is broken.”

“It’s alright. Lime will do just fine,” answered Ezar. He felt uneasy seeing Seth served him like that. “No need to strain a gnat.”

“So, you come to my humble cottage,” he said handing a glass of lime. “But forgive me if Flora, my housemaid acted a bit rude to you. She would have thought you are someone ill-minded. She’s always like that, even though she has been with me all along.”

“Had you tell her my coming? Because she understands when I say my name?”

“Of course. I’ve predicted you’d fulfill my invitation. So, is there something you want to ask?”

“Yes, a lot. So many questions cross my mind. About the morning incident, and about you mostly, Sir...”

“Please, just call me Seth,” cut the counselor.

“I understand. I just heard the news about your impeachment plan from the council due to some smuggling affair accusation. Is that true?”

Seth did not answer directly. He walked around on a beautiful carpet, leaving Ezar knocking his finger in silence, anxious that he had said wrong and offended him. But then Seth spoke.

“What do you wish to know? I have no intention to talk about this with you, someone who’s not even Monastirian. But I don’t know why, I feel I could trust you. Well, then I can tell what you want to know.”

Ezar was relieved. “Thank you. You can start with this morning incident. What were actually you were doing there? Surely the chasers didn’t know who you are, correct?”

“No, I was in disguise, and I’m sure they didn’t recognize me. Listen, not every guard has a straight mind. And the guards I met were shoving bags of energy crystal into chests. Lots of crystals.”

“Thievery?” hissed Ezar. “Or smuggle?”

“The last one is more appropriate,” said Seth sourly. “I saw them covered the chest and put it into a carriage. I didn’t see any seal that warrants an official shipment. I suppose it was illegal. But alas, just when I was that close to find out more, I got tripped and they saw me. You know the rest of the story.”

“I see. And about you being there, surely it was not coincidentally...”

“Of course not. I had been tipped off thus I came investigating. If you had read the news then you know that right now I’m accused in smuggling. The truth is I’m set up. They found documents with my signature, which I doubt ever had signed anything without me knowing.” He took a piece of newspaper from a shelf. He gave it to Ezar.

“Read it.”


ILLEGAL DOCUMENTS WERE FOUND IN THE OFFICE OF A COUNSELOR


Yesterday noon, 17th of June, were found documents of illegal energy crystal shipment in the office of Seth J. Goffer, one of the counselors of Council of Monastir, during his absence of official visit to Merheilen. The search was instigated officially by the Council Internal Commission, following unquestionable information from inside source, and has produced exact result, as the head of internal commission spoke in an interview in the evening.

“The internal commission is currently investigating based on trustful information. We will handle the case further,” said Hilan Herusfu, head of the Council Internal Commission.

The discovery is said to have shocked the other counselors, because they have no knowledge whatsoever regarding the matter. The Council, initiated by Herven Sager, then reacted quickly by issuing a suspension note against Seth for investigation importance. However the note would take effect after the rest of the remaining counselors stated their agreement.  

“They didn’t arrest me because of the principle of not guilty prejudice and my status as a counselor, of course. After the hearing, they let me go free until I’m called for another hearing.”

“You were tried by the Council itself? In a special hearing?”

“Yes.” He was now leaning to his study desk.  

“Then if you say you were set up, do you know by the slightest idea who might have done that?”

“I’ve put much thought about it. It was Herven who did that.”

“Herven? He is also one of the counselors. Why would he do that?” Ezar seemed to doubt.

“Newspaper today also told you that the affair has caused the approval of a project in Lugo being suspended, correct? Nah, the project was my idea. To build a new huge harbor in the small town of Lugo to replace the old harbor in Merheilen that seemingly to get shallower every year and costs more and more. Herven was against it strongly. But the other counselors were for the project. After the project went through the council inspection, he looked very angry. Maybe he held grudge against me since then. And more to say, I lost one of my seals. That alone is enough proof to deceive the council.”

“Then you try to investigate it,” continued Ezar. Now he began to understand the pieces of the mystery. “But he won’t frame you just because of that little disagreement. It must be for another reason. Is it possible that it’s deeply connected to the smuggling?”

“Exactly. You’re really a smart one,” said Seth trying to smile. “My guess before is that Herven had something of importance in Lugo that made him against the project so adamant. Then I came to conclusion that he himself is the mastermind of smuggle. That fact is then strengthened when I found out that the carriage loaded with the crystals was bound to Lugo. It may happen.”

He paused awhile.

“As far as I’m concerned, I have long observed his nature. He is slick and arrogant. Even though we are fellow counselor of the council, I don’t trust him at all. I figure he realize that. He had been disliking me since I joined the council, then especially when the project spread. He might feel as if were defeated.”

Ezar sipped his lime. “But aren’t you a counselor? You could have send someone to blow his cover. You don’t have to do it yourself.”

“Ah, that very thought crossed my mind once,” he smiled thinly then his face changed serious again. “But I remove the thought for two reasons: I don’t trust anyone at the moment, and even if I have someone trusted, surely he would be dragged into this dirty matter. Of course I don’t want that happened. No one shall suffer in my stead.”

“Even though many support you? Who believe you’re innocent?”

Seth shook his head firmly. He straightened himself, walking around then finally sat on the huge chair behind the desk. He drew a long breath. “I would fight back. But it is very difficult to prove my assumption. Those documents have become a dead weight that stopped my movements. My words that I have lost the seal would not change anything either.”

“No, it’s not true. If we can find evidences that prove otherwise, surely you can get to clear your name out of accusation. Maybe we can find something in Lugo,” assured Ezar.

Seth rose from the chair.

“We? What do you mean? Of course I can’t involve you in this!”

“Not really. Since I helped you this morning, it was since then I came into the matter. And after hearing your story, I have decided. I will help you Seth,” he said calmly.   

“It will be dangerous. I don’t want to involve you,” protested Seth, softly. His eyes were firm in saying this.

“I think it will be dangerous for you. If you were set up, of course they who did that would try their best to make their goal accomplished. Until you are impeached, or worse, to get rid of you forever...”

Seth was still hesitant. “It may be true, but still...”

“My presence would be useful. Even if I’m not from here, I can pretend to, they could never tell the difference. And most importantly, I’m a user.”

“You are user?”

“Yes, and that means I can help you, if anything happens. I know I may not look like it, but I’m a pretty decent fighter. After all, I feel that Omni should be used for good cause, and it’ll be done by helping you,” explained him.

“I have to admit you amazed me, Ezar,” said Seth. “First you impressed me with your elaborate rational and now you tell me that you’re user. Truly a rare ability.”

The young man just smiled.

“Still...”

“You’re still doubting me? Even if your own life is at stake?” Ezar tried to persuade the counselor, who was still firmly reluctant.

“This is my life we’re talking here, not yours--”

“I promise I won’t do anything reckless,” said Ezar convincingly. His eyes were set and fiery, his face was never seen this serious before. “So how about it?”

Eventually Seth gave up to his determination. “Alright then, I really appreciate your help,” said him, seemed concerned about involving a young man into his trouble, but Ezar felt that he was truly appreciative having someone to help him turn the table.

“My, time sure has passed quickly,” said Seth when he found out the time, by looking into a large clock above the door. “We talked long enough. I tell you my plan. I’m going to buy more time from the council before my next hearing, and in the meantime I can find more information about Lugo. But it might take a while, so why don’t you stay here and be my guest. Is it fine with you?”

“Sure.”

“Then it’s settled,” said Seth, ending the conversation.



***


The Circle - Chapter 2: Pasar dan Anggota Dewan (Ind)
Ezar
[info]carthegian
This is the chapter 2 in Indonesian.

PASAR DAN ANGGOTA DEWAN


 



Paginya Ezar sengaja pergi ke distrik pasar, untuk membeli bekal sebelum ia melanjutkan perjalanan. Tempat itu begitu sepi di pagi hari, namun begitu beberapa orang sudah berjualan sejak matahari belum terbit. Pasar itu buka hampir dua puluh empat jam. Puncak penjualan adalah saat sore, di mana ribuan orang akan berkumpul di tempat yang tidak begitu luas itu, saling menawar dan bertransaksi. Tapi pasar itu tidaklah sebesar pasar utama Zen Aveshta yang lazim dipanggil penduduk setempat sebagai bazar, karena di situlah perdagangan antar negara terjadi. Pedagang dari luar negeri membawa barang-barangnya dan dengan antusias masyarakat akan membelinya hingga habis, mengingat pendapatan per kapita negeri Monastir bisa dibilang besar.

Tapi pasar yang ini kumuh dan penuh oleh lorong yang berkelok-kelok. Ezar berjalan di sebuah lorong yang sepi di suatu sudut pasar, kotor oleh sampah yang tampak menggunung dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Ia baru akan keluar dari lorong itu ketika seseorang menabraknya tiba-tiba.

Bruk!

Tabrakan yang begitu keras hingga Ezar dan orang itu terpelanting. Ezar mengaduh kesakitan. Tangannya lecet tergores batu jalanan saat ia terjatuh. Dan begitu ia hendak bangun, ia melihat seorang lelaki berperawakan hampir sama terduduk di hadapannya. Wajahnya pucat dan ia tampak begitu gelisah, seakan ia mengalami ketakutan yang tak terperi. Namun begitu ia berusaha keras menyembunyikan air mukanya. Pakaiannya tertutup jubah besar yang digunakan untuk menyamarkan diri.

“Tuan,” katanya memanggil Ezar, dan suaranya. “Anda harus membantu saya!”

“Apa?” Ezar gelagapan.

“Dengar, tolonglah saya! Mereka mengejar saya! Jika tertangkap, entah apa yang akan terjadi!”

“Siapa, siapa yang mengejar Anda?” tanya Ezar bingung. Orang ini kelihatan seperti seorang gelandangan biasa, tapi dari tutur katanya yang terpelihara, masih menggunakan sapaan sopan meskipun dalam keadaan seperti itu menyatakan bukan, dan Ezar menyadarinya segera..

“Tidak, jangan pertanyakan hal itu sekarang. Mereka akan tiba di sini beberapa saat lagi,” desaknya khawatir.

“Baiklah, apa yang bisa aku lakukan?”

“Saya akan bersembunyi di sana,” kata orang itu sambil menunjuk sebuah tempat sampah yang besar, “lalu ketika orang-orang itu menanyakan ke mana saya pergi, katakan ke mana saja untuk mengelabui mereka. Bisakah Tuan?”

Sebelum Ezar sempat mengiyakan, pria itu sudah berlari secepat mungkin, meloncat ke dalam tempat sampah dan terjerembab di dalamnya.

Tak lama kemudian terdengar suara orang-orang berteriak, “Hei, ia lewat sini!”

“Tangkap ia segera! Jangan biarkan lolos!”

Orang-orang yang dimaksud sudah tiba, ribut sekali. Mereka orang-orang yang berwajah sangar dan keenam-enamnya membawa senjata.

Salah satu pengejar, berbadan tegap dan membawa sebilah golok di tangan kanannya mendekati Ezar dan bertanya kepadanya.

“Hei, kau, apakah kau lihat seseorang yang mencurigakan lari lewat sini?” tanyanya kasar.

“Apakah ia mengenakan jubah?” tanya Ezar

“Ya, betul.”

“Dan terlihat begitu ketakutan?”

“Ya, betul sekali.”

“Ia pergi lewat sana,” jawab Ezar sambil menunjukkan satu ruas jalanan yang berliku-liku.

“Begitu, bagus!” geramnya percaya begitu saja. Ia lalu memberitahu rekan-rekannya. “Hei, ia ke arah sana!”

Dengan keributan yang sama yang ditimbulkannya ketika datang, keenam orang itu pun pergi dengan tergesa-gesa.

Setelah mereka tidak terlihat lagi, Ezar mendekati tempat sampah dan memanggil orang yang bersembunyi di dalamnya.

“Keluarlah, mereka sudah pergi.”

“Benarkah?” terdengar gumam tak jelas dari balik tumpukan sampah.

“Ya, percayalah.”

Orang itu keluar dari tempat sampah perlahan-lahan sambil celingak-celinguk, kalau-kalau pengejarnya kembali lagi ke tempat itu. Ezar mengamatinya dalam-dalam. Terlihat kini ia lebih rileks, dan ketika ia menyibakkan jubahnya, terlihat siapa ia. Umurnya diperkirakan tiga puluhan, tapi ia nampak lebih muda dari usianya. Wajahnya tampan, dan ia memiliki mata yang tajam sekaligus ramah.

“Keberatankah bila Tuan berbicara di dalam gang saja. Mungkin saja mereka kembali lagi,” pintanya sambil mengajak Ezar masuk ke dalam sebuah gang sempit di mana tak seorang pun dapat mendengar apa yang mereka beicarakan.

“Nah, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Tuan…”

“Ezar.”

“Ya, Tuan Ezar, berkat Anda saya selamat.”

“Eh, bisakah Anda beritahu mengapa mereka mengejar Anda?” tanya Ezar penasaran.

Sejenak si lelaki diam, seakan berpikir.

“Yah, mereka mengejarku karena saya memergoki mereka sedang mencuri.”

“Dan karena itu mereka mengejar Anda?”

“Ya, tepat. Anggap saja saya sedang berjalan-jalan dan tanpa sengaja melihat perbuatan mereka. Singkat kata mereka memergokiku dan marah bukan main. Lalu mereka hendak menghilangkan aku supaya tidak ada saksi.”

“Dan mereka ingin melenyapkan Anda begitu saja, di pasar seperti ini?”

Wajah orang itu sedikit menajam. “Rupanya Anda bukan orang sini,” katanya tegas.

“Memang betul saya bukan orang sini, saya datang dari jauh ke sini. Tapi apa hubungannya?”

“Hmm begitu. Hubungannya dengan masalah ini sangatlah erat, Tuan Ezar. Zen Aveshta tidaklah seaman yang Anda kira. Justru alasan mereka berani berbuat begitu adalah tempat ini.”

“Tempat ini?” ulang Ezar tidak mengerti.

“Ya, pasar ini. Sekedar informasi, tempat ini memiliki angka kriminalitas yang sangat tinggi. Banyak kejahatan yang terjadi di lingkungan ini. Orang bisa saja dirampok atau bahkan terluka, terutama ketika waktu sepi seperti ini.”

“Tetapi tidakkah ada penjaga yang mengawasi?”

“Justru mereka itulah penjaganya,” jawab pria itu tersenyum kecut.

“Yang benar...” Ezar seakan tidak percaya. “Jadi siapa yang sebenarnya bersalah?”

“Janganlah berprasanka dahulu, Tuan. Salah atau tidak, Anda sudah membuat keputusan untuk menolong saya, dan tidak sebaliknya. Saya berterima kasih karenanya. Lagipula, tidak semua tersangka itu benar-benar bersalah...” pria itu tersenyum simpatik padanya.

“Boleh saya bertanya?”

“Ya, silakan.”

“Sedari tadi saya agak bingung dengan Anda. Anda dikejar oleh penjaga-penjaga yang Anda katakan mencuri. Anda juga mengatakan ‘anggap saja’, yang bisa diartikan bisa saja yang Anda katakan tidak benar, sehingga Anda yang sebenarnya bersalah. Lalu yang paling mengganggu pikiran saya adalah Anda sendiri.”

“Saya?” tanya pria itu tidak mengerti. Tapi wajahnya menunjukkan ketertarikan terhadap pembongkaran identitasnya.

“Tutur kata Anda tidak seperti layaknya gelandangan atau kriminal. Anda juga terlihat begitu takut tadi sampai sampai suara Anda bergetar. Namun ketika yang mengejar sudah pergi, Anda dapat kembali menguasai diri dalam waktu yang singkat, yang sulit dilakukan orang biasa.”

Si lelaki bertepuk tangan. Wajahnya terlihat heran dicampur kagum.

“Saya tidak menyangka, Tuan Ezar, selamat,” katanya ramah. “Semua yang Anda katakan itu hampir benar. Saya kagum dibuatnya.”

“Lalu siapa Anda sebenarnya?” tanya Ezar serius.

“Tadinya saya merasa curiga kepada Anda, tapi mendengar Anda berbicara saya kini yakin dengan siapa Anda. Tentunya saya tidak akan rugi berkenalan dengan pemuda seperti Anda. Perkenalkan, saya Seth J. Goffer,” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya.


Seth J. Goffer. Nama yang rasanya pernah didengar Ezar. Nama itu seperti pernah dilihatnya, entah di mana. Lalu mendadak ia seperti tersambar petir. Seth J. Goffer adalah salah satu dari lima Dewan Monastir, kekuasaan tertinggi di dataran rendah Monastir. Kekuatan yang mengendalikan salah satu negeri termakmur. Dan kini salah satu petinggi sedang berdiri tepat di depannya, dalam pakaian yang sama sekali tidak pantas baginya, berlumuran air kotor yang didapatkannya ketika bersembunyi di tempat sampah sehingga tubuhnya berbau tidak sedap dan secara elegan tersenyum kepadanya.

“Anda Seth J. Goffer…” kata Ezar mengulang namanya. Tak urung ia menjadi segan karenanya. Ia sudah hendak membungkuk memberi hormat. “Sesh na hola…”

Seth maju dan menahannya bungkuk.

Sesh na hola, ayolah tak usah membungkuk kepadaku,” katanya. “Juga jangan sekali kali memanggilku dengan sebutan sopan dan segala kehormatan itu. Sapa saja aku seperti biasa.“

Ezar menuruti kemauannya. Ia sudah hendak berbicara lagi, tapi Seth menghentikannya segera.

“Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara. Orang-orang tadi mengejarku untuk suatu alasan. Saya tahu pasti pemuda seusiamu akan banyak bertanya karena keingintahuannya, tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku sungguh menyesal. Begini saja, karena aku belum sempat mengekspresikan rasa terima kasihku, maka kuundang kau untuk mengunjungi rumahku. Mungkin kita akan bisa bicara lebih bebas di sana.” Ia mengambil secarik kertas dan sebuah pena dari balik jubahnya, lalu menuliskan alamatnya, “Ini, pergilah kemari. Tapi ingat, datanglah malam hari. Itu lebih baik demi keselamatan kita.”

Ezar menerima alamat Seth dengan senang hati, namun ia masih merasa bingung.

“Keselamatan kita? Bukankah...”

“Sudahlah, simpan dulu pertanyaanmu, aku harus pergi sekarang,” sambil berkata Seth mengenakan kembali jubahnya dan keluar dari gang. “Sampai bertemu lagi.”

Dengan tergesa-gesa Seth meninggalkan Ezar hingga hilang dari pandangan.

Kini Ezar termenung akan kejadian yang menimpanya. Sungguh aneh, pikirnya, bagaimana mungkin seorang Dewan Monastir berada di tempat seperti ini, menyamar lagi. Ditambah dengan orang-orang yang mengejarnya, yang kata Seth mereka punya alasan tertentu.

Semakin Ezar berpikir, semakin kacau nalarnya. Ia keluar dari area pasar sambil memperhatikan bahwa kini tempat itu semakin ramai. Orang-orang sudah mulai memulai aktivitasnya.

Ketika ia berjalan di Anthiokia IV, seorang loper surat kabar yang sudah tua berteriak dengan lantang menjajakan surat kabar.

“Ayo belilah! Kabar terbaru tentang kisruh di Dewan Monastir, anggota dewan Seth J. Goffer akan segera diberhentikan!”

Mendengar nama Seth disebut, rasa penasaran Ezar menyuruh dirinya untuk membeli surat kabar itu.

“Aku beli satu!” kata Ezar sambil menyerahkan uang lima sesterce.

Ia segera membaca surat kabar itu yang berbunyi begini:


ANGGOTA DEWAN MONASTIR DITUDUH MELAKUKAN PENYELUNDUPAN

Krisis pemerintahan di depan mata


Menyusul nota suspensi yang dikeluarkan Dewan Monastir terhadap salah satu anggota dewan tersebut, yang termuda Seth J. Goffer pada Selasa, 17 Juni lalu Dewan Monastir menyatakan nota itu berlaku mulai hari ini, 19 Juni tahun 99 Post Parabellum, hingga waktu yang tidak terbatas sampai investigasi selesai dilakukan, setelah tiga anggota dewan menyetujui nota tersebut.

Seth J. Goffer, 33 tahun, dituduh terlibat skandal penyelundupan kristal energi yang terungkap oleh anggota Dewan Monastir lainnya, Herven Sager. Skandal ini tercium dengan ditemukannya dokumen-dokumen pengiriman kristal energi illegal dari Arushkar ke negara Amavisca dengan stempel Seth tercantum di dalamnya, yang mengacu pada penyelundupan. Kristal energi yang dikirimkan diperkirakan bernilai total 15 juta sesterce, dengan rincian 9 juta berbentuk kristal energi tipe B dan sisanya kristal energi tipe A. Pihak yang berwenang hingga saat ini masih mengusut kasus penyelundupan ini.

Sementara itu, menghadapi tuduhan yang dijatuhkan padanya, Seth menyatakan bahwa ia tidak bersalah dan tidak terlibat dalam penyelundupan apapun, ketika ditemui di rumahnya kemarin sore.

Krisis yang terjadi dalam tubuh Dewan Monastir ini telah menyebabkan tertundanya rancangan undang-undang yang baru dan persetujuan proyek besar di Lugo. Spekulasi berlanjut tentang diberhentikan atau tidaknya Seth dari jabatannya dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakstabilan dalam pemerintahan.

Baca ‘Stabilitas Terganggu’ di halaman dua.


Ezar seakan tidak percaya dengan apa yang dibacanya.

“Paman, apakah berita ini benar?” Ezar menepuk pundak loper tua tadi, yang masih saja berteriak menjajakan surat kabar.

“Seperti yang tertulis, akurat!” katanya yakin dengan suara lantang.

“Tapi rasanya tidak mungkin,” bantah Ezar.

Si loper tersenyum dan berbicara dengan suara hampir berbisik.

“Nak, aku pun berpendapat demikian,” ujar si loper memberitahu, “Tuan Goffer adalah orang yang terpercaya. Kami semua di kota ini mendukungnya. Ia tidak mungkin melakukan hal yang dituduhkan padanya. Biasanya surat kabar terlalu menggembar-gemborkan hal semacam ini. Hanya saja...”

“Hanya saja apa?” tanya Ezar tidak sabaran.

“Posisinya di dewan akan goyah. Dan dengan demikian kami, warga biasa, akan kehilangan figur yang peduli pada kami. Sungguh disayangkan...”

Setelah berkata demikian, ia berlalu sambil terus menjajakan barang dagangannya.

Nanti malam, pikir Ezar, ia harus menemui Seth. Ia begitu penasaran dengan masalah ini sampai-sampai ia memutuskan untuk menunda meninggalkan Zen Aveshta.


Ezar tidak menyangka kalau rumah Seth tidak seperti yang dibayangkannya. Ia mengira kalau rumah itu akan besar, mewah, dan dijaga ketat. Tapi ternyata tidak. Rumah yang berada di selatan kota itu terlihat begitu bersahaja. Ezar tidak melihat satupun penjaga di pintu gerbangnya. Ia masuk dan menutup kembali pintu itu.

Rumah itu bertingkat dua, namun sama sekali tidak mencerminkan kemewahan. Rumah itu dibangun dengan gaya arsitektur asli Monastir. Tanpa jendela di lantai bawah. Temboknya bahkan tidak dicat, sehingga warna asli bebatuanlah yang mewarnainya. Halamannya cukup luas, namun hanya satu-dua tanaman yang terawat dengan baik, sisa halaman dipenuhi rumput yang tumbuh liar. Ezar mendapat kesan kalau rumah itu sengaja dibuat seperti itu.

Ia membunyikan bel di pintu rumah. Sesaat kemudian pintu dibuka dan seorang wanita tua keluar. Ketika melihat Ezar ia memasang wajah tidak bersahabat.

“Ada keperluan apa?” tanyanya hampir ketus.

“Saya mencari Tuan Goffer, bisakah saya bertemu dengannya?” Ezar berkata sesopan mungkin.

“Untuk apa kau mencarinya?” nada bicaranya penuh kecurigaan.

“Saya diundang olehnya kemari. Nama saya Ezar,” jawab Ezar ragu-ragu.

“Oh, begitu. Masuk,” katanya sambil menarik lengan Ezar. Sebelum menutup pintu ia melihat keluar, seperti mencari orang yang bersembunyi di balik pagar.

“Ayo, ikuti aku, Tuan Goffer menunggumu di ruang baca,” kata wanita itu sambil berjalan melewati lorong.

Ezar mengikutinya. Selagi jalan ia melihat isi rumah Seth. Ternyata tidak seperti tampak luarnya yang jelek, interior rumahnya sesuai dengan statusnya sebagai anggota dewan. Terdapat barang-barang yang kelihatannya berharga. Perabotannya bagus dan bernilai tinggi. Lukisan-lukisan menghiasi dinding rumah yang dicat warna krem. Sebuah cara yang baik, pikir Ezar. Ia pernah membaca tentang rumah yang bagian luarnya sengaja dibuat tidak menarik untuk melindungi harta benda yang berada di dalamnya, persis seperti rumah Seth ini.

Di lantai atas, wanita tua itu membuka pintu di sebelah tangga, dan mempersilakan Ezar masuk. Ia sendiri segera meninggalkan ruangan.

Di ruang yang penuh dengan lemari buku itu duduklah Seth di belakang sebuah meja besar dari kayu begitu melihat Ezar ia langsung berdiri dan menyambutnya hangat.

“Ah, inilah pemuda yang menyelamatkanku,” katanya ramah. “Letakkan senapanmu di atas meja. Mari, duduk,” ia menunjukkan kursi empuk.

“Terima kasih,” jawab Ezar, meletakkan senapannya lalu duduk.

“Apa kau mau minum? Ada limun dan soda,” kata Seth menawarkan, sambil mengambil botol minuman dan gelas dari lemari kaca. “Tidak dingin tetapi, karena alat pendinginku sedang rusak.”

“Tidak apa, limun boleh juga,” jawab Ezar merasa tidak enak hati melihat Seth melayaninya begitu. “Tidak usah repot-repot.”

“Jadi, kau datang ke gubuk reyotku ini,” kata Seth sambil menyerahkan segelas limun. “Tapi maafkan kalau Flora, pengurus rumah tanggaku bersikap sedikit kasar kepadamu. Ia pasti menyangka kau seorang yang berniat tidak baik. Ia memang selalu curigaan, walau sudah lama ikut denganku.”

“Anda sudah memberitahunya kalau saya akan datang? Karena ia mengerti begitu kusebut nama saya,” tanya Ezar.

“Tentu saja,” kata Seth, “aku sudah memperkirakan kau datang memenuhi undanganku.”

Seth kembali melanjutkan bicaranya, “Nah, ada yang ingin kau katakan?”

“Ya, banyak. Begitu banyak pertanyaan terlintas di pikiranku. Tentang kejadian tadi pagi, tentang Anda sendiri...”

“Tolong, panggil Seth saja,” potong Seth.

“Baiklah. Aku baru saja membaca kabar tentang rencana pemberhentianmu dari anggota dewan karena dugaan skandal penyelundupan. Apakah semua itu benar?”

Seth tidak menanggapi perkataan Ezar. Ia hanya berjalan mondar-mandir di atas sebuah permadani yang sangat indah. Ezar mengetuk-ngetukkan jemarinya. Ia khawatir telah berkata salah dan menyinggung perasaannya. Ia menatap Seth dengan cemas. Tapi Seth hanya berdiri sambil menggigit bibirnya sebelum berkata.

“Apa yang ingin kau ketahui? Tadinya aku merasa tidak ingin membicarakan hal ini denganmu, seseorang yang bahkan bukan warga Monastir. Tapi entah kenapa, aku merasa bisa mempercayaimu. Akan kuceritakan kepadamu.”

Ezar bernafas lega mendengarnya. “Terima kasih. Kau bisa memulainya dengan kejadian tadi pagi. Sebenarnya apa yang kau lakukan sehingga mereka mengejarmu? Tentunya mereka tidak mengetahui siapa kau sebenarnya bukan?”

“Tidak, aku menyamar dan yakin mereka tidak tahu siapa aku. Dengar, tidak semua penjaga memiliki hati yang baik. Dan penjaga-penjaga yang tadi pagi kupergoki sedang memasukkan berkarung-karung kristal energi ke dalam sebuah peti.”

“Pencurian?” desis Ezar, “atau penyelundupan?”

“Yang kedua lebih tepat,” ujar Seth masam, “aku melihat mereka menutup peti dan memasukkannya ke kereta kuda. Aku sama sekali tidak melihat adanya segel peti yang harus ada jika melakukan sebuah menandakan pengiriman kristal. Aku menduga itu bukan kegiatan resmi. Sialnya ketika mereka hampir selesai, aku tersandung dan ketahuan. Setelahnya seperti yang kau tahu.”

“Sekarang bisakah kau memberitahu bagaimana kau bisa berada di sana. Tentu bukan sekedar kebetulan...”

“Memang bukan. Aku mendapat informasi rahasia dan datang menyelidiki. Kalau kau sudah membaca surat kabar maka kau akan tahu bahwa aku dituduh terlibat penyelundupan. Kenyataannya aku dijebak. Mereka menemukan dokumen-dokumen dengan tanda tanganku, padahal aku sama sekali tidak merasa menandatanganinya.” Seth berjalan ke arah lemari yang penuh dengan buku-buku dan mengambil secarik surat kabar dari rak bawah. Ia melemparkannya pada Ezar.

“Bacalah.”


DOKUMEN ILEGAL DITEMUKAN DI KANTOR SEORANG ANGGOTA DEWAN MONASTIR


Kemarin siang, 17 Juni, telah ditemukan dokumen-dokumen ilegal pengiriman kristal energi di kantor Seth J. Goffer, salah satu Dewan Monastir. Dokumen yang dimaksud tepat seperti yang dikatakan kepala komisi internal, dalam pembicaraannya sore harinya.

“Komisi internal melakukan pemeriksaan atas dasar informasi yang bisa dipercaya. Kami akan mengusut hal ini lebih lanjut.”

Penemuan dokumen-dokumen ini dikatakan telah mengejutkan anggota dewan yang lainnya, karena mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang adanya pengiriman kristal energi. Sehubungan hal itu dewan bertindak cepat dengan mengeluarkan nota suspensi terhadap Seth demi kepentingan penyelidikan. Namun nota itu baru akan berlaku setelah anggota dewan yang tersisa menyatakan persetujuannya.


“Mereka tidak menahanku karena asas praduga tidak bersalah dan statusku sebagai anggota dewan, tentu saja. Setelah pemeriksaan, mereka membiarkanku melenggang bebas hingga aku dipanggil kembali.”

“Kau diperiksa oleh dewan sendiri? Dalam sidang khusus?” tanya Ezar.

“Benar.” Seth kini bersandar pada meja kerjanya.

“Lalu kalau kau merasa dijebak, apa kau tahu siapa yang kira-kira menjebakmu?” pancing Ezar, berusaha hati-hati agar tidak terlihat menekan.

“Mengenai itu aku sudah mengiranya. Hervenlah yang menjebakku.”

“Herven?” ulang Ezar tidak percaya. “Bukankah ia anggota dewan.. Untuk apa ia melakukannya?”

“Kalau kau membaca berita hari ini maka kau akan mengetahui kalau skandal ini menyebabkan persetujuan proyek di Lugo tertunda. Nah, proyek itu adalah gagasanku. Membangun sebuah pelabuhan besar di kota kecil Lugo untuk menggantikan pelabuhan di Merheilen yang semakin lama semakin dangkal dan sulit ditangani. Nah, Herven menentang keras rencanaku ini. Namun anggota dewan yang lain mendukungku. Setelah proyek itu lulus dari pengujian anggota dewan, Herven kelihatan begitu marah. Mungkin ia dendam denganku karena itu. Lagipula, aku kehilangan salah satu stempelku. Itu yang mungkin menjelaskan kenapa surat itu dapat membuat dewan tertipu.”

“Lalu kau mencoba menyelidikinya,” ujar Ezar. Kini ia mulai mengerti sebagian dari misteri yang ada. “Tapi tidak mungkin ia menjebakmu hanya karena itu. Pasti ada alasan yang lain.”

“Tepat, kau memang cerdas,” kata Seth mencoba tersenyum. “Dugaanku ia memiliki kepentingan sendiri di Lugo sehingga menentang begitu keras proyek itu. Dan aku telah sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya Herven berada di balik penyelundupan, karena kereta kuda yang membawa kristal itu hendak menuju Lugo. Itu mungkin terjadi Sejak aku menjadi anggota dewan, aku mengamati sifatnya. Licik dan angkuh. Meskipun ia sesama anggota dewan, aku sama sekali tidak mempercayaiku. Rupanya ia sadar akan hal itu. Ia memang tidak menyukaiku sejak awal, terlebih lagi ketika masalah proyek itu mengembang.”

Ezar meneguk limunnya hingga habis. “Tapi bukankah kau seorang anggota dewan? Kau bisa saja menyuruh seseorang untuk membongkar kejahatan Herven? Tidak perlu menyelidikinya sendiri.”

“Ah, aku sempat berpikir seperti itu, Ezar,” lagi-lagi ia tersenyum, tapi kemudian nada bicaranya segera berubah serius. “Tapi aku menyingkirkan ide itu karena dua alasan: aku tidak percaya siapapun saat ini, dan jika pun aku percaya pada orang, ia akan terseret pada masalah ini. Aku tidak ingin ada yang menderita karena diriku.” 

“Meski pun banyak orang yang mendukungmu? Yang percaya kau tidak bersalah?”

Seth hanya menggeleng tegas. Ia menegakkan tubuhnya, berjalan sejenak dan akhirnya duduk di kursi besar di balik meja. Ia terhenyak di sana dan menghela nafas panjang. “Mau saja aku melawan. Tapi akan sulit bagiku untuk membuktikan dugaanku itu. Dokumen-dokumen itu seakan telah menjadi bukti yang mematikan pergerakanku. Perkataanku kalau aku kehilangan stempelku juga tidak akan mengubah apapun.”

“Tidak, belum tentu. Kalau kita bisa menemukan bukti-bukti yang membuktikan sebaliknya, tentu namamu akan bisa dibersihkan. Mungkin kita bisa menemukannya di Lugo,” kata Ezar meyakinkan.

Seth bangkit dari tempat duduknya.

“Kita? Apa maksudmu? Aku tidak bisa melibatkanmu dalam masalah ini!”

“Tidak juga, sejak aku menolongmu tadi pagi, sejak itulah aku masuk ke dalamnya. Aku penasaran dengannya. Dan setelah mendengar ceritamu, aku telah memantapkan hati. Aku akan membantumu Seth,” kata Ezar dengan tenang.

“Ini akan berbahaya. Aku tidak mau membahayakanmu,” kata Seth, agak lunak.

“Kupikir justru berbahaya untukmu,” tandas Ezar, “kalau kau dijebak, tentulah mereka yang menjebakmu akan berusaha hingga tujuan mereka tercapai, seperti diberhentikannya kau dari dewan, atau yang lebih buruk, menyingkirkan kau selamanya...”

Seth menggigit bibirnya. “Itu betul, tapi tetap saja...”

“Kehadiranku justru bisa bermanfaat. Aku bukanlah orang sini, jadi mereka tidak mengenalku. Dan yang terpenting, aku seorang user.”

“Kau seorang user?” tanya Seth hampir berteriak.

“Ya, artinya aku bisa melindungi diri sendiri, dan membantumu kalau-kalau keadaan bahaya. Lagipula aku merasa bahwa Omni harus digunakan untuk kebaikan, dan kebaikan itu adalah dengan menolongmu,” jelas Ezar.

“Harus kuakui kau mengejutkan diriku, Ezar,’” puji Seth. “Pertama kau membuatku kagum dengan kemampuan berpikirmu dan kini kau memberitahuku bahwa kau adalah seorang user. Sungguh kemampuan yang langka sekali.”

Ezar hanya tersenyum mendengarnya.

“Jadi kau bersedia kubantu?”

“Tentu saja, aku menghargai bantuanmu Ezar,” kata Seth, melihat jam besar di atas pintu dan terperanjat. “Ya ampun, sudah begitu malam. Kita berbicara lama sekali. Begini saja, aku akan mencari informasi tentang Lugo, tapi ini akan makan waktu yang lumayan lama. Aku hanya berharap mereka tidak menyidangku kembali. Sementara itu, aku ingin kau menjadi tamuku, Ezar. Menginaplah di sini beberapa hari hingga tujuan kita siap.”


***


The Circle - Chapter 1: Capital City Zen Aveshta (Eng)
Stern
[info]carthegian
Here's the English version of chapter 1 =D

As far as the eyes could see, there was only a wide spread of grassland everywhere. The sun was intensely burning and unfriendly that very noon. Scorched sunlight caused illusion on the streets, making it looked like evaporating. Summer was always like that in the Commonwealth of Monastir, the weather would render people seeking shade and drinking cold refreshments. The sky would always be cloudless and rain seldom fell, save for the days where the rare clouds formed.
In amidst of the heat, a carriage crossed the long road that seemed dividing the grassland into two. It carried some passengers aboard, going for Zen Aveshta, the capital city of Monastir.

One of which was a young man sitting next to the window while kept looking outside.
Ezar was his name. Observed from his appearance, one could say that he was at most 19 years old. His hair was dark brown, looking a bit uncombed. He wore a travelling robe, almost worn out, and was seen holding an old rucksack and a long straight bundle of unknown value. He looked sleepy and kept his mouth shut, even if two middle aged women beside him were busy in conversation. He was just staring the span of endless grass, until his eyes caught the glimpse of a brownish road sign, standing out between the greenery.

The sign showed a three-fork intersection up ahead. The left path will lead to the Lowerland Monastir while the right one will lead to Zen Aveshta. There was also a sign of a resting-inn named Hally’s, located kilometers ahead. It clearly told the area name where the carriage was going to, Kornash Intersection.

“Our honorable guests, we are about to arrive in Hally’s. You can choose to spend the night there or to carry on with the trip straightaway,” informed the coachman from the gap behind the coachman seat, connected with the cabin. But just as he finished talking, there was a loud hurrying shout from the direction of Lowerland Monastir.

“Move away! Move away! Give way!”

Another carriage drove in such a speed, breaking through the intersection. The coachman looked panicked. Sweats were all over his face and he held the reins with such trembling hands, while the horses were running out of control. It almost grazed the carriage in which Ezar was, were not for the swift response of the coachman, avoiding the galloping carriage and maintained its course. Of course the passengers inside were thrown into the floor when the horses stopped abruptly. They who witnessed the incident could only swear upon the sight of the uncontrolled carriage still moving on the road to Zen Aveshta.

“Damn you filthy devils! It’s gotta be the carriage from the Deep Valley! Obviously seen,” screamed one of the talking women.
“It can’t be wrong! Only them who don’t know any manners,” added the other woman.
Other passengers commented the same, complaining about comfort ability and security. Even Ezar had his head bumped into the window still when the carriage stopped. The coachman had to come down and apologized for the unpleasant event before the passengers were calm again. Fortunately, no one was injured badly, so the trip could be continued as planned.


Around afternoon, the resting-inn named Hally’s was already in sight. The carriage then entered the yard of Hally’s slowly. And when the passengers tried to see what Hally’s would look like, their eyes were set on one of the parked carriages on the year. Without a doubt it was the carriage that nearly hit them before. Apparently the carriage called in the same place as them. Some of the still resentful passengers instantly had the urge to, at least, shower the coachman with their words of choice

From the window as the carriage turned to make a stop, he saw up-close the Hally’s. The inn was huge and two storied, and it had the first impression being neat and friendly. Though the building seemed to be old, it had some more modern touches recently. Large alphabets from shiny metal were emblazed in the front veranda. A signboard next to the door told everyone that there was a night show in the cafe, which presented a local female singer.

Some of the passengers got out of the carriage to stay in Hally’s but some preferred to carry on to the capital... Feeling exhausted, Ezar decided to spend the night there. He ordered a room, paid the bill, then went upstairs and put his belongings in the room. Afterwards he came down towards the cafe, yearning for a dinner and killing the time before going to bed.
In the cafe, he saw a lot of the inn’s guests there. He observed them carefully and found a variety of people from different races and ages; every kind of person who went for or from Zen Avehta. Curiosity drove his mind.

He sat on a table ordering for a fresh lime soda, then laying his eyes around. The tables were full of people with such foreign, bizarre appearance. They were men and women busy with their own activities. Some were talking seriously, while some were laughing and chattering along with their friends. Three people happily drank three big black bottles until finished. Their faces suddenly reddened and choking afterward followed by a loud synchronous burping, which got them a scornful look from the person next to them. Watching people’s behavior, Ezar was pretty amused.

Suddenly someone broke his muse.
“I’m sorry, is there someone here?” asked someone. The voice was gentle, and surely belonged to a lady.
Ezar had before him a girl standing with a glass of juice in her right hand. He just realized that there was no other seat empty except from the one across his before letting her take a seat.
“Yes, there’s no one there.”
“Thank you,” said her short.

The girl sat, and without looking at Ezar, she drank her juice with full satisfaction, as if she were very thirsty. In other hand, Ezar watched the girl from the shadow of his eyes.
She seemed to be a Monastirian, he thought. Her clothes resembled the other people. Only on her arm circled so many bracelets. And her accent, she spoke a bit different with the Monastirians he met so far. Aside from those facts, she was the most beautiful girl he had ever seen. Her hair was black and long, let loose up to the shoulder. Her movements were graceful and careful. Long enough he watched her unmoved, while occasionally threw his glance somewhere else to make her inconspicuous.

But the girl herself seemed unaware being watched. Unconcerned, she remained sitting on her seat. She appeared not to be talkative, so he threw away the thought to converse with her. And that very thought became real when she finished her drink; she left the table without saying any word to him, as if she did not care about anything around her. Her purpose being in the cafe was just to have a drink, nothing else mattered. Ezar was extremely curious about her, but he still wanted to be there watching his surroundings for a little while, so he remained seated.

Not long after her leave, the female singer came and performed. Accompanied with a band of musician, she started to sing a local folk song, which Ezar were not able to understand. But nevertheless he enjoyed her voice, a good smooth voice enough to make everyone sang along.
When the show was over, Ezar felt it was already time for him to rest. He went upstairs and found the very girl he was curious about in front of a room, before she turned the doorknob and went inside. Holding his desire to find out more, he went inside his room too and was fast slept immediately.


The next day he woke up fresh. What a sound sleep he had, coiling inside the blanket on a comfy bed. He took a bath and groomed himself afterward, then packed his belonging and went down. That morning he intended to check out.

Below he still had some time to go to the bakery in Hally’s. Breads and cakes there were delicious according to many people, and he wished to have breakfast with a slice of warm and fragrant bread. He also wanted to buy a few more pieces of many flavor for his stock in the road. A female shopkeeper served him nicely.

“Everything is twelve sesterces,” said her, putting all the breads into a paper pouch.
He was just about to pay when he unintended saw the girl before walking out with a small bag carried in her hand. It seemed she wanted to check out from Hally’s that very morning too. He quickly paid his breads and observed her casually while biting a slice of soft butter bread. The girl went out and approached a carriage. A line of people had been waiting next to it. Not long the coachman came and let everyone get in. They put the luggage on the roof then, after everyone was in, the carriage departed.

Realizing he had to continue with his trip as well, Ezar moved from Hally’s. He had to go into the city in the same day. So he went to the yard and was offered a ride by a man standing in front of a carriage the moment he set his feet out. He was older than him a couple years.

“Hola,” greeted the man.
“Hola.”
“Hey, you want to go to Zen Avehsta? Why don’t you catch a ride in my carriage? Guaranteed safe and pleasant journey. Only fifty sesterces per head,” promoted him.
“Well, it won’t be pleasant if the carriage’s speeding,” said Ezar half-joking.
“Ah, you must mean that carriage,” said the coachman firmly, “coming and go from the Deep Valley. I know many things ‘bout the coachman, he’s always like that. Always panicking and losing control over his horses. Makes me wonder, eh, why he’s still a coachman until know. I always prioritize my passengers’ safety above others. It is my habit to check the carriage and the horses...”

“I see, you do know your things,” commented Ezar.
“Of course,” said him in wide grin. “So? Are you in?”
“Alright.”
“Perfect!” he yelled happily. “The name’s Frre Allster. You?”
“Is this also your habit to find out your passenger’s name?” teased Ezar.
“Not really. Only to those I got fancied to. Now, wait a couple moments. We will go after I got some more passengers.”

Ezar then leaned on the fence while Frre promoted his carriage service to the passing people, including a group of strange looking middle aged women. He had to admit, Frre had a smooth mouth to persuade people to get in his carriage. So that was it. After the carriage had full passenger, Frre departed. He spurred the horses slowly and steadily, just as he promised. Knowing the carriage moved smoothly and was in good hands, Ezar could enjoy the sight without having to worry some incident might fall again. He never set his feet in the soil of Monastir, so he was very eager to know about the country.

Hearsay he had, the country was one of the most stabile, in term of government, military power, or economy. So it was out of the question when a lot of regions admitted its sovereignty and requested to fuse with protection, though those regions preferred to stay independent, some sort of small nations. A good example was Heliocracy of Shamash. This region was officially part of the commonwealth, but it did not have the right to participate in Monastir’ affairs or vice versa, Monastir had no rights to meddle with Shamash’s governing. In other word, Shamash was only taking shelter beneath the banner of Monastir.

The road was getting crowded, as the sun crawled up toward noon. A large number of carriages passed back and forth along the road, including some modern luxurious caravan, making their way slowly. This is the charm of metropolis city like Zen Aveshta. The gleaming big cities were sometimes just mere words blown by people who exaggerated it, whereas the truth was not that. Ezar had that kind of thought in mind; Zen Aveshta might be not that glorious.

But he soon changed his mind the moment he had a sight of the city. After passing through the guard post in the south-western gate, he had the chance to see it for himself. And no wonder, what people said about the city was true after all. There he saw buildings that soared above the highest trees; the main road spanned widely, as wide as ten carriages in a row, made from asphalt; the smaller roads that were made from block stones, spanned outward from the main road. The buildings themselves were made either from concrete, alabaster or granite, lined up with glass windows, adding the grandness to the city. There were also palms planted neatly in the green tracks. What a sophisticated city planning.

Zen Aveshta lay on between two huge rivers that flowed throughout the lower lands. The Moroza River came from the mountains in the west while the Kornash River sourced from the range of Apollyon Mountains. Those two rivers had indeed made the city prosperous and fertilized the land around, perfect for agriculture.

Ezar felt as though as he were somewhere else, as he watched the business in every nook and cranny. Vehicles running all over the road, people walked and by, going in to or out from a building. He felt like he was back in Altstadt, the capital of Republic of Bezellum. Only this city was far more developed, in both technology and size. Zen Aveshta was shining for everyone that came to its arm.

Frre kept moving on until he came to a parking lot near a huge square. It was a carriage station, where many carriages waited for passengers to buy tickets and hop aboard them.
“O, honorable passengers, we have arrived in Zen Aveshta. I hope you all enjoyed the trip,” said Frre as he put the carriage in a parking slot.

Everyone came out one by one. When at last Ezar came out, Frre was waiting for him.
“Satisfied with the trip?” he asked humorous.
“Not bad,” answered Ezar shrugging his shoulders.
“Hahaha, so here we are, parting our ways. Maybe next time we can meet again.”
“Wait a moment. Do you know where could I stay? That if you know...”
Frre frowned a little. “You doubt me again. Of course I know! You can spend your nights in Chevorian. It’s in the western block, not far from the square. You can find it easily. The owner’s not from Monastir, but he runs a nice inn. They pick a reasonable price, for traveler like you,” he said long and broad.
“Now I’m convinced,” smiled Ezar.

“So then, see you later Ezar,” fare welled Frre as waving his hand. Then he hopped to his carriage and moved.
Now Ezar stepped to look for the inn. He went across the square, and afterward he came to Anthiokh IV, one of the four main roads of Zen Aveshta, each of them spanned for kilometers and ended in the gates of Astral, the palace complex of the Council of Monastir.

The inn was indeed not far from the square. Located in the right side of the road, it had four stories and was wedged in two high towers with glass dome on the tip. Arch windows lined up tidily in the upper stories, when the lower ones had fat bevel glass windows that reflected the shadows of the surrounding buildings.
Ezar entered and stepped into the main lobby.
“Hola Sir, what can I do for you?” greeted a lady receptionist in a counter.
“Hola. I would like to spend a few days here,” answered him. “No need for the big room. Just a small one will do just fine.”
“Alright. Then please fill the form,” said her as giving a registration form. When he finished with the form, the lady took a key from the key holders and gave it to him. “Here, you can use room 301.”

When he was about to receive the key, suddenly there was a clamorous noise resembling strikes of lightning. It was just for a brief moment, because the next noise sounded like a humming, though still loud.
“What was that?” asked Ezar in confusion,
“Ah, we are very sorry for this unpleasant event, Sir, “said the lady bowing her head. “That was an autogyro, an air vehicle developed by the military. Unfortunately the facility was just around here.”
“Autogyro?” hissed Ezar. “Is it the same with the air ship developed in the west, which is using some kind of huge balloons to make it levitate in the air?”
“No, Sir, this one is different,” she replied proudly. “Autogyro is a sensational design developed by this country. It uses a high level mechanics to run an engine that twist propeller blades to make it flies, if I’m not mistaken from what I read in the news.”
“Then can it fly?”

The lady showed a grimace grin. “Actually... no. We haven’t found yet ways to make it fly. Experiments always end in failure.”
“Is that so?” Ezar looked interested. “But it will be great if it actually files.”
“Of course. Our scientists are looking endlessly a way to make it come true.”
Ezar smiled upon hearing her answer. It was clear that the lady held a high pride for her country.
“Ah, I’m sorry. It is not my place to talk casually with you. Now, Sir, you can go straight to your room and get some rest. It is on the third floor. Enjoy your time in Chevorian,” said her, taking the form and put it in the drawer.

It did not take long for Ezar to place his belongings in the room and came down with a long bundle in his arms, after having a glimpse on the city from the balcony, showing marvelous side where the horizon was not seen due to the heights of the buildings covering the sky.

Down in the lobby he saw a large signboard with pictures of five majestic people in their grandeur outfits. They were the Council of Monastir, the group that ran the government, as written in the placard below: Ludivus Achlyd, Engelbert Herenos, Herven Sager, Seth J. Goffer, and Seneca Lubrigall. The first four were men. Ezar stared at Seth the longest. He was the youngest counselor, at least differed by twenty years from the rest of the members that looked so old and wrinkled. Even the chairman of the council, Engelbert, bore a twistingly huge white beard, long reached to his coat end.

Enough staring at the board, he went outside. He knew he was low on supply, so he thought he should buy things he needed first before proceeding. The closest general store was not far from Chevorian; he had made it sure from asking the receptionist. Mater’s Junkyard was the name, a name that really depicted the place. Piles of old metals and other scraps were neglected just like that on the yard, covering part of the building which was actually pretty enchanting without all the junks. The signboard told that the store had been around for more than fifty years.

A man wearing a suit came out from the door while carrying a bag as Ezar entered the store. But he was not the only customer. As Ezar laid his eyes around in the narrow space filled with old and looking new stuffs, he heard voices from the back of the store. One man and one woman. The woman seemed to be obstinate and forceful in talking, and the man had hard time dealing with her.

After he got closer, the manly voice belonged to an old man around sixty with white hair, seemed to be the proprietor. He looked as if having trouble in negotiation with his customer, the woman, which after Ezar gave a detail look, was the very girl he was interested in. She was still as yesterday, nothing had changed. The negotiation itself was intense, ended by her victory; the proprietor had to give up and agreed to her wish.

“So, everything is one hundred and fifty sesterces,” said the girl satisfied and opened her money pouch, turning over three fifty sesterce bill.
“Alright, Lass, alright, just the way you want it,” he replied helplessly and putting all her stuffs into a bag.
“Thank you for the business.” She smiled briefly then turned around to get out. When she did that, either on purpose or not, Ezar turned around to in reflex and hid behind a large old iron door, until the girl passed him and disappeared from the sight. He came out from his hiding and approached the proprietor, who was drying his sweats with a towel.
“Huff, that was something,” he moaned.
“Hola,” greeted Ezar.

Realizing another customer, the proprietor threw the towel and immediately put back the firm face of a merchant, ready to deal with his profit maker.
“Yes, yes, hola Son, welcome to Mater’s Junkyard, general store for those who need a slip on the price. I’m Hugo Mater, the owner. What can I help you this time?” he said with a smile hanging friendly.
“About the girl, has she been here for long?” That question just suddenly came out from his mouth before he even gave a second thought.
“Oh yes, yes, she has. She bargained for such extremely low cuts that I’m so overwhelmed. Just imagine there, she pays one hundred and fifty for a thing that should cost her twice the price!” said him, swirling his hand and gesturing. “Oh but it is rare to meet someone like her. Great at bargaining. I have to admit a defeat. The last time I gave in for such low price was when a spooky looking guy bought a type C crystal and placed his muscular arm right on top of my head, saying ‘I’m taking this’.” He roared with laughter, and then his eyes rolled back watching Ezar. “But you’ve come here for another reason right?”

“Yes, I would like to buy something. I need rifle bullets specification A and perhaps a wristwatch, if you have one.”
He did not have to tell twice since the moment he finished talking, the old man had swiftly taken off a swing to the back of the store, shouting, “Wait a minute there!” He came back a couple moments later with a big package of bullets and one small box, wrapped in thin cloth.
“Here’s the bullets. Made from local manufacturer. I’m afraid this is all I got left in the stock,” he said, then pointing to the small box. “And this, this is a brand new watch from Rouen.” He opened the box and showed a small disc of alloy covered with bloated clear glass. The belt was leather with luxurious lining. “Guaranteed waterproof and wearable for years,” added him promoting his ware.

Ezar observed the watch in awe. The short needle and long needle were both made from red quartz. Around them laid twelve small rubies decorated the disc as time sign.
“The needle glows in the dark, so you can wear it night and day, without having to do anything,” said Hugo, hastily adding as if Ezar were to ask, “And don’t ask me how they done it. That’s Rouen for you. You would never know what they did to alchemy there. Really sophisticated.”

Ezar liked the watch the moment he saw it, but he dared not to spend so much for a mere wristwatch. He still needed to do something.
As though knowing his customer was hesitant about the price, he quickly said, “It’s not expensive. With just a hundred sestercess you can take it home. How ‘bout it?” And he was right, Ezar thought, it’s hard get a watch with that quality for the same price anywhere. He clutched his money pouch and paid for the watch.
“Alright.”
“So be it! Sold!” yelled Hugo spirited.

Now in his left hand Ezar had a new watch circling. He looked satisfied as he walked away from the store. He just had to change the tiny crystal inside to make sure its precision in time. It was already near noon, pointed by the short and long needle almost reached the top and biggest ruby.
“Almost noon. Better I go find a blacksmith.” He opened the bundle in his hand, which revealed a long rifle. He examined the gun and found some kind of damage on the breech. He intended to have it fixed by the blacksmith here; people said pretty good in quality.

And it was not hard to find a blacksmith in the city. People would easily point here and there in every direction when someone asked where he could find a blacksmith. But it was hard to find someone capable of repairing his rifle, who knows why. Every time he went into a workshop, the blacksmith gave up trying repairing after checking the rifle. And the last blacksmith he went to said that the rifle was complicated and advanced, and he did not know at all about the design though he presumed it was already made a long time ago. But he gave a little light in the darkness by giving information that Ezar should take the rifle to Glyph, a renowned old blacksmith. He was someone trusted and skillful, and might be able to fix it. After saying thank you, Ezar went into Glyph’s workshop in Anthiokh II to the east.

At past two could Ezar locate the workshop, exactly beside post office. And he was surprised by the crowd standing in two lines in front of the workshop. A man was carrying a broken sword; a man was holding a rifle with a shifted barrel. Even someone was dragging a machinery, comprised of many cogs and gears. Those people were definitely customers wanted service for their stuffs.

The workshop was not big, and he wondered how all those people would fit in into it. But when he was inside, clearly seen that it was actually big. It was hot there, the fumes coming from the fireplace and the blazing melting hearth.. The sound of hammer clashing and the sparks from the welder coming from a group of blacksmiths working in a corner were just a usual sight there.

Then came Ezar’s turn. Facing with a young sour-looking man, he said he would like to meet Glyph.
“What for?” the man answered curtly. “If you wanna get it done, just leave it ‘ere. No need for Glyph to do that. I’m in charge here and he doesn’t take trivial jobs. Just give it to me so I can fix it fast.”
“Wait, I think only Glyph can fix this one,” said Ezar in doubt.
“What’s the different?” replied him belittling. “Just give dat to me now.”
“I’m sorry, I won’t if it’s not Glyph.”
“Why you..” the man seemed to lose his temper and was about to grab the rifle from Ezar, were not for someone yelling loud at him that silenced him immediately.
“Let him say what he wants, Ednal!”

A half naked middle aged man came from the door behind the young man. He had beard, looking old, but his arms were still muscular and his gaze was sharp.
“If you ever treat everyone like that sure we will lose more customer. Mind your attitude! Every customer is like a king here!”
“Ri-right away Sir,” stuttered Ednal. He bowed and had no courage to look into the old man.
Glyph came approaching Ezar and asked. “Nah, what do you want to say?”
“Are you Glyph?”
“Yes I am.”
“Then can you fix this rifle? I’ve come to many blacksmiths, but they all gave up and I was told to seek you.”

Glyph examined the rifle and raised his eyebrows.
“This rifle..” He held it with the utmost respect, knocking the breech gently before saying to Ezar. “Hmm very fascinating. Alright, I will try to fix it. Come with me.”
He took Ezar into a room behind the workshop. There was a huge fire hearth and a lot of strange-looking work tools, totally different than normal ones. Ezar was astounded by the complexity and bizarreness of them.

“This is my study,” Glyph explained. “I make all amazing stuffs and gadgets here, special for those who order with amazing challenges too. The harder it is the happier I am. If you come with all troubles making something, then it is my job to make it possible. Keep that in mind.”
He walked into a long table. He cleaned the messy apparatus on it, took a fireproof robe from a hanger and wore it. “Son, give me your rifle.”
Ezar gave the rifle. Glyph examined it carefully. He held it tight and observed the details exuberantly. Then he finished.
“There is no mistake. This is the same one,” he said in pride.
“What do you mean?”
“Does this rifle have a name?”
“Yes, Savior.”

“Indeed. Hmm, so about a few days ago there was someone who checked a rifle. That someone came on behalf of recommendation by a fellow blacksmith. And the gun, it has the similar characteristics with yours, despite different design. It also has a name. Today that someone took it back.”

“Similar to Savior? Someone has a similar rifle to me? Who is that someone?”
“Hey, don’t be hasty like that. Too bad I can’t tell you. Here the customer is like a king, and of course a king needs a little privacy right? For safety reason, we don’t tell the owner name of the goods brought or ordered here to other customer.” He gave a sorry look to Ezar then said again. “Hey, do you know what kind of gun is this--actually?” He emphasized the last word.
Ezar shook his head. “I’m not sure. I received it from my father.”
“I see,” said Glyph in muse, “so you don’t know that this gun is one of the Omni artifact?”
Ezar was stupefied. “Savior is an Omni artifact?”
“Right,” Glyph smiled thinly. “In other words, your rifle is one of the remnants of the past. Our knowledge nowadays is too shallow to perceive and produce something like this. And also, this is a firm proof that you are an Omni user.”
Ezar was surprised. “How do you know that?”

“Hahaha, don’t underestimate the experience of this old Glyph, cause I know things you don’t. This rifle contains a massive force of Omni that automatically needs an equal Omni power to be able to use it. Have you ever realized that no one can use it except an user? In this case I guess you never realize that..”
“You have a point. All along I never think about it..”
“And about the other gun, which is also an Omni artifact, I guess it wouldn’t hurt to let you know that it comes from around here. I presume you are not from here? Where do you come from?”
“Bezellum.”
“Hmm, quite far. Why do you come here?” asked the old blacksmith in investigating tone.
“Aren’t you going to check Savior and know what is wrong with it before asking that?” replied Ezar avoiding.

“By heavens, I completely forgot. Well, the damage is not that bad. I can fix it quite easily. I tell you what, come back again by afternoon tomorrow and I’ll have it ready for you. How does it sound?”
“Thank you very much.”
“Now get out from here,” said Glyph in jester. “I’m going to work it.”
The young man understood and was on his way out when the old man called him again.
“Hey Son, know what, if you are a user, then use the power for good. Omni should be used for good, there is no exception. You do remember what happens when Omni is misused, right?”
Ezar nodded before he went out.

It was late afternoon when he left the workshop. The words of Omni artifact filled his mind. Through traversing the streets, he thought hard about the power he possessed. How had he obtained it, he knew not much. He knew that Omni resided inside every soul. But only a few managed to awaken and use it, despite the almost unlimited power of Omni, could be used at the user’s will.

He could not remember how. The rifle had been a part of his life since long. He could use it anyway he wanted to. Why? Even if he scourged his mind to remember, he could not find anything. There was a power laid in his blood, beating for every time his heart throbbed. It were as if the wind had blown away the memories away, sweeping the fragments easily.
He came back to the inn in light steps but with a heavy heart. The night was spent in silence. He had dinner with a simpler menu, then he decided to sleep.


The next day he woke up early. He wanted to see the city’s most famous symbol as to kill time before he retrieved Savior back. And he just needed a distraction, so that he would not have to be engulfed in thoughts. The first place he went was the second largest temple in the continent of Obrador and second most important for the people there after Esagila in Parafion. It was named Dirna by the local and they said it was built long before Zen Aveshta became the capital city. Hundred years was its estimated age, and its beautiful design kept sacred aura that clarified grandeur.

He spent a couple hours there, along with other visitors that brought also camera as proof of their visit. Aside from Dirna, actually he was about to visit Astral Palace, which was open for a certain number of days. Unfortunately, today was not visit hours. Such a pity that the palace complex was very interesting to go to. It consisted from a main building and some supporting ones. The palace itself was big and had many towers around it, hovering above the sky with a lot of decorated windows of arc. According to history it was built ten years after the fall of the old capital in the Thirty Years War.

At the time, Monastir was not a commonwealth but a kingdom. But after the great war and the complete destruction of the old capital Enlil, which was located in lower lands about two hundred kilometers from Kornash Intersection, the survivors moved to Zen Aveshta which was still a small town with a medium sized temple, Dirna. The city was originally one of the city under straight supervision of Parafion, and when they came there, they built Astral right beside Dirna. They also rebuilt the temple so it was integrated inside the palace complex. Since then, Monastir transformed into a commonwealth with members of the neighboring regions, like Koloergen or also known as Deep Valley and Hersel, through numerous covenants. No longer a kingdom, the government system was led by a council.

After had great time visiting the city symbols, Ezar left the grand palace complex. His feet then took him to a cross in Anthiokh III, where numerous restaurants dwelled there, offering passer-byes delicious cuisine to taste. He felt very hungry, especially when he smelled the fragrant aroma of cooking puffed from various restaurants on the roadside. And in the closest restaurant he saw the girl he kept meeting from time to time, sitting on a table and ordering food. This time Ezar could not help but to satisfy his curiosity about her and went to approach her.

He went to the terrace she was in, one and a half meter higher than the road, and took the chair facing her. The owner of the table surely realized that and glanced upon him. But she did not say anything or move away, so Ezar felt he should talk first.

“Hola,” he said with a smile.
He had to wait a couple of agonizing moments before she replied in short apathetic tone, “Hola.”
“Do you mind if I sit here? I was around to have something to eat and then I saw you,” excused Ezar, “and I thought there’s someone I thought I know there, so I came and..”
He could not finish his words, seeing the girl remained in silence and just sipping her cup of tea. But then she spoke.
“You don’t have to give such pathetic excuse. I know that somehow we will meet,” she said casually.

“Is that so?” He was a bit surprised.
“Yes, with this we have met three times..”
“Three times?” That shocked him more.
“Don’t pretend you don’t know. First time in Hally’s, when I sat in front of you. Then I knew you watched me the next day, when I was about to catch a ride. Then yesterday at Mater’s Junkyard, you hid behind an iron door when I went out the store. Don’t you think I don’t realize everything,” she said calmly, almost without emotion.
“Heavens! I didn’t expect you’d know everything,” said Ezar, half struck in awe for her great observation and half in regret for having his cover blown. But he smiled back immediately. “So now that we don’t hide anymore, would you care to tell me your name? My name is Ezar.”
“I‘m Rhea, Rhea Silva.”

“So you are Rhea,” repeated Ezar unconsciously.
“So your name is just Ezar?” asked Rhea, unmoved by his rambling.
“Yes, it’s just Ezar.”
“Nice meeting you, then,” added Rhea without looking on his face. “Now aren’t you going to eat? I don’t see you ordering something..”
“Oh, yeah, I’m just about to..” He called a waiter, who gave him a menu then left. He read the menu in confusion, because it looked so strange. Different than the foods in Chevorian that he knew well, here everything was written in Monastirian. There were aganes, byrian, gilagen. Which was which? In desperation he asked the girl.
“Er, do you know which one is good?”
She looked at him briefly before answering, “Well, if you’re not sure what to choose, I suggest you try byrian. It ‘s a common food here.”
“What is that?”

“Basically it’s rice cooked with meat and spices. Delicious.”
“Alright then. Waiter!” He called again and told him what he wanted, just like her recommendation. As the waiter left, it was a silence situation. Rhea stared at the crowded streets full with vehicles and carriages. She looked as if avoiding unwanted conversation. Ezar had to think hard how to start talking to her without making her uneasy. But too bad for him, his thought did not go well with his mouth, so this was what came from him.
“Are you here by yourself?” He could only be swearing inside, blaming himself for that stupidity. Of course she was here alone; he knew that very well.
“Yes, I came here by myself. But I guess you know that already,” answered her, not paying full attention.

“Then can I know you reason coming here?” asked Ezar again, before realizing it was really rude to ask such a thing.
She stared at him with full suspicion.
“My apologies if I’m being too intrusive. I didn’t mean to do that,” said him in sincere tone, complemented by his regretful look. “You don’t have to answer that...”
It was really awkward before her face softened a little and answered, “Too bad I can’t tell you. But for sure I will be here long enough.”

“Then, it’ such a pity we won’t be seeing again. I have to leave tomorrow,” said him. He was irritated. Just as he had met someone like her, they had to part so soon. She did not say anything upon hearing that, but Ezar could have sworn he saw her reaction; a thin smile twitched in the end of her lips.
That was when the waiter came with their orders.
“Oh, let us have a taste first...” he said, watching his plate of byrian. Because he was hungry and eager to feel what the taste, he shoved a spoonful of byrian which was still very hot and ate it straight. “This is delicious,” said him grinning, had his mouth burned by his first try, “you’re right. This is indeed good.” He quickly sipped his drink before started ladling up again, stopped a few times when his mouth burned again.

That melted the ice. Rhea was a bit amused by his caprice, and soon did not show signs of disclosure anymore. She started to eat her order, aganes, roasted lamb with thick sauce and ribs soup. Both enjoyed their meals until finish, and then started talking. He started it up by asking foods from Monastir, and she replied. She apparently knew much about the foods, surely not just because she was a Monastirian. In fact, she knew about certain cuisine cooked only for certain moments, or for festivals and ceremonies.

The chatting continued about the lush country of Monastir. Ezar talked especially enthusiastic about the topic. He wanted to know everything about it. She told him that in every corner of the nation, someone could get the gift that was granted to the lower lands. If he tried to plant a frail piece of branch, it would grow to be a strong and healthy tree. If he spread seeds of little amount, they would turn into a grasslands full of blooming flowers. That was the parable of the lushness of Monastir. It was so different with his homeland, Bezellum. One must work hard to plant there, because the soil was jagged and harsh. No wonder may people yearned to live in Monastir with its flourish lands and comfortable weather.

The sun was setting when they finished talking. Time did fly when they listened and spoke. It was quite weird that he was able to talk to her so easily. Despite her frigid appearance, she was pretty warm inside. The cold impression that covered her would soon thaw when she revealed another side of her.

Rhea said goodbye to him, then leaving, followed by his eyes until she disappeared in the corner. Ezar looked at his watch; it was five in the afternoon. He had to pick his rifle, so he went to Anthiokh II to see Glyph. He must have finished the gun’s repair, a thing he hoped the blacksmith had said the truth when he promised to finish in just one day.
The workshop was almost closed by the time he got there. But fortunate for him, Glyph was outside supervising his men. Soon they had a small chat, a moment later the blacksmith went inside and returned with Savior. It was in such a prime condition. The barrel was gleaming in the dusk’s ray and the breech was totally new, covered in a kind of alloy Ezar had never seen before.

“Sorry if you feel it’s not that good. Gotta change the breech and all small details. You know how hard it is to mess up with an Omni artifact without spoiling the beauty and power,” said Glyph humbly. “But I’m pretty sure you’re satisfied with my work...”
“Yes, of course, this is great,” thanked Ezar in excite and paid the repair cost for one hundred sesterces, which in his opinion was very cheap.
“If you ever need me again, well, just come back and say it,” said the old man. They shook hands, and Glyph gave Ezar some advices how to keep the rifle in shape before the young man could return to the inn.

By that night he fell fast asleep, readying himself to leave the city by the next dawn of day.

***

Index - Table of Contents
Ladia
[info]carthegian


This is the index for making it easy for you guys to browse through my novel 'The Circle' =D

Chapters:
Preface (Indonesian + English)
Chapter 1 (Indonesian)
Chapter 1 (English)
Chapter 2 (Indonesian)
Chapter 2 (English)
Chapter 3 (Indonesian)



Illustrations:
Main Chara Ezar Immelhein
Character Illustrations 1

The Circle - Chapter 1: Ibukota Zen Aveshta (Ind)
Ashe
[info]carthegian
Here's the first chapter. I wanna apologize for the format inconvenience. It's hard to preserve the good ol' Word document format for paragraph etc here. It's so damn tiring when you have to format the chapter from scratch again.. Maybe I'll do the English version chapter 1 in another journal entry..

Chapter 1 in Indonesian

Sejauh mata memandang, hanya hamparan padang rumput yang luas yang terlihat. Matahari siang hari begitu menyengat dan tidak bersahabat. Terpaan panas menyebabkan ilusi mata yang menjadikan jalanan seperti menguap. Musim panas di Persemakmuran Monastir memang begitu, cuacanya akan selalu menyebabkan orang ingin berteduh dan meneguk minuman dingin. Langit akan selalu cerah dan hujan jarang dijumpai, kecuali pada hari-hari di mana terbentuk awan yang langka.

Di suasana yang seperti itu sebuah kereta kuda melintasi jalan panjang yang membelah padang rumput menjadi dua bagian. Kereta itu mengangkut beberapa penumpang yang hendak menuju Zen Aveshta, ibukota Monastir. Salah satunya adalah seorang pemuda yang duduk di dekat jendela sambil terus memandang ke luar.

Ezar namanya. Ditilik dari penampilannya, ditaksir ia berumur paling tua 19 tahun. Rambutnya coklat muda, kelihatan berantakan tidak disisir. Ia mengenakan mantel bepergian yang sudah agak lusuh dan tangannya mengapit sebuah tas ransel yang tidak kalah lusuh, dan sebuah bungkusan lurus panjang yang tidak diketahui isinya. Ia tampak mengantuk dan diam saja, sementara di sebelahnya dua orang wanita paruh baya sesama penumpang sibuk bercakap-cakap. Sedari tadi hanya ia memperhatikan bentangan rumput yang seakan tidak berakhir, hingga pandangannya menangkap sebuah papan penunjuk jalan yang berwarna kecoklatan, berdiri mencolok di antara kehijauan.
Papan itu menunjukkan kalau di depan terdapat pertigaan. Arah kiri akan menuju pada Dataran Rendah Monastir sedangkan yang kanan menuju Zen Aveshta. Di situ juga terdapat petunjuk mengenai adanya rumah peristirahatan yang terletak arah ibukota beberapa kilometer dari pertigaan tersebut, yang bernama Hally.

“Para penumpang yang terhormat, kereta akan segera tiba di Hally. Anda bisa memilih untuk beristirahat di sana ataupun meneruskan perjalanan langsung,” kata sang sais memberitahu, berkata dari celah di belakang kursi pengemudia yang berhubungan dengan kabin.

Baru saja ia selesai berbicara dan hendak berbelok, tiba-tiba terdengar teriakan tergesa dari arah Dataran Rendah Monastir.

“Minggir, minggir! Beri jalan!”
Sebuah kereta kuda lain berjalan dengan sangat kencang menerobos pertigaan. Sais yang duduk di depan kelihatan begitu panik dalam mengendalikan kereta. Wajahnya bercucuran keringat dan ia memegang kekang kudanya dengan gemetar, sementara kudanya berlari tanpa kendali. Hampir saja kereta itu menyerempet kereta yang ditumpangi Ezar, kalau saja saisnya tidak sigap dan menghindari kereta yang kesetanan itu.

Sontak penumpang yang berada di dalamnya terjerembab ketika kuda-kuda berhenti dengan tiba-tiba. Mereka yang menyaksikan penyebab insiden ini
hanya bisa mengumpat ketika melihat kereta yang hampir menabrak mereka terus melaju di jalan menuju Zen Aveshta.

“Dasar! Ugal-ugalan! Pastilah itu kereta dari Lembah Dasar! Jelas sekali terlihat,” salah seorang dari wanita yang sedang bercakap-cakap.

“Tak salah lagi! Hanya mereka yang tidak tahu sopan santun,” timpal wanita yang satu lagi.
Penumpang yang lainpun berkomentar yang senada, mengeluh tentang kenyamanan dan keamanan. Ezar pun sempat terbentur kusen jendela ketika kereta berhenti. Sang sais pun meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan itu. Untunglah tidak ada yang terluka, sehingga perjalanan bisa kembali dilanjutkan.

Menjelang sore, rumah penginapan yang bernama Hally sudah terlihat. Kereta lalu memasuki halaman Hally dengan perlahan. Dan ketika para penumpang mencoba melihat seperti apa Hally, mata mereka tertumbuk pada salah satu dari kereta-kereta kuda yang terparkir di halaman. Tanpa keraguan itu adalah kereta kuda yang nyaris menabrak mereka tadi. Rupanya kereta itu pun mampir ditempat yang sama dengan mereka. Beberapa penumpang yang masih dongkol segera mempunyai keinginan untuk, paling tidak, mengomeli saisnya.

Tapi Ezar lebih memilih untuk melihat bangunan Hally. Rumah itu besar dan berlantai dua, dan mempunyai kesan pertama yang apik dan ramah. Meski bangunannya terlihat kuno namun sepertinya telah diberi sentuhan modern. Huruf-huruf besar dari logam mengkilat terpampang di beranda depan. Sebuah papan pengumuman di samping pintu masuk menginformasikan sebuah pertunjukkan malam itu di kedai, yang menampilkan penyanyi wanita lokal.

Merasa lelah, Ezar memutuskan untuk menghabiskan malam itu di sana daripada terus dengan keretanya. Ia segera memesan sebuah kamar, membayarnya, lalu naik ke lantai dua dan meletakkan barang-barangnya di kamar. Setelahnya ia kembali turun menuju kedai di lantai satu. Ia hendak makan dan menghabiskan waktu sebelum ia beranjak tidur.

Di kedai, Ezar melihat banyak tamu Hally duduk di sana . Ezar memperhatikan mereka dan menemukan orang-orang dari segala umur dan ras berkumpul. Segala macam orang yang hendak pergi atau meninggalkan Zen Aveshta. Rasa ingin tahu menyeruak pikirannya.

Ezar duduk di sebuah meja memesan soda limun yang segar, dan melihat sekeliling. Meja-meja penuh dengan orang-orang yang berpenampilan asing baginya. Pria dan wanita yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ada yang bercakap-cakap dengan serius dalam bahasa yang belum pernah didengarnya, tapi ada juga yang tertawa-tawa dengan lawan bicaranya, juga dalam bahasa asing, begitu cepat bagai merepet . Tiga orang di sebelahnya dengan gembira meneguk sebuah botol hitam besar hingga habis. Muka mereka memerah dan tidak lama tersedak hingga bersendawa dengan keras. Mereka langsung malu dibuatnya setelah orang di sebelahnya mendelik, hingga mereka mengurungkan niatnya untuk memesan satu botol lagi. Mengamati tingkah laku orang-orang itu cukup menarik buatnya.

Mendadak ada seseorang yang membuyarkan lamunannya.
“Maaf, apakah di sini kosong?” tanya seseorang. Suaranya lembut, dan sudah pasti milik seorang wanita.

Ezar mendapati seorang gadis berdiri sambil memegang segelas jus sarsaparilla di tangan kanannya. Ezar baru menyadari bahwa tidak ada kursi yang kosong selain yang ada di hadapannya, sebelum menyilakannya.

“Ya, tidak ada siapapun di situ.”
“Terima kasih,” ujarnya pendek.

Sang gadis segera duduk, dan tanpa mempedulikan Ezar, ia meneguk jusnya dengan perasaan puas, seakan ia begitu haus. Sebaliknya, Ezar memperhatikan sang gadis dengan seksama dengan sembunyi-sembunyi.

Sepertinya ia orang Monastir, pikir Ezar. Ia tahu dari pakaiannya mirip dengan yang dikenakan orang-orang, hanya ditambah banyak gelang yang melingkari lengannya. Dan juga dari aksennya, ia berbicara dengan logat yang sering terdengar di sana. Gadis itu cantik. Tulang pipinya sempurna dengan mata yang cokelat, lebar namun sedikit tajam. Rambutnya hitam dan panjang, dibiarkan tergerai hingga ke bahu. Gerakannya anggun dan hati-hati. Cukup lama Ezar memperhatikannya, sambil sesekali menoleh ke arah lain agar ia tidak menyadari sedang diperhatikan.

Tapi sang gadis sendiri tampaknya tidak sadar sedang diperhatikan pemuda yang duduk di hadapannya itu. Ia acuh dan bergeming dikursinya, sama sekali tidak berminat berbicara. Akan percuma saja gagasan Ezar untuk mengajaknya berbicara.

Benar saja. Setelah jusnya habis, sang gadis pun segera meninggalkan meja tanpa mengucapkan sepatah kata pada Ezar. Tujuannya di kedai hanya untuk meminum jusnya, tanpa peduli dengan yang lainnya. Ezar merasa penasaran dengan gadis itu, tapi ia masih ingin berada di sana beberapa saat lagi sebelum ia pergi tidur. Ia kembali mengamati orang-orang di sekitarnya, tapi pemuda ini tidak menyadari akan tatapan sang gadis yang seakan sedang meniliknya, dari jauh sehingga Ezar tidak bisa melihatnya.

Tak lama setelah kepergiannya, penyanyi wanita yang sedianya tampil tiba dan mulai menyanyi. Diiringi sekumpulan pemusik, ia mengantarkan sebuah lagu tadisional setempat yang syahdu. Seluruh orang menikmatinya, tak terkecuali Ezar, meski ia tidak tahu apa arti lirik lagu tersebut.
Seusai pertunjukkan Ezar merasa sudah waktunya untuk beristirahat. Ia naik ke lantai dua, masuk kamar dengan perasaan lelah dan langsung tertidur.


Keesokan harinya Ezar terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Nyenyak juga tidurnya, bergelung dalam selimut yang hangat dan ranjang yang nyaman. Ia segera mandi di kamar mandi kecil di kamarnya, dan merapikan diri setelahnya. Kemudian ia merapikan barang-barangnya dan turun. Pagi itu ia hendak check-out.

Di bawah ia masih menyempatkan diri untuk pergi ke toko roti yang ada di Hally. Roti dan kue di sana enak menurut orang-orang, dan Ezar sarapan dengan sepotong roti hangat yang harum. Namun ia juga membeli beberapa potong lainnya dengan rasa yang berlainan untuk bekalnya di jalan. Seorang penjaga toko wanita melayaninya dengan ramah.

“Semuanya dua belas sesterce,” ujar si penjaga toko sambil memasukkan roti-roti pembelian Ezar ke dalam suatu kantung.

Baru saja Ezar hendak membayar, tiba-tiba saja ia melihat gadis yang semalam berjalan menenteng sebuah tas kantung keluar. Ezar segera membayar rotinya dan mengamati sang gadis sambil menggigit potongan lezat roti mentega yang empuk. Sang gadis keluar dan berjalan di halaman Hally. Ia mendekati sebuah kereta kuda yang di depannya menanti beberapa orang. Tak lama sang sais datang dan mempersilakan semua penumpang naik. Mereka menaikkan barang-barang lalu setelah semua penumpang berada di dalam, kereta segera berangkat.

Menyadari kalau ia juga harus melanjutkan perjalanan, Ezar beranjak dari Hally. Ia harus tiba di ibukota Monastir hari itu juga. Ia pergi ke pelataran dan ditawari tumpangan oleh seorang lelaki yang berdiri di depan sebuah kereta kuda. Ia terlihat hanya sedikit lebih tua dari Ezar.
“Hola,” sapa si lelaki.
“Hola juga.”
“Hei, kau ingin pergi ke Zen Aveshta? Mengapa tidak naik keretaku saja? Cuma lima puluh sesterce saja. Dijamin perjalanan akan tenang dan menyenangkan,” katanya mempromosikan.
“Tidak kalau keretanya ngebut,” kata Ezar setengah bercanda.
“Ah, yang kau maksud pasti kereta yang itu,” kata si sais dengan yakin, “datang dan pergi dari Lembah Dasar. Aku tahu saisnya, ia memang selalu begitu. Selalu panik dan hilang kendali. Yang aku heran, sih, mengapa ia masih saja menjadi sais. Aku selalu mengutamakan keselamatan penumpang. Sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu mengecek kereta maupun kuda. Ehm aku bicara terlalu banyak,” katanya sambil nyengir. “Bagaimana? Kau mau naik?”
“Baiklah.”
“Sempurna!” ujarnya girang, “Namaku Frre Allster.”
“Aku Ezar.”
“Nah, ingat namaku selalu jika kau hendak bepergian menggunakan kereta kuda. Nah, sekarang kau tunggulah barang sebentar. Kereta akan segera berangkat setelah aku mendapatkan beberapa penumpang lagi.”

Ezar lalu bersandar pada pagar sambil menyaksikan Frre mempromosikan keretanya kepada orang-orang yang berlalu lalang, termasuk pada serombongan wanita paruh baya yang pakaiannya sangat aneh. Harus Ezar akui, ia cukup pintar berbicara, karena orang yang tadinya tidak mau terkdang bisa dibujuk olehnya.

Jadi begitulah. Setelah semuanya siap, Frre memberangkatkan keretanya. Ia memacu kudanya dengan tenang, sesuai yang dijanjikannya. Dengan kereta yang meluncur mulus, membuat Ezar jadi bisa menikmati pemandangan sepuas-puasnya tanpa harus khawatir. Ia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di tanah Monastir, makanya ia ingin tahu lebih jauh tentang negeri yang satu ini.

Kabar yang terdengar, negeri ini adalah salah satu negeri yang paling stabil, baik pemerintahan, kekuatan militer, maupun ekonomi. Maka tak heran apabila banyak daerah-daerah mengakui kedaulatannya dan meminta bergabung serta perlindungan atasnya, meski daerah-daerah tersebut memilih untuk tetap menjadi daerah yang merdeka, semacam negara kecil. Misalnya saja adalah Heliokrasi Shamash. Daerah ini resminya tergabung dalam persemakmuran, namun tidak memiliki hak turut serta dalam pemerintahan Monastir atau sebaliknya, Monastir juga tidak ikut campur dalam pemerintahan Shamash. Dengan kata lain, Shamash hanya bernaung di bawah bendera Monastir saja.

Semakin lama jalanan semakin ramai, seiring matahari yang mulai merangkak naik. Sejumlah besar kereta kuda lalu-lalang di sepanjang jalan, termasuk beberapa kendaraan karavan modern yang kelihatan mewah. Inilah pesona kota metropolitan seperti Zen Aveshta. Gemerlapnya kota besar yang kadang kala hanya omong belaka yang dihembuskan oleh orang-orang, padahal sebenarnya tidak. Itu yang ada dalam pikiran Ezar. Mungkin Zen Aveshta tidaklah semegah yang didengarnya.
Tapi ia segera mengubah pikirannya manakala ia melihat sendiri kota itu. Setelah melewati pos penjagaan di gerbang barat laut, ia dapat segera menyaksikan wajah Zen Aveshta.
Tidak main-main, yang dikatakan orang tentang kota ini memang benar. Di sana ia melihat gedung-gedung yang tingginya melewati pohon-pohon tertinggi. Jalanan utama yang ada terbentang luas, selebar yang masih bisa menampung sepuluh kereta kuda berjejeran, dan terbuat dari aspal. Barulah jalan kecilnya dibuat dari bebatuan. Di pinggiran jalan terdapat setapak yang disusun dari batu-batuan blok. Tata kota yang rapi dan semua bangunan yang menggunakan beton cor dan batu pualam serta granit sebagai bahan bangunan, menambah kemegahan kota. Namun ia juga bisa melihat pohon-pohon palem yang tertata rapi di jalur hijau.

Kota itu terapit oleh dua sungai besar yang mengalir di sepanjang dataran rendah. Sungai Moroza berasal dari pegunungan di barat, sementara Sungai Kornash berasal dari Pegunungan Apollyon. Dengan keberadaan dua sungai itu menjadikan Zen Aveshta berkembang dengan pesat dan dikunjungi banyak orang.

Sungguh Ezar berada di tempat yang sibuk, di mana orang-orang dari berbagai tempat lalu lalang, dan ia melihat kendaraan-kendaraan berseliweran. Ia segera teringat Altstadt, ibukota Republik Bezellum. Hanya saja yang ini jauh lebih berkembang, baik teknologi maupun ukurannya. Zen Aveshta memukau bagi siapa saja yang mendatanginya.
Frre terus melajukan kereta hingga tiba di suatu tempat parkir di sisi sebuah lapangan besar. Tempat itu adalah sebuah stasiun kereta kuda, di mana banyak kereta kuda menunggu penumpang.

“Nah, para penumpang yang terhormat, kita telah tiba di Zen Aveshta. Saya harap Anda sekalian menikmati perjalanannya,” ujar Frre sambil menghentikan kereta.
Semua penumpang turun satu-persatu. Ketika Ezar turun, Frre sudah menunggunya.
“Kau puas dengan perjalanannya?” tanyanya jenaka.
“Lumayan, tidak buruk,” ujar Ezar mengangkat bahunya.
“Hahaha,” Frre cuma tertawa mendengarnya, “jadi, sampai di sini. Mungkin saja kita akan bertemu lagi.”
“Nanti dulu,” kata Ezar, “apakah kau tahu di mana aku bisa menginap?”
Frre tersenyum, “Tentu. Memberi informasi terbaik adalah salah satu keahlianku! Kau bisa menginap di Chevorian. Letaknya di blok barat, tak jauh dari lapangan. Dengan mudah kau bisa menemukannya. Chevorian adalah penginapan yang elok. Mereka juga memungut harga yang masuk akal,” jawabnya panjang lebar.
“Terima kasih.”
“Baiklah, sampai jumpa, Ezar,” pamit Frre sambil melambaikan tangannya. Ia lalu naik keretanya dan segera jalan.

Ezar beranjak mencari tempat yang dimaksud. Ia memutari lapangan, dan setelahnya ia tiba di Anthiokia IV, salah satu dari empat jalan utama Zen Aveshta yang panjangnya berkilo-kilometer, dan berakhir di gerbang Astral, kompleks istana Dewan Monastir.
Penginapan yang dimaksud memang tak jauh dari lapangan itu. Terletak di sisi kanan jalan, bangunan itu berlantai empat dan diapit dua menara tinggi dengan kubah kaca pada ujungnya. Jendela-jendela bentuk busur berjejer rapi di atas, sedang kaca flat bevel di lantai bawah memantulkan bayangan-bayangan gedung-gedung di seberang.
Ezar masuk dan melangkah ke lobi utama.

“Hola, Tuan, bisa saya bantu?” sapa seorang resepsionis di counter dengan ramah.
“Hola juga. Saya hendak menginap di sini untuk sementara waktu,” jawab Ezar, “tidak perlu kamar yang besar. Cukup yang kecil saja.”
“Ah, kalau begitu silakan mengisi lembaran ini,” katanya sambil menyerahkan formulir registrasi. Selagi Ezar mengisi lembaran itu, si wanita mengambil sebuah kunci dari rak gantungan kunci dan menyerahkannya pada Ezar. “Ini, Anda bisa menggunakan kamar 301.”
Pada saat Ezar menerima kunci tersebut, mendadak saja terdengar bunyi yang gemuruh, seakan-akan ada yang berputar kencang. Kejadian itu hanya sebentar saja, karena berikutnya suara menggemuruh perlahan menghilang dan tidak terdengar lagi.
“Apa itu tadi?” tanya Ezar heran.
“Ah, maafkan atas ketidaknyamanan ini, Tuan,” kata si wanita menundukkan kepalanya. “Yang tadi itu adalah sebuah autogyro, kendaraan udara yang dikembangkan oleh militer Monastir. Kebetulan tempat pengembangannya berada di dekat sini.”
“Autogyro?” desis Ezar. “Apakah benda itu sama dengan kapal udara yang dikembangkan di barat, yang menggunakan semacam balon udara raksasa untuk bisa membuatnya melayang?”
“Tidak, Tuan, yang ini berbeda,” jawabnya seperti membanggakan. “Autogyro adalah rancangan sensasional yang dibangun oleh negeri ini. Menggunakan mekanika tingkat tinggi untuk menjalankan mesin yang memutar bilah baling-baling yang membuatnya bisa terbang.”
“Dengan baling-baling bisa terbang? Sungguhkah?”
Si wanita tampak meringis. “Sebenarnya tidak. Kami belum menemukan bagaimana cara untuk menerbangkannya. Percobaan yang ada selalu berakhir dengan kegagalan.”
“Begitukah?” tanya Ezar, kelihatan tertarik. “Tapi sungguh hebat jika kendaraan itu benar-benar bisa terbang.”
“Tentu. Ilmuwan-ilmuwan di sini sedang mencari sekuat tenaga mereka, cara untuk mewujudkannya.”
Ezar hanya tersenyum mendengar jawaban si wanita.
“Ah, maafkan saya. Tidak seharusnya saya berbicara panjang lebar. Nah, Tuan, anda bisa segera menuju kamar anda dan beristirahat. Selamat menikmati waktu anda di Chevorian,” kata si wanita sambil mengambil formulir registrasi dan menyimpannya di laci counter.

Tak butuh lama bagi Ezar untuk meletakkan barang-barangnya dan segera turun dengan menenteng bungkusan panjang di tangannya, setelah sebelumnya melongok pemandangan di balkon, yang menampakkan sisi indah Zen Aveshta di mana horizon tidak terlihat karena tinggi bangunan yang menutupinya.

Di lobi ia melihat sebuah papan besar yang berisi foto lima orang yang tampak agung dengan pakaian kebesaran Monastir. Kelimanya adalah Dewan Monastir, dewan pemerintahan Monastir, seperti yang tertulis di plakat di bawahnya. Ludivus, Engelbert, Herven Sager, Seth J. Goffer, dan Seneca Lubrigal. Empat yang pertama adalah pria.

Ezar paling lama menatap foto Seth. Ia adalah anggota dewan yang termuda, paling tidak berbeda dua puluh tahun dari anggota lainnya yang rata-rata sudah berkerut dan tampak begitu tua. Bahkan ketua dewan itu, Engelbert, janggut putihnya sampai menyentuh dadanya.
Setelah puas melihat papan itu, ia keluar dari penginapan. Nah, pikirnya, ia pertama-tama sebaiknya membeli barang-barang yang ia butuhkan. Ia membuka bungkusan panjang itu, yang ternyata isinya adalah sebuah senapan laras panjang. Ia memeriksa senapan itu dan menemukan adanya kerusakan pada pangkal senapan tersebut. Ia hendak memperbaikinya pada pandai besi di sini, yang kabarnya cukup baik dalam kualitas.

Toko serba ada yang terdekat terletak tak jauh dari Chevorian. Ezar sudah memastikannya saat bertanya pada si resepsionis. Matter’s Junkyard namanya, yang sungguh cocok dengan keadaannya. Onggokan besi tua dan logam-logam lainnya tertumpuk begitu saja di halamannya, menutupi sebagian bangunan yang sebenarnya cukup apik. Papan namanya menyatakan bahwa bangunan ini sudah berdiri sejak tiga puluh tahun yang lalu.

Seorang pria muda mengenakan setelan keluar dari pintu depannya sambil menjinjing sebuh tas saat Ezar melangkah masuk. Dan di dalam terlihat sempit dengan banyaknya barang-barang, baik yang bekas maupun yang kelihatan baru. Terdengar suara orang berbicara dari belakang toko. Satu lelaki dan satu wanita. Yang wanita sepertinya ngotot dalam berbicara, dan si lelaki agak kesulitan berbicara dengannya.

Setelah Ezar mendekat, yang lelaki adalah pria beruban berumuran sekitar enam puluh yang tampaknya adalah pemilik toko. Ia sebenarnya kewalahan dalam melayani tawar-menawar dengan pelanggannya, seorang waniya yang ternyata adalah gadis yang ada di Hally. Gayanya masih tetap acuh seperti kemarin. Perundingan berlangsung alot, dan akhirnya si pemilik toko terpaksa menyetujui keinginan sang gadis.

“Baiklah, jadi semuanya seratus lima puluh sesterce,” ujar sang gadis sambil membuka pundi uangnya dan menyerahkan tiga lembar lima puluhan.
“Ya, ya, baiklah, Nak, seperti yang kau mau,” jawab si pemilik pasrah, sambil memasukkan barang belanjaannya ke dalam sebuah kantung.
“Terima kasih atas bisnisnya,” kata sang gadis, dan berbalik hendak keluar. Entah sadar atau tidak, secara refleks Ezar langsung berbalik dan bersembunyi di balik pintu besi tua yang besar, sampai sang gadis lewat dan hilang dari pandangan.
Selepas kepergian sang gadis, Ezar mendekati si pemilik toko, yang tampak sedang mengusap keringatnya dengan handuk kecil.
“Huff, gila benar,” ujarnya lemas.
“Hola,” sapa Ezar.

Menyadari kehadiran Ezar, segera si pemilik melemparkan handuknya dan bertatap muka dengannya.
“Ya, ya, hola juga, Nak, selamat datang di Matter’s Junkyard, toko serba ada yang terjangkau kantung. Saya Hugo Matter, pemilik toko ini. Dan apa yang bisa saya bantu kali ini?” katanya memasang senyum.
“Eh, mengenai gadis yang tadi, apakah ia sudah lama di sini?” Tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja sebelum Ezar sempat memikirkannya.
“Ya, ya, sudah lama. Ia menawar gila-gilaan sehingga saya kewalahan. Bayangkan saja, Nak, ia membayar seratus lima puluh untuk barang yang seharusnya bernilai dua kali lipat dari harga itu!” ujarnya, mengibaskan sebelah tangannnya dan memberi gestur putaran jari di kening.

“Tapi…jarang sekali ada wanita yang seperti itu. Hebat dalam menawar. Saya kalah dibuatnya. Terakhir kali saya memasang harga yang begitu rendah adalah ketika seorang dengan wajah sangar membeli kristal tipe C dan meletakkan lengannya yang berotot tepat di atas kepala saya sembari berkata ‘aku ambil ini’.” Ia terkekeh-kekeh, tapi matanya kembali menatap Ezar, “Tapi kau di sini untuk tujuan yang lain, kan?”
“Ya, saya ingin membeli sesuatu,” jawab Ezar, merasa segera menyukai Hugo. “Saya membutuhkan peluru senapan dan sebuah jam tangan.”
Sebelum ia sempat berkata lagi si kakek sudah melesat ke belakang toko sambil berseru, “Tunggu sebentar!”, dan kembali beberapa saat kemudian sambil membawa satu kotak besar berisi peluru dan satu kotak kecil.
“Ini peluru yang kau minta,” ujarnya dan kemudian menunjuk kotak yang kecil, “dan ini, adalah jam baru keluaran Rouen.” Ia memperlihatkan sebuah piringan kecil logam yang ditutupi kaca bening yang sedikit menggembung, dengan sabuk kulit lapis yang mewah. “Dijamin tahan air dan bisa dipakai untuk bertahun-tahun,” katanya lagi mempromosikan.
Ezar menimang-nimang jam itu sambil memperhatikan jarum pendek dan panjang yang terbuat dari kuarsa merah. Di sekelilingnya batu-batu mirah berukuran kecil menghiasi piringan sebagai jeda waktu antara.

“Jarum itu berpendar dalam gelap, sehingga kau bisa memakainya malam hari, tentu saja, tanpa butuh apapun” kata Hugo, dan buru-buru ia menambahkan seakan Ezar akan bertanya padanya, “Jangan tanya aku, tapi itulah kemajuan teknologi. Kau tidak akan tahu apa yang mereka lakukan pada ilmu alkimia di Rouen sana. Ilmu mereka benar-benar maju.”
Ezar memang menyukainya, namun ia tidak berani membayar begitu mahal untuk sekedar jam saja. Masih banyak yang harus dilakukannya.
“Tidak mahal. Dengan seratus sesterce kau bisa membawanya pulang. Bagaimana?” Ezar menimang-nimang kantung uang yang ada di pinggangnya.
“Baiklah.”
“Jadi!” kata Hugo bersemangat.

Hugo menerima uang Ezar dan menyerahkan jam itu padanya, dengan wanti-wanti untuk mengganti kristal kecil di dalamnya sewaktu-waktu supaya waktu yang ditunjukkannya selalu tepat.
Kini di tangan kiri Ezar melingkar jam tangan baru. Ezar tampak puas ketika keluar dari toko serba ada itu, sambil terus memandangi jam. Baik jarum pendek maupun panjangnya hampir mendekati batu mirah teratas sekaligus terbesar.

“Hmm, sudah hampir siang. Sebaiknya aku cepat bergegas mencari pandai besi di sini.”
Tak sulit untuk mencari seorang pandai besi di Zen Aveshta. Orang-orang akan dengan mudahnya menunjuk sana sini untuk merujuk kepada pandai-pandai besi yang bertebaran di seantero ibukota. Ini memudahkan Ezar untuk segera menyelesaikan masalahnya. Namun ia tidak beruntung; satu-dua kali ia asal masuk ke dalam bengkel pandai besi, dua-duanya menyerah untuk dapat memperbaiki senapannya, entah kenapa. Dan saat ia masuk ke pandai besi ketiga, hasilnya sama saja. Sang pandai besi mengatakan bahwa senapan miliknya itu rumit dan ia sama sekali tidak mengenali rancangannya. Tapi toh ia memberi angin segar, dengan mengatakan bahwa seharusnya Ezar membawa senapan rusak itu kepada Glyph, seorang pandai besi tua yang tersohor. Ia adalah seorang yang terampil dan terpercaya, dan mudah-mudahan ia mampu untuk mengenali dan memperbaiki senapannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Ezar segera beranjak menuju bengkelnya di samping jalan Anthiokia II, yang ada di timur kota.

Lewat jam dua baru Ezar bisa menemukan bengkel milik Glyph, tepat di sebelah kantor pos dan telegram. Dan ia terkesima akan banyaknya orang yang berkerumun di depannya. Ada yang membawa pedang besar yang patah menjadi dua, ada juga yang membawa senapan yang larasnya bergeser. Malah ada yang membawa sekotak besar perkakas logam. Orang-orang yang berkerumun itu bisa dipastikan menginginkan layanan perbaikan barang-barang mereka, dan sedang mengantri dengan dua barisan.

Bengkel Glyph sama sekali tidak besar, dan ia bertanya-tanya bisakah orang sebanyak itu masuk kedalam ruangan yang sempit. Namun ketika ia sudah di dalam, rupanya bengkel itu terlihat sempit di luar dan sangat luas di dalam. Hawa panas yang berasal dari perapian menguar di seisi bengkel. Bunyi denting palu dan panas tungku peleburan menjadi suasana yang ditemui. Juga percikan api las yang asalnya dari barisan pandai besi yang sedang berkerja di sisi.
Akhirnya tiba giliran Ezar. Berhadapan dengan pria muda yang kelihatan tidak ramah, ia berkata bahwa ia ingin bertemu Glyph.

“Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?” tukasnya. Ia melihat senapan yang ada di tangan Ezar. “Kalau kau ingin memperbaikinya, tak perlu Glyph yang menanganinya. Aku yang bertanggung jawab di sini, dan ia tidak lagi menerima pekerjaan yang sepele. Berikan saja padaku sehingga aku bisa cepat memperbaikinya.”
“Tunggu, saya yakin hanya Glyph yang bisa memperbaikinya,” kata Ezar menyangsikan.
“Apa bedanya dengan senapan lainnya?” balasnya meremehkan, “sudah jangan mengada-ngada. Berikan saja padaku dan aku akan memperbaikinya cepat.”
“Tidak, kalau bukan Glyph.”
“K-Kau...” Si pria muda kelihatan semakin kehabisan kesabaran, dan sudah hendak mengambil paksa senapan Ezar kalau saja tidak ada suara keras yang membuatnya terdiam.
“Biarkan ia mengatakan kemauannya!”
Seorang pria paruh baya bertelanjang dada muncul dari pintu di belakang pria muda itu. Ia berjanggut, dan terlihat tua, namun otot-otot lengannya masih kekar dan tatapannya tajam.
“Kalau kau masih bersikap seperti itu tentu kita akan kehilangan lebih banyak pelanggan lagi. Perbaiki sikapmu itu! Pelanggan adalah raja!”
“Ba-baik,” katanya tergagap. Ia menunduk dan tidak berani manatap pria tua itu.
Glyph mendekati Ezar dan bertanya, “Nah, anak muda, apa yang ingin kau sampaikan?”
“Apakah Anda yang bernama Glyph?”
“Ya, tak salah lagi.”
“Bisakah Anda memperbaiki senapan saya ini? Saya sudah mendatangi banyak pandai besi, namun mereka semuanya menyerah dan tidak sanggup memperbaikinya, dan saya dianjurkan menemui Anda.”
Glyph melihat senapan itu dan alisnya terangkat dengan segera.
“Senapan ini…”

Ia memegang senapan itu nyaris hormat, berbeda dengan perlakuan pria muda sebelumnya. Ia mengetuk-ngetuk larasnya sebelum berkata pada Ezar.
“Hmm, menarik sekali. Baiklah, aku akan memperbaikinya. Tapi kemarilah, ikut denganku.”
Glyph mengajak Ezar memasuki pintu di belakang, terus melewati lorong dan tiba di sebuah ruangan khusus. Di sana terdapat perapian yang besar sekali dan alat pertukangan yang sama sekali berbeda dengan yang ada di luar. Ezar memandang takjub pada alat-alat aneh yang terdapat di sana.

“Ini adalah ruang kerjaku,” kata Glyph menerangkan. “Aku membuat segala macam yang mengagumkan di sini, khusus bagi mereka yang memesan dengan tantangan yang mengagumkan pula. Semakin sulit aku akan semakin senang. Jika kau datang dengan segala kesulitan, itulah pekerjaanku.”
Glyph lalu berjalan menuju sebuah meja panjang. Ia menyingkirkan perkakas yang berantakan di atasnya, mengambil sebuah jubah anti api lusuh dari sebuah gantungan dan memakainya. “Nak, kemarikan senapanmu.”
Ezar menyerahkan senapannya.
Glyph menelitinya dengan seksama. Ia menimang-nimangnya dan memperhatikan detil-detilnya dengan semangat dengan kacamata pembesar. Akhirnya ia selesai.
“Tak salah lagi, ini adalah senapan yang sama,” ujarnya puas.
“Maksud Anda?”
“Apakah senapan ini mempunyai nama?”
“Ya, Savr.”
“Begitu, kebetulan sekali. Beberapa hari yang lalu ada datang memeriksakan senapannya. Ia juga datang kepadaku atas rekomendasi pandai besi lainnya. Dan senapan itu... memiliki ciri yang mirip dengan milikmu, meski bentuknya sedikit berbeda. Senapan itu juga memiliki nama. Hari ini ia mengambilnya kembali.”

“Mirip dengan Savr? Ada yang mempunyai senapan yang sama dengan saya? Siapa ia?”
“Hei, jangan terburu-buru. Sayang sekali aku tidak bisa memberitahumu. Di sini pelanggan adalah raja, dan raja tentu membutuhkan privasi bukan? Demi alasan tertentu, kami tidak menyebutkan nama pemilik atas barang yang diserahkan atau dipesan kemari kepada pelanggan lain.”
Ezar terlihat kecewa.

“Hei, kau tahu senapan apa ini – sebenarnya?” tanya Glyph, ia menekankan kata ‘sebenarnya’.”
Ezar menggeleng. “Yang saya tahu, senapan itu turun temurun berada di keluarga saya.”
“Begitu,” kata Glyph menerawang, “jadi kau tidak tahu kalau senjata ini adalah salah satu dari artifak Omni?” katanya menyelidik.
Ezar sedikit tertegun. “Artifak Omni? Savr?”
“Benar,” Glyph tersenyum tipis. “Dengan kata lain senapanmu ini adalah salah satu dari peninggalan masa lampau. Pengetahuan masa kini terlalu rendah untuk dapat membuat barang semacam ini. Dan lagi, ini membuktikan bahwa kau adalah seorang user Omni.”
Lagi-lagi Ezar terperanjat. “Dari mana Anda mengetahuinya?”
“Haha, jangan meremehkan pengalaman si tua Glyph ini, karena aku tahu hal-hal yang tidak kau tahu,” ia tersenyum penuh misteri. “Dan mengenai senapan yang satu lagi, yang juga merupakan salah satu dari artifak Omni, benda itu berasal dari Persemakmuran Monastir. Aku duga kau bukan berasal dari sini. Di mana asalmu?”

“Republik Bezellum,” jawab Ezar singkat.
“Hmm, lumayan jauh. Untuk apa kedatanganmu kemari?” tanya Glyph dengan nada menyelidik.
“Tidakkah Anda memeriksa kerusakan Savr, sebelum menanyakan hal itu?” balas Ezar menghindar.
“Ah, aku sampai lupa. Yah, kerusakannya tidak begitu parah. Aku bisa cepat memperbaikinya. Begini saja, datanglah kemari esok hari sore-sore dan temui aku lagi. Bagaimana?”
“Terima kasih banyak.”

“Sekarang keluarlah, aku hendak bekerja.”
Ezar menurutinya dan pamit, tapi sebelum ia sempat keluar, Glyph memanggilnya kembali.
“Hei, Nak, jika kau adalah seorang user, maka gunakanlah kekuatanmu untuk hal yang baik. Omni harus digunakan untuk kebaikan, tidak ada pengecualian. Kau tentu ingat apa yang terjadi manakala Omni disalahgunakan, bukan?”
Ezar mengangguk sebelum keluar.


Hari sudah sore sepeninggal kedatangan Ezar ke bengkel Glyph. Kata-kata tentang artifak Omni mengisi pikirannya. Sambil menyusuri jalan, ia berpikir keras tentang Omni. Ia tahu bahwa Omni itu sebenarnya ada dalam diri setiap orang. Hanya saja cuma sedikit yang bisa membangkitkannya dan menggunakannya. Padahal potensinya hampir tidak terbatas, tergantung keinginan si pemilik.
Ezar kembali ke penginapan dengan langkah yang berat. Malam hari dihabiskan Ezar dengan diam. Ia makan malam dengan menu yang sederhana di Chevorian. Lalu ia memutuskan untuk tidur lebih awal.

Ia berniat akan melanjutkan perjalanannya. Entah kota apa yang menjadi tujuannya berikutnya, karena ia belum memikirkannya, tapi yang jelas ia tidak boleh tinggal terlalu lama di kota itu; ia harus segera berjalan kembali Tapi itu setelah ia mendapatkan Savr kembali. Senapan itu adalah bekal perjalanannya yang terpenting.

Hari berikutnya Ezar berangkat pagi-pagi dengan tujuan dua simbol kota yang patut didatangi untuk mengisi waktu sebelum mengambil Savr. Pertama ia pergi menuju kuil yang kedua terbesar di daratan Obrador dan kedua terpenting setelah Esagila di Parafion. Kuil itu dinamakan Dirna oleh masyarakat setempat dan konon didirikan sebelum Zen Aveshta menjadi ibukota Monastir. Umurnya diperkirakan ratusan tahun, dan kemegahannya menyimpan aura sakral yang menegaskan keagungan. Ezar menghabiskan cukup waktu di sana, bersama dengan pengunjung lainnya yang membawa kamera sebagai bukti kalau mereka pernah ke sana. Selain Dirna, sebenarnya ia juga ingin mengunjungi istana Astral yang terbuka untuk umum pada hari-hari tertentu. Sayang, hari itu bukanlah waktu kunjungan. Padahal kompleks istana Astral sungguh menarik untuk dikunjungi. Kompleks itu terdiri dari bangunan utama dan beberapa bangunan pendukung. Bangunan utamanya berbentuk seperti menara besar, yang menjulang tinggi dan mempunyai banyak jendela berhias. Astral menurut catatan sejarah dibangun sepuluh tahun setelah kejatuhan ibukota lama karena Perang Tiga Puluh Tahun di Dataran Rendah Monastir, kira-kira sejauh lima ratus kilometer dari Pertigaan Kornash.

Dahulu Monastir bukanlah merupakan persemakmuran melainkan sebuah kerajaan. Tapi setelah terjadi peperangan besar dan hancurnya ibukota lama Enlil, mereka yang selamat pindah ke Zen Aveshta yang pada masa itu masih berupa kota kecil namun dengan kuil yang semegah Dirna. Zen Avehta memang tadinya adalah salah satu pusat kegiatan religius yang bernaung di bawah pengawasan Parafion. Selanjutnya mereka membangun Astral tepat di samping Dirna. Dan sejak itu Monastir menjadi persemakmuran yang beranggotakan wilayah di sekitarnya, seperti Koloergen dan Hersel, melalui perjanjian. Sistem pemerintahannya berubah menjadi dewan, dan tidak lagi diperintah raja.

Sembari meninggalkan kompleks istana yang megah, Ezar dibawa kakinya menuju simpang Anthiokia III yang berisikan restoran-restoran yang mengundang untuk dicicipi. Ia merasa sangat lapar, terlebih lagi ketika ia mencium aroma masakan yang menguar dari berbagai restoran yang bertebaran di sisi jalan.
Di sebuah restoran Ezar kembali melihat gadis yang sedari kemarin terus ia temui, sedang memesan makanan. Kali ini Ezar tidak lagi dapat menahan rsa ingin tahunya untuk tidak mendekati sang gadis. Siapa tahu ia bisa berkenalan.

Ezar bergegas menuju ke teras tempat sang gadis, yang satu setengah meter lebih tinggi dari jalanan dan mengambil kursi yang berhadapan dengannya. Si empunya meja kontan menyadari hal itu dan sedikit melirik. Tapi sebelum ia membuka mulutnya Ezar sudah berbicara duluan.
“Hola,” sapa Ezar padanya, sambil tersenyum.
Ezar harus menunggu agak lama sebelum sang gadis membalas sapaannya.
“Hola juga,” jawabnya pendek.
“Boleh bergabung? Aku lihat tempat lainnya sudah penuh..”
Gadis itu sekilas melirik meja-meja lainnya yang kosong.
“Kau tidak perlu beralasan, aku sudah tahu kalau kita akan bertemu lagi,” katanya.
“Benarkah itu?” tanya Ezar keheranan.
“Ya, dengan ini kita sudah bertemu tiga kali...”
“Tiga kali?” Ezar makin heran.
“Apa kau tidak tahu? Pertama saat di Hally, saat aku mengambil kursi di depanmu, dan kemarin di Matter’s Junkyard, kau bersembunyi di balik pintu besi saat aku keluar dari toko. Jangan kira aku tidak menyadari semuanya,” ujarnya sambil meneguk minumannya lagi.

“Aku tidak menyangka kau tahu semuanya,” kata Ezar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia kembali tersenyum, “Sekarang kita sudah tidak bersembunyi lagi, maka maukah kau memberitahu aku namamu? Namaku Ezar.”
“Aku Rhea, Rhea Silva.”
“Senang berkenalan denganmu.”
“Bagiku juga,” lanjut Rhea, tanpa memandang lawan bicaranya, “dan bukankah kau kemari ingin makan. Aku tidak melihat kau memesan sesuatu...”
“Oh, ya, betul juga, aku tak sadar...” kata Ezar dengan muka memerah.
Ezar memanggil seorang pelayan yang lewat dan ia menyerahkan menu kemudian pergi lagi. Ezar membaca menu dengan bingung, karena nama-nama di situ tampak begitu asing. Berbeda dengan makanan di Chevorian yang ia kenal, di sini semuanya terulis dalam bahasa Monastir. Ada aganes, parvarian, gilagen. Yang mana yang makanan? Dalam kebingungannya Ezar akhirnya bertanya pada Rhea.

“Eh, apa kau tahu makanan apa yang terbaik di sini?”
“Yah, jika kau bingung memilih, cobalah aganes, itu adalah makanan yang umum di negeri ini.”
“Apa itu aganes?”
“Pada dasarnya itu adalah nasi yang dimasak dengan daging dan rempah-rempah. Rasanya lezat sekali.”
“Baiklah. Pelayan!” Ezar memanggil pelayan yang tadi yang memberikan menu padanya. Ezar segera mengatakan pesanannya, sesuai rekomendasi Rhea. Selepas si pelayan pergi, suasana sedikit canggung. Rhea menatap jalanan yang ramai dengan kendaraan dan orang yang berseliweran. Meskipun ia kini berbicara lebih banyak, tapi ia masih terlihat acuh.
“Apa kau akan lama berada di kota ini?” tanya Ezar memecah es.
Rhea memandang Ezar dengan tatapan curiga.

“Maafkan aku, jika terlalu lancang,” kata Ezar segera untuk mengembalikan suasana, dengan mimik menyesal. “Kau tak perlu menjawabnya...”
Suasana menjadi canggung sejenak sebelum wajah Rhea kembali melunak dan menjawabnya, “Ya, aku akan berada di kota ini lebih lama lagi.”
“Aduh, kalau begitu kita mungkin takkan bertemu lagi. Aku harus pergi esok hari,” kata Ezar menyesal. Dalam hatinya ia mendongkol, baru saja ia bertemu dengan gadis seperti Rhea tapi harus berpisah dengan cepat.
Ezar bersumpah dapat melihat senyum tipis yang berkedut di ujung bibir Rhea.
“Oh, mari kita makan dulu...” kata Ezar yang melihat pelayan datang membawa makanan. Wanginya sungguh menggoda hidung. Pelayan menyodorkan pesanan mereka masing-masing. Ezar terlihat begitu penasaran dengan rasanya. Ezar langsung menyendok aganesnya yang masih panas.
“Ini lezat sekali,” ujar Ezar sambil meringis kepanasan pada sendokan pertamanya, “benar perkataanmu, Rhea. Ini memang makanan yang enak.” Ezar buru-buru minum sebelum mulai menyendok lagi, sebentar-sebentar mulutnya berkoar kepanasan.

Rhea terlihat tertawa ringan melihat tingkah konyol Ezar. Ia mulai menikmati pesananannya, parvarian, daging bakar dengan saus kental dan sup iga.
Keduanya menyanyap makanannya hingga habis, lalu baru mulai berbicara. Ezar memulai pembicaraan yang ditanggapi Rhea dengan santai. Mereka membicarakan makanan khas Monastir, yang mana Rhea ternyata banyak mengetahui tentang masakan-masakan tertentu yang hanya dimasak untuk hari-hari tertentu, atau untuk perayaan.
Obrolan kemudian berlanjut mengenai negeri Monastir yang subur. Ezar berbicara dengan antusias mengenai topik yang satu ini. Ia ingin tahu segala sesuatu tentang Monastir. Rhea mengatakan bahwa di tempat manapun di negeri ini seseorang bisa mendapatkan karunia yang dianugerahkan kepada ‘tanah bawah’, atau dataran rendah. Jika ia mencoba menanam ranting yang rapuh, ia akan tumbuh menjadi pohon yang besar dan kuat. Seperti itulah perumpamaan betapa suburnya tanah Monastir. Sungguh berbeda dengan negeri asal Ezar, Bezellum, di mana tanahnya banyak berbatu dan lebih sukar ditanami.

Tak terasa cukup lama mereka berbicara hingga hari menjelang sore. Mereka mengobrol hingga lupa waktu. Rupanya kesan dingin yang terpancar padanya saat pertama kali bertemu sirna seketika jika mengenal pribadinya. Ia hangat ketika sudah berada dalam pembicaraan, bertolak belakang dengan pembawaannya yang cenderung acuh.

Rhea mohon diri ketika matahari sudah semakin tergelincir. Bagi Ezar pun itu sudah sore. Pukul empat pada jam tangannya. Tak lama setelah Rhea pergi, iapun segera meninggalkan restoran dan berjalan menuju Anthiokia II. Glyph pastilah telah menyelesaikan perbaikan senapannya, dan ia membutuhkannya berhubung pagi-pagi sekali ia berniat berangkat melanjutkan perjalanannya.
Ketika ia tiba di bengkel, tempat itu sudah hendak tutup, namun beruntung Ezar bisa menemui Glyph yang ternyata berada di luar mengawasi orang-orangnya. Segera mereka terlibat sebuah obrolan kecil dan sesaat kemudian Glyph masuk ke dalam bengkel dan keluar membawa Savr. Kondisinya sungguh prima. Larasnya berkilat-kilat dalam cahaya senja.

“Maaf kalau kau merasa tidak begitu bagus, Nak. Kau tahu batapa sulitnya untuk mengutak-utik artifak Omni tanpa merusak keindahan dan kekuatannya,” kata Glyph merendah, “tapi aku yakin kau pasti puas dengan hasil pekerjaanku...”
“Ya, ini bagus sekali,” jawab Ezar berterima kasih seraya membayar biaya perbaikan sebesar dua ratus sesterce, yang menurut Ezar terhitung murah sekali.
“Kalau kau butuh aku lagi, datanglah kembali,” teriak Glyph dari kejauhan manakala Ezar hendak kembali ke penginapan. Ia cepat tertidur malam itu karena harus berangkat esok harinya.

***



Boring? Or interesting? Hahaha either way I'm happy enough to receive your comment and critic. Just shoot me, but not in the head.. lol

Protagonist - Ezar Immelhein 1
Ashe
[info]carthegian


Ezar Immelhein, the main protagonist in my novel. Bear in mind that actually I haven't finalized his concepts yet. His characters are shown in the novel, but before I didn't plan to make his appearance in portrait. I might change it again later on.. The sketch is done in SAI, my favorite (so far =P) tool for lining since I'm not good in manual lining. I always turn the paper into a puddle of ink when using marker when lining the sketch. It's so dirty that actually I spent more time cleaning the mess rather than coloring..



This one is made in painter X, trying to do a CG-ized version of Ezar. Yeah, Painter rocks when it comes to painting, but I did stupid mistake by accidentally merging the lineart and the skin shading.. Damn it >.<

Ezar looks COOL here, and I mean very COOL. Hahaha, didn't intend to make him like that. Apparently I need to apply more expression in my drawings..

The Circle - Preface
Ashe
[info]carthegian
Well, as I said before in my first entry, I'm going to dump my novel work in this LJ. This entry contains the preface to the novel. It is deeply regretted that the whole novel is in Indonesian, but I did make some teaser chapters in English, including the preface.

My novel title is 'The Circle'

Preface in Indonesian:

Bertahun-tahun yang lalu, teknologi yang dimiliki manusia jauh lebih maju dari masa kini.
Manusia telah mengembangkan ilmu pengetahuan sedemikian rupa sehingga negara-negara terbentuk, peradaban yang megah bisa dibangun di mana-mana dan kemakmuran menyelimuti seluruh penjuru dunia. Semua itu bersandingkan pada Omni, kekuatan yang pada hakekatnya terdapat dalam setiap insan. Manusia hidup dalam kejayaan, saat ilmu dan Omni berjalan beriringan dalam harmoni.

Namun sifat manusia jugalah yang menyebabkan semua itu berubah.
Timbul kekeruhan di antara negara-negara dunia. Ada negara yang menginginkan kekuasaan dan kekayaan yang lebih, dan ada negara yang menginginkan wilayahnya diperluas. Mereka sering berargumen dan beralasan merekalah yang lebih berhak mendapatkan keinginan mereka.

Situasi seperti itu berlangsung cukup lama dan akhirnya mencapai puncaknya ketika Alba Longa, salah satu negara yang terbesar dan terkuat, menyerang sekitarnya demi kekuasaan mutlak yang diinginkannya. Banyak negara yang memprotes invasi sepihak itu, tapi mereka tidak bertindak untuk membantu yang diserang. Malahan mereka mencoba mencuri kesempatan untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri.

Dengan begitu peperangan yang hebat terjadi di hampir setiap jengkal tanah. Kombinasi ilmu dan Omni yang seharusnya digunakan untuk perdamaian malah dijadikan dasar pemikiran perang, menyebabkan banyak korban berjatuhan, yang konon mencapai jutaan. Perang tersebut berlangsung selama puluhan tahun, dan akibatnya sungguh fatal. Selama periode kelam itu manusia hanya memikirkan tentang menang dan kalah, dan tidak lagi berkarya dan mencipta. Ketika akhirnya perang berhenti seratus tahun yang lalu, ilmu pengetahuan yang sudah dikembangkan sejak lama runtuh dan bersamanya peradaban seakan kembali ke titik nol. Bahkan pengetahuan tentang Omni perlahan terkubur bersama waktu dan hanya segelintir orang yang bisa menggunakannya.

Kini hanya sedikit sekali yang tersisa dari kejayaan masa lampau. Perdamaian memang terpelihara berkat traktat non-agresi yang disetujui seluruh negara. Namun perdamaian itu bersifat semu dan hanya menjadi segores hitam di atas putih, karena segenap manusia kini saling mencurigai satu sama lain. Trauma akan perang dahsyat yang disebut Perang Tiga Puluh Tahun membekas kuat dalam sanubari mereka. Sehingga tak heran masih terjadi pemetaan negara, yang mengakibatkan hubungan antar negara seringkali menegang dan tidak stabil, meski semua menahan diri untuk tidak bertikai. Selain itu, manusia juga memusatkan perhatian untuk kembali menghidupkan ilmu pengetahuan yang sempat mati, namun usaha-usaha yang dilakukan tidak pernah sesuai yang diharapkan untuk mencapai tingkatan tertinggi seperti dahulu, sampai menimbulkan keputusasaan. Dan di tengah-tengah semuanya, terdapat dorongan hasrat untuk mengubah dunia dan membangkitkan kejayaan masa lampau, hal yang mungkin berakhir pada berkobarnya lagi api peperangan yang telah lama padam..


Preface in English:

Years ago human possessed far more advanced technology than today. They have developed knowledge beyond imagination so that amazing civilizations were built everywhere and prosperity covered the entire world. Aside of that, human were able to discover Omni, a tremendous power lies inside every being. Together combined, they lived in glory when knowledge and Omni joined side by side in harmony.

But the nature of human was also the cause of change. Soon conflicts rose between nations of the world. Some yearn for more power and wealth, some yearn for more territory. Arguments were abundant, reasoning one was better than the other so it deserved to obtain what it will.
That stalemate went a long time and reached the culmination when Alba Longa, one of the largest and strongest nations, started a campaign for absolute power it has wanted for so long. Many nations protested against the campaign, but they never moved to help the invaded. Instead they sought opportunity to fulfill their desire and prolonged the war.

Great battles were seen in almost every nation. The combination of knowledge and Omni which is supposed to be used for peace, has led to the fall of victims around the globe, said to be millions. The campaign lasted for years, and the impact was fatal. Through those dark times human have only thought about winning and losing, never again to create and build. When finally the campaign ended a century ago, knowledge which has been nurtured since long collapsed and took down civilization with it. Even the importance of Omni was buried deep as time slowly went.

Now there are only a few remnants of the past glory. Peace is indeed kept in regard of non-aggression pact agreed by all nations, but it is valued only as black line across the white, for every human now distrusts each other. Trauma of the long war called the Thirty Years has left a terrifying mark on their hearts, rendering relations between nations often instable, though every nation is holding back to make open conflicts. Even knowledge, which is hoped to be retained, has succumbed many who tried to revive it into despair despite the endless effort to do so. Knowledge of the past remains a mystery until now.
And amidst everything that revolves, there is an urge to change the world and revive the former glory, by any means necessary, though it may cause another war to erupt...

So whaddaya think? =D

First entry
Ashe
[info]carthegian
Well, so this is my first entry in LJ. Don't really know what to do, but in the future I will use this LJ to develop my long forgotten novel, and maybe also upload some sketches about it. I will also dump some drawings that I won't be uploading in DeviantArt.

So, let this LJ of mine officially be opened =D

Home