Mereka kembali berbicara segera setelah berada di dalam. Meski sebenarnya mereka lelah dan ingin beristirahat, namun sebelum itu ada hal yang mendesak yang perlu diluruskan. Maka mereka berbicara di ruang baca.
“Kita harus masuk Astral!” tandas Seth. “Di sanalah aku yakin kita bisa menemukan bukti yang diperlukan.”
“Menyusup ke Astral?” ulang Ezar. “Caranya?”
“Hmm, kita tidak mungkin bisa masuk waktu malam. Penjagaan di sana jauh lebih ketat dari tempat manapun di negara ini. Besar kemungkinan kita kan tertangkap bahkan sebelum sempat membuka pintu. Dan aku juga tidak lagi bisa masuk sana, setelah dinon-aktifkan. Mereka akan mencurigaiku.” Seth tampak berpikir keras, ia mondar-mandir lagi di atas permadaninya.
“Bagaimana kalau di hari kunjungan?” saran Ezar.
Seth menatapnya sejenak.
“Yah, aku memang belum sempat mengunjungi Astral, tapi aku diberitahu kalau pada hari kunjungan kita bisa masuk ke sana dalam grup, hanya saja aku tidak tahu boleh sampai mana...”
“Ya, ya, betul juga,” ujar Seth mengerti, “hari kunjungan memungkinkan kita untuk masuk ke aula utama dan sayap kiri istana. Selanjutnya kita menyelinap keluar dari grup dan melanjutkan sendiri.”
“Lalu ke mana kita harus mencari bukti-bukti itu?”
“Kuduga ada di kantor Herven.”
“Kau yakin ia menyimpannya di sana? Tidak disembunyikannya di suatu tempat?”
“Tidak, bukti itu akan ada di sana,” kata Seth lambat-lambat, menyilangkan lengannya. “Herven adalah orang yang percaya diri atas kekuasaannya. Ia terlalu angkuh dan licik. Justru kantornyalah tempat yang teraman baginya. Tidak akan ada yang berani memeriksa kantor itu, terlebih dengan Bregend yang menjadi kroninya. Tapi kita mungkin akan kepergok olehnya....”
“Yah, kita harus mengambil resiko itu, bukan?”
Seth mengiyakan, ia senang dengan sikap Ezar yang tidak takut. “Setahuku hari kunjungan adalah tiga hari dalam seminggu, dan kalau aku tidak salah hitung hari kunjungan yang terakhir jatuh pada hari ini.”
“Kebetulan sekali!” seru Ezar. “Kita tidak bisa menunggu terlalu lama.”
“Masih ada waktu untuk beristirahat. Ezar, tidurlah sejenak. Kau pasti lelah. Aku akan memberitahumu nanti.”
Dengan menguap Ezar mengangguk dan melangkah gontai menuju kamar tamu.
Beberapa jam setelahnya, Ezar dan Seth sudah berada di antrian masuk istana. Tak lama mereka diperbolehkan masuk dan didampingi seorang pemandu, menjelajahi istana.
“Selamat datang di Astral, istana Dewan Monastir yang megah, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Jika Anda memandang sekeliling, Anda dapat melihat balairung utama. Terbentang seluas...” kata seorang wanita yang bertugas sebagai pemandu pada sekumpulan orang-orang yang semuanya berbeda pakaiannya. Mereka semua adalah turis yang sedang mengunjungi Astral di hari kunjungan. Semua, kecuali, dua orang di barisan belakang yang tampak tidak mempedulikan ucapan pemandu. Ezar dan Seth.
“Dengar, kita akan mengikuti pemandu ini sampai sayap kiri istana. Dari situ kita akan menuju kantor Herven di sayap kanan. Aku tahu jalan tembus menuju ke sana,” bisik Seth pada Ezar.
Yang diajak bicara mengangguk sambil menatap tiga penjaga yang mengawal rombongan. Ia menenteng tas yang berisi Savr. Seth menyuruhnya untuk memasukkan senapan itu ke suatu tempat yang tidak akan mencurigakan. Seth yang masih memakai pakaian penyamarannya masih memandang sekeliling dengan siaga, sementara Ezar tenang-tenang saja, karena ia tahu kalau penyelundup itu tidak akan begitu bodoh untuk muncul siang hari.
Ia lalu melihat-lihat balairung tempat mereka berada. Rasanya luas dan megah sekali. Terdapat banyak pintu dan tangga di situ, yang entah menuju ke mana. Langit-langitnya tinggi dan dihiasi ukiran yang bagus, sementara lantainya terbuat dari marmer yang terbaik. Bayangan terpantul dari batu yang mengkilap itu. Tapi yang paling menarik perhatian adalah air mancur yang berada di tengah-tengah balairung. Setinggi kurang lebih tiga meter dan berwujudkan elang yang terbuat dari emas, air mancur itu adalah ornamen terpenting dari ruangan luas itu.
Puas melihat-lihat bangunannya, ia ganti mengamati pengunjung. Kira-kira ada tujuh puluh orang lebih. Bagus, pikir Ezar dalam hati, itu akan memudahkan mereka untuk menyelinap. Orang-orang itu terlihat begitu variatif, menurutnya. Ada yang memakai pakaian manik-manik yang indah, tapi juga ada yang hanya memakai baju sederhana. Ada seorang wanita yang mengenakan kerudung, dan tubuhnya tertutup dari atas ke bawah. Ezar sempat memperhatikannya sejenak, tapi ia tidak ingin orang-orang terlalu menyadari kehadirannya.
Si pemandu masih saja berbicara tentang sejarah istana. Kalau saja Ezar sedang berada dalam kunjungan biasa, tentulah ia akan menyimak perkataannya dengan senang hati.
Rombongan pengunjung perlahan mulai bergerak pindah ke suatu lorong yang dari penjelasan si pemandu bernama lorong sidang, semata-mata karena lorong itu akan berujung pada ruang sidang yang biasa untuk melakukan sidang terhadap staf kedewanan, komisi-komisi dan anggota dewan yang dinilai indisipliner.
Dari lorong itu pemandu berjalan memasuki sebuah aula. Tempat itu menyimpan lukisan-lukisan yang berkenaan dengan dewan, antara lain potret diri mereka dan lukisan Astral yang dulu, sebelum dibangun seperti ini. Rombongan langsung mengikuti si pemandu masuk.
Seth berbisik pada Ezar untuk memisahkan diri saat itu juga, ketika para penjaga berbalik arah, dan ia menurut. Seth menyuruh Ezar untuk mengikutinya naik sebuah tangga di samping aula. Tangga itu ternyata tembus di lantai dua aula. Suara si pemandu terdengar cukup jelas sampai di atas. Mereka berjalan menuju sebuah pintu di seberang dengan mengendap-endap berhalang tembok sandaran yang cukup tinggi. Mata mereka sesekali mengawasi kalau-kalau ada yang menyadari kehadiran mereka. Sebelum mereka masuk pintu, Ezar menyadari wanita berkerudung itu juga menghilang.
Setelah menutup pintu dan mengeluarkan Savr dari tas, Ezar bertanya pada Seth. “Sekarang ke mana?”
Menunjuk ke lorong dengan terpaan sinar yang kuat, Seth berjalan di depan. Dari lantai dua itu mereka dapat melihat ke sebuah lapangan yang terbuat dari batu blok. Rupanya tempat yang mereka lalui adalah sebuah foyer besar yang memang dirancang untuk menyerap sinar matahari sebanyak-banyaknya. Tak heran jendelanya besar-besar.
Tapi di ujung Ezar melihat seseorang. Seth pun menyadarinya. Dengan sigap mereka bersembunyi di balik tembok batu, hingga ia pergi menjauh. Namun rupanya ia malah mendekat ke arah persembunyian mereka. Merasa ia mungkin akan memergoki mereka — dan tak ada alternatif lain — Ezar memutuskan untuk melumpuhkannya.
Ketika orang itu muncul dari balik tembok, Ezar segera menyerangnya dan menjatuhkannya ke lantai. Namun alangkah kagetnya ia ketika mendengar jeritan wanita yang dikenalnya.
“Ezar?” seru sang wanita terkejut.
“Rhea?” balas Ezar lebih terkejut, tapi ia toh membantu gadis itu berdiri. “Ke-kenapa kau di sini? Kau tidak apa-apa?” Ezar gelagapan.
Rhea mengurut-urut lengan kirinya. “Kurasa, ya, aku baik-baik saja...” ujarnya datar.
Seth yang sedari tadi melihat segera bertanya pada Ezar, “Kau mengenal gadis ini?”
Sedikit tersipu Ezar menjawab, “Kami berkenalan beberapa hari yang lalu di kota ini...”
Seth mafhum. “Tapi kita tidak bisa berbicara di sini. Kita cari tempat dulu.”
Di sebuah ruangan berpintu berat mereka kembali berbicara. Ezar yang pertama kali angkat bicara.
“Apa yang kau lakukan di sini, Rhea?” tanyanya dengan mimik heran.
“Kau sendiri, mengapa menyerangku tiba-tiba?” balas Rhea acuh.
“Itu karena...ah sudahlah, Seth, kau saja yang menjelaskannya,” ujar Ezar bingung.
“Seth?” ulang gadis itu perlahan, wajahnya menatap Seth lekat-lekat dan segera terperanjat. “Anda Seth J. Goffer? Sesh na hola,” katanya memberi salam.
“Sesh na hola juga untukmu,” jawab Seth tidak sabaran. Ia rupanya merasa tidak nyaman melihat orang memberi salam yang sopan kepadanya. “Namamu Rhea, Nona? Nah jelaskan pada kami apa yang kau lakukan di sini. Tolong.”
Rhea menatap Seth dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. “Aku datang ke sini sebagai pengunjung di hari kunjungan...”
“Tunggu,” potong Ezar, “kau ikut rombongan?” lalu ia memukul tangannya tanda paham. “Jadi kaulah wanita berkerudung tadi...”
Rhea tidak mengiyakan atau membantahnya. Ia melanjutkan bicaranya. “Lalu aku memisahkan diri ketika tidak ada yang menyadarinya. Aku naik lewat tangga yang di dekat balairung dan melepaskan kerudung dan terusan. Lalu aku bertemu kalian di sini.”
Seth mendengarkannya dengan seksama. Rhea kembali berkata, “Apa yang Tuan Goffer lakukan di sini? Bukankah Anda saat ini dinon-aktifkan dan tidak dapat mengurus pemerintahan?”
Seth terlihat begitu serius sebelum melunak. “Aku senang kau membaca kabar tentangku,” ujarnya lembut, “namun ada satu dua hal yang perlu diluruskan.”
Maka Seth menceritakan segalanya pada Rhea, setelah mendapat jaminan dari Ezar. Ia mengatakan kalau ia merasa dijebak atas tuduhan penyelundupan itu dan bertekad untuk mencari kebenarannya. Ia juga mengisahkan bagaimana mereka pergi ke Lugo untuk mengetahui tentang penyelundupan, tapi ia tidak menceritakan pertarungan Ezar. Seth juga tidak mengatakan kecurigaannya terhadap Herven pada Rhea. Ia hanya menceritakan seperlunya, apa yang patut diketahui Rhea.
“Nah, Nona, setelah kau mengetahui ceritaku, maukah kau mengatakan pada kami mengapa kau menyusup di Astral?” Seth bertanya dengan nada lembut namun mengandung perintah.
Rhea menatap Ezar yang bersandar pada tembok sambil menjilat bibirnya, terlihat begitu serius, begitu berbeda dengan Ezar yang berbicara dengannya saat makan siang beberapa hari yang lalu. Dari bibirnya terucap kata-kata.
“Aku mencari sesuatu di ruang arsip. Ada hal penting yang harus kudapatkan.”
Sejenak suasana hening dengan ucapan Rhea, hingga Seth berbicara.
“Dan kau menerobos masuk untuk mencarinya?” kata-kata Seth agak terasa menyudutkan.
Rhea tidak menjawab.
“Sudahlah Seth,” kata Ezar membela Rhea. Ia terlihat setengah senang karena bertemu Rhea lagi, juga merasa sebal karena harus bertemu seperti ini. “Bukankah yang kita lakukan sama saja dengannya?” ia mendekati Rhea dan berkata. “Rhea, maukah kau membantu kami?”
Seth tampak bereaksi mendengarnya.
“Tunggu Seth, sebelum kau menentangnya. Inilah jalan yang terbaik. Kita tidak mungkin membiarkannya sendirian. Bagaimana kalau ia tertangkap dan membocorkan tentang kita? Lebih baik kita mengawasinya. Lagipula, bukankah tiga pasang mata lebih baik daripada dua?”
Seth tampak ingin membantah, tapi toh ia menyerah dengan argumen Ezar. “Perkataanmu memang tidak sepenuhnya salah. Ezar, suatu kali kemampuanmu berbicara itu akan menyulitkanmu... nah Nona Rhea, dengan berat hati kau terpaksa harus ikut kami. Tapi aku berjanji, setelah semuanya usai, aku akan memudahkan jalanmu. Bagaimana?”
“Saya memang tidak memiliki pilihan lain, bukan?” jawab Rhea.
“Bagus,” komentar Ezar, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Ayo kita lanjutkan, Seth. Dan Rhea, jangan jauh-jauh. Mungkin nanti akan berbahaya.”
Seth memimpin mereka bertiga melewati kembali foyer besar yang menuju sayap kanan. Dari situ mereka naik tangga lagi yang terletak di samping foyer. Di lantai tiga, mereka harus bersembunyi sejenak karena ada seorang pengawal istana yang berkeliaran di sana.
“Kantor Herven ada di balik bangsal ini,” kata Seth.
Ia melihat pintu yang dimaksud dengan hati-hati. Kelihatannya tidak ada seorang pun di sana. Tapi baru saja Seth hendak menuju pintu, mendadak terdengar langkah kaki. Seth segera bersembunyi kembali sambil mengintip. Seorang pengawal istana datang dan mengetuk pintu kantor, kemudian masuk setelah dipersilakan. Rupanya Herven berada di ruangnya.
Tak lama pengawal istana itu keluar lagi, diikuti oleh orang kedua yang berhidung bengkok. Rambutnya coklat legam dan tatapannya tajam. Umurnya diperkirakan mendekati lima puluh. Ialah Herven Sager.
Seth mengawasi Herven hingga ia pergi menjauh. “Sekarang waktunya. Kuduga ia dipanggil untuk rapat atau entah apa...” ia berjalan ke pintu dan memutar gagangnya.
“Terkunci,” Seth tampak gusar memutar-mutar gagangnya, tapi bergeming.
“Biar aku coba,” kata Ezar. Ia meletakkan tangannya di atas gagang dan mulai berkonsentrasi. Sama seperti di pelabuhan, sekujur tubuhnya diselimuti aura ungu. Dan sesaat kemudian terdengar bunyi mendesis dari gagang pintu, seakan-akan gagang itu meleleh.
Sekilas mata Rhea tampak membesar melihat tindakan Ezar. Ia agak lama menatap wajah Ezar yang berkonsentrasi.
Klik!
Ezar dengan mudah memutar gagang dan membuka pintu itu. “Nah, silakan, Tuan,” ujarnya berkelakar. Seth tampak tidak bisa berkata apa-apa, tapi toh ia masuk dengan bersemangat.
Ruangan Herven lumayan besar, dan berkesan mewah. Meja kerjanya terbuat dari kayu mahogani yang mahal, dengan kursi yang besar dam berlapis kulit. Seluruh ruangan terhampar permadani. Kabinet-kabinet besar tersusun rapi di sisi kanan. Lemari lainnya di sisi kiri.
“Wow,” desah Ezar sedikit kagum. “Ia rupanya mempunyai selera yang bagus,” lanjutnya sambil melihat lukisan-lukisan di dinding yang kebanyakan menampilkan wanita dan alam.
“Ya, ya,” ujar Seth tidak sabaran. “Sekarang marilah kita mencari dokumen itu. Tapi jangan sampai berantakan. Nona, sudikah kau membantu kami juga?”
“Apa yang harus kucari?” tanya Rhea, kelihatan agak terpaksa.
“Apa saja! Mungkin kertas-kertas atau buku...”
“Dan itulah yang membuat sulit,” timpal Ezar dari seberang ruangan. Ia membuka lemari dan menemukan setumpuk buku-buku dan kertas yang berhamburan.
Secara seksama mereka mencari-cari ke setiap sudut. Tapi tak ada satu pun yang menunjukkan keterkaitan dengan penyelundupan.
“Heh,” ujar Ezar menghela nafas, duduk di atas meja. Ia dan Rhea sudah berhenti mencari. “Mungkin kau salah, Seth. Herven tidak menyimpannya di sini...”
“Tidak mungkin,” bantah Seth, melihat ke lukisan-lukisan di dinding. “Kecuali...” ia segera mencopot lukisan-lukisan itu satu persatu. Ezar dan Rhea melihatnya tidak mengerti.
“Ini dia!” serunya puas.
Di balik lukisan pegunungan yang dicopot Seth ternyata terdapat sebuah lemari kecil yang menyatu dengan dinding. Lemari itu terbuat dari besi dengan pintu tingkap yang berporos putar.
Ezar turun dari meja segera. “Itu dia,” ujarnya kembali bersemangat.
Seth ia lalu membuka pintu lemari besi yang ternyata tidak dikunci dan ternganga akan isinya. Barang-barang yang terbuat dari emas ada di sana, termasuk patung bentuk elang dari emas bertatahkan berlian. Tangan Seth merogoh hingga relung yang terdalam dan ketika keluar, ia menggenggam secarik kertas. Ia membacanya dan tersenyum.
“Apa itu?” tanya Ezar.
“Bacalah,” ia menyerahkannya pada Ezar lalu menutup pintu lemari dan mengembalikan lukisan-lukisan yang dicopotnya. Ia membereskan kantor itu sama seperti sebelumnya.
Ezar dan Rhea membaca kertas itu, yang ternyata adalah sebuah surat pengiriman kristal ke Amavisca di kertas resmi berkop dengan stempel milik Herven.
“Itu bukti yang kita perlukan untuk sementara ini,” ujar Seth sambil mengantungi kertas itu. Ia lalu menutup lemari besi dan mengembalikan semua lukisan ke keadaan semula.
Tiba-tiba Rhea yang berada di dekat pintu menyenggol lengan Ezar.
“Hei, aku mendengar suara langkah kaki...”
“Gawat!” tukas Seth segera. “Mungkin itu Herven. Kita harus keluar sebelum...”
Tapi terlambat. Herven sudah masuk ke ruangannya. Sejenak ia menatap tiga orang yang ada di dalam, terlebih saat ia sadar salah satunya adalah Seth. Matanya berkilat-kilat karenanya. Ia lalu berteriak dengan lantang memanggil pengawal istana.
Ezar sudah hendak bergerak maju, tapi Seth menahannya. Ia seakan menyuruh Ezar agar tidak bertindak sembrono. Pandangannya terlihat begitu serius.
“Kau, bukan lagi anggota dewan. Untuk apa kau di sini?” tanya Herven dingin. Di belakangnya muncul beberapa pengawal istana yang merespon panggilannya.
Seth tidak menjawab.
“Pengawal, tangkap mereka semua karena telah memasuki kantorku tanpa izin! Yang satu ini bersenjata, sita senapannya.”
Pengawal istana yang diperintah segera menahan ketiganya dan mengambil Savr.
Herven melihat sekeliling ruangannya, tidak menemukan tanda-tanda terusik, maka ia mendekati Seth dan berkata dengan nada yang menusuk. “Mungkin kau hendak membalas dendam, tapi kini kau sudah menambah daftar kesalahanmu sendiri. Sayang sekali bagimu aku kembali terlalu cepat sebelum kau sempat melakukan niatmu. Dan kau tahu, akan lebih bagus melihatmu dihakimi oleh Dewan Monastir secara pribadi. Kali ini mereka tidak akan memberi keringanan padamu, seperti pada sidang khusus yang lalu.” Ia meoleh pada anak buahnya. “Bawa mereka semua ke ruang sidang. Dan jangan sampai kabur.”
Ia kemudian keluar dari ruangannya.
“Mengapa kau seakan membiarkan dirimu tertangkap?” tanya Ezar dengan berbisik pada Seth, agak heran, ketika mereka digiring oleh pengawal istana menuju ruang sidang.
“Aku merasa ini bukan saatnya untuk berlari lagi,” jawabnya tenang.
“Jadi kau punya ide?”
“Biarkan aku yang beraksi,” jawabnya mantap.
Mereka dibawa menuruni tangga-tangga hingga kembali ke lantai dasar. Sekali lagi mereka melewati lorong sidang. Kali ini sampai habis. Di ujung ruang itu berdiri pintu yang sangat besar dengan ornamen yang rumit. Pengawal istana itu membuka pintu itu dan menampakkan ruangan yang besar.
Ruangan itu berbentuk agak bulat, dengan langit-langit tinggi berbentuk kubah. Terdapat bangku-bangku di sepanjang ruangan, menyisakan sebuah jalur di tengahnya. Ketika mereka digiring ke tengah ruangan, di seberang ruangan berdiri meja tinggi yang di belakangnya duduk empat orang.
Ezar harus mendongak agar bisa melihat siapa yang duduk di situ. Ia mengenali mereka sebagai anggota dewan, yang mungkin dipanggil Herven secara pribadi. Engelbert duduk di tengah, lalu Ludivus, Seneca dan yang paling kiri, tentu saja adalah Herven.
Para pengawal itu menempatkan Ezar dan Rhea duduk di sebuah meja dan kursi yang rendah, sementara Seth disuruh berdiri di sebuah podium di tengah, tepat menghadap meja dewan.
Herven menatap Seth dengan tatapan licik. Ia seperti mengatakan kalau Seth akan dihukum seberat-beratnya.
“Hmm, hmm,” gumam Engelbert, ketua Dewan Monastir. “Seth J. Goffer,” katanya perlahan. Ia menatap pria yang berdiri di podium itu sambil membetulkan kacamatanya. “Bukankah kau sudah dinon-aktifkan sebagai anggota dewan dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan terkait tuduhan skandal penyelundupan? Dan kini kami diinformasikan bahwa kau telah memasuki kantor Herven tanpa izin, atau lebih tepatnya mendobrak masuk. Apakah itu benar terjadi? Kalau ya, kau tentu sudah mengetahui akibatnya.”
Seringai kemenangan terhias di wajah Herven.
“Yang terhormat Dewan Monastir, sebelum saya menjawab pertanyaan itu, ijinkan saya untuk membela diri,” Seth berkata dengan tenang.
Engelbert berpikir sejenak sebelum berkata, “Baiklah. Itu cukup adil.”
Seringai Herven seketika berubah menjadi amarah. “Tidak ada yang perlu ia katakan lagi,” desis Herven tajam. “Ia sudah tertangkap basah berada di kantorku. Bukankah itu sudah lebih dari bukti?”
Seneca yang berada di sebelahnya menggeleng. “Hentikan, Herven. Meskipun tertuduh ia mempunyai kesempatan untuk membela diri, Herven. Lagipula ia masih tercatat sebagai anggota dewan, dan di sini kami menjunjung tinggi status itu dan menghormati hak-haknya.”
Herven terhenyak ke dalam kursinya.
“Nah, apa yang ingin kau katakan?” tanya Engelbert kembali.
Seth berkata dengan jelas. “Saya menolak dengan keras tuduhan masuk tanpa izin yang dituduhkan kepada saya.” Ia lalu berhenti, sengaja untuk melihat efek ucapannya.
Alis Engelbert serta merta terangkat mendengar perkataan Seth. Begitupun dengan anggota dewan yang lain. Terutama Herven, mukanya terlihat memerah karena murka.
Seth kembali melanjutkan. “Karena kehadiran saya di sini adalah untuk mencari bukti yang dapat membuktikan bahwa saya dijebak atas tuduhan penyelundupan kristal energi.”
Engelbert terpekur, “Kau dijebak? Lantas apa hubungannya dengan kantor Herven?” tanyanya heran.
“Di situlah dugaan terdapat bukti yang saya maksud.”
“Tunggu dulu,” kali ini giliran Ludivus yang bereaksi, “Maksudmu kau mengindikasikan kalau terdapat bukti yang membuktikan kau tidak bersalah di ruang Herven?”
“Benar.”
“Tapi itu berarti kau menuduh Herven sebagi orang yang menjebakmu!”
“Benar,” jawab Seth sangat tenang.
“Tidak bisa diterima! Ini menggelikan!” seru Herven penuh amarah. “Dasar kau makhluk rendahan!”
“Herven! Kendalikan dirimu!” kata Engelbert mengingatkan. “Kita masih berada di tengah-tengah sidang.”
Herven menatap Engelbert dengan tajam. Ia mengertakkan giginya saking kesalnya, namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia mengetuk-ketukkan jemarinya di meja.
Setelah keadaan tenang, Engelbert kembali berbicara seakan-akan tidak terjadi apapun. “Ini tuduhan yang sangat berat dan serius. Apa kau punya buktinya?”
“Ya,” jawab Seth yakin. “Pertama-tama saya akan membantah tentang dokumen yang ditemukan di ruangan saya, yang oleh komisi internal dijadikan bukti hanya karena ada stempel saya tertera. Pada saat yang bersamaan saya perlu melaporkan bahwa stempel itu hilang.”
“Kau kehilangan stempelmu?” ulang Seneca tidak percaya. “Lalu mengapa tidak kau katakan sewaktu kau diperiksa?”
Seth sedikit tersenyum. “Tentu, pada saat itu saya belum menyadari apa yang terjadi, dan tidak melihat kaitannya. Namun saya kini telah mengerti. Herven, yang telah melaporkan saya karena diduga menyelundupkan kristal energi, pada kenyataannya adalah penyelundup itu sendiri! Dan ia membuat dokumen palsu dengan stempel saya yang hilang!”
“Pembohong!” suara Herven membahana di ruang sidang. Kelihatan lagi ia tidak bisa menahan diri. Wajahnya dipenuhi otot yang menegang. “Aku tidak bisa menerima dituduh seperti itu! Penjarakan ia segera!”
“Nanti dulu,” seru Ludivus, tampak tertarik dengan perkataan Seth. Ia mengusap kepala botaknya perlahan. “Seth, apa kau mengatakan kalau justru Herven-lah yang menjadi penyelundup itu?”
“Tepat,” Seth turun dari podium itu. Ia berjalan mendekati meja tinggi. “Dan saya punya buktinya. Perkenankan saya.” Ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan surat pengiriman yang tadi ditemukan, dan menyerahkannya pada penjaga yang menyerahkannya pada Engelbert. Seth dapat melihat mata Herven menyipit terkejut saat surat itu diserahkan. “Surat itu saya temukan di kantor Herven.”
Sang ketua dewan membaca surat itu dengan mata membelalak, seakan tidak percaya. Engelbert yang pertama bicara, membetulkan kacamatanya yang jatuh ke hidung.
“Ya, ampun,” ujarnya geleng-geleng. “Dokumen yang sama seperti bukti tuduhanmu...”
“Dan aku juga menemukan stempel saya di tempat surat itu berada.” Seth mengacungkan stempel emas dengan ukiran namanya di atas dan dasar.
Engelbert menoleh kepada Herven. “Sebaiknya kau menjelaskan apa yang terjadi, sejujur-jujurnya.” Ada nada tegas dalam bicaranya. Anggota dewan lainnya pun menatap pada Herven, seakan memerintahkannya untuk berbicara.
Herven menggertak-gertakkan giginya. Kemudian tanpa disangka ia mengambil sebuah bungkusan dari balik bajunya dan melemparkannya ke tengah ruang sidang.
Bum!
Bungkusan itu meledak dengan kencang. Namun tidak ada api yang keluar, melainkan asap yang banyak sekali. Dalam sekejap saja asap itu telah memenuhi ruang sidang, membubung hingga ke langit-langit. Begitu pekat sehingga orang sama sekali tidak bisa melihat.
Semua orang yang ada kaget seketika. Terdengar teriakan-teriakan dari entah siapa. Beberapa di antaranya batuk-batuk seraya mengeluh matanya sakit kemasukan asap. Kelihatannya semua orang panik. Mereka hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi.
Tak lama kemudian asap itu mulai menipis. Pandangan perlahan menjadi normal kembali, karena asap itu menghilang secepat munculnya. Terlihat Seneca dan Ludivus terpental dari meja tinggi saking kagetnya, terlungkup di lantai belakang, hanya diam saking kagetnya, sementara Engelbert pingsan di meja. Seth tampak terbatuk-batuk, berlutut bersandarkan meja tinggi. Ezar berada di bawah meja, sempat menarik Rhea bersamanya. Entah bagaimana, tampaknya ia sempat menghindar ketika bungkusan itu meledak. Orang-orang yang lain terbatuk-batuk di belakang, tampak tidak berdaya.
Ezar yang pertama bangun. Itu juga setelah sadar, bahwa ternyata tanpa sadar ia mendekap Rhea. Ia langsung melepaskannya, dengan muka memerah. Rhea sendiri tidak kurang apapun, hanya merasa sedikit rikuh.
Ezar segera membantu Seth berdiri. Ia masih terhuyung-huyung. Mereka lalu memeriksa anggota dewan yang lainnya. Mereka tampak baik-baik saja. Tapi Herven tidak kelihatan batang hidungnya.
Seth terperangah melihat sebuah pintu dorong di belakang meja tinggi terbuka.
“Herven! Rupanya ia melarikan diri melalui pintu belakang!” serunya kesal. Ezar hendak mengejar, tapi Seth menahan. “Tidak usah. Biar penjaga saja yang mencarinya. Kita bantu yang lain dulu.”
“Tuan Goffer, Anda dipanggil masuk,” kata seorang pengawal istana, menyadarkan Seth yang sedang melamun di pinggiran lorong.
Seth tersenyum pada Ezar sejenak, kemudian masuk ke dalam ruang sidang. Tinggallah Ezar berdiri saat pintu ditutup, dan Rhea yang duduk di sebuah bangku. Ezar lalu ikut duduk dan menghela nafas. Ia menatap Rhea di sebelahnya.
“Maaf aku telah melibatkanmu dalam masalah ini,” ujarnya merasa menyesal.
“Tak apa,” jawabnya pendek. Lalu ia diam dan termenung.
“Aku – eh – kau mau keluar? Kupikir, daripada kita di sini menunggu...”
“Dengan senang hati,” sambut Rhea.
Mereka lalu berjalan melewati halaman istana, di dekat ruang sidang. Halaman yang luas itu banyak ditumbuhi tanaman. Pohon-pohon yang rindang memberikan keteduhan yang menawan. Bunga-bunga tumbuh dengan subur di sepanjang pagar istana, seperti terpelihara dengan baik. Sudah lewat tengah hari, dan matahari masih bersinar terik.
“Katanya kau akan meninggalkan Zen Aveshta, tapi mengapa kau masih ada di sini?” tanya Rhea angkat bicara.
“Yah, tadinya... ceritanya panjang,” jawab Ezar. Maka ia lalu menceritakan pagi hari di mana ia bertemu dengan Seth dan setelahnya. Kali ini ia tidak menyembunyikan apapun dalam perkataannya. Ia mengakhiri cerita ketika mereka bertemu di lorong.
Rhea terutama nampak sangat tertarik dengan saat di mana Ezar menggunakan kekuatan Omninya.
“Jadi kau seorang user...” kata Rhea. Ada nada antusiasme.
“Aku sudah menduganya. Kau menpunyai aura yang berbeda. Terlebih setelah kau membuka pintu kantor itu.”
“Ah, itu bukan apa-apa,” ujar Ezar sedikit tersipu, tidak merasa heran akan ketertarikan Rhea pada hal itu. “Kau sendiri, mengatakan akan berada di sini lebih lama lagi, apakah untuk menyusup ke ruang arsip? Kalau boleh thu, apakah alasanmu hingga nekat untuk menerobos Astral demi berkas-berkas belaka?”
Rhea mendekati sekuntum bunga dafodil dan memetiknya. “Ya, itu tujuanku. Aku hendak mencari sesuatu tentang ibuku...”
“Tentang ibumu?”
“Ya, ia meninggalkanku waktu kecil, tidak tahu di mana ia berada. Ia seorang peneliti negara, jadi mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu tentangnya dari sini,” jawabnya sambil mencium bunga itu. Ia menoleh ke Ezar. “Dan kau, bukankah kau datang dari jauh. Untuk apa kau datang kemari?”
“Ah, aku hanya ingin berkelana,” jawab Ezar cepat. Ia memandang langit yang tidak berawan. “Aku tak ingin hanya berada di negeri asalku, Bezellum, dan melepaskan pandangan untuk melihat ke dunia luar.”
“Begitu...”
Terlihat barisan orang berjalan keluar dari ruang sidang.
“Sepertinya mereka sudah selesai. Mari kita temui Seth,” ajak Ezar.
Tapi Seth sendiri yang menemui mereka. Ia kelihatan sangat senang ketika menghampiri mereka.
“Ezar dan Rhea. Maaf, sidang itu pasti membuat kalian bosan menunggu,” katanya tersenyum. Mereka berjalan masuk ke area istana. “Terima kasih atas bantuan kalian. Aku telah kembali dilantik menjadi anggota dewan.”
“Betulkah? Selamat!” kata Ezar menjabat tangannya. Begitu pun Rhea.
“Dewan Monastir percaya dengan kesaksian yang aku buat. Mereka menarik kembali tuduhan dan mengembalikan statusku. Terlebih lagi ketika Herven kabur, itu menegaskan siapa yang sebenarnya bersalah.”
“Omong-omong tentang Herven, bagaimana?” tanya Ezar menyelidik.
“Penjaga tidak berhasil menemukannya. Ia pasti sudah berhasil keluar dari lingkungan istana. Akan sulit untuk melacaknya di kota ini, tapi aku duga ia pasti akan meninggalkan kota secepatnya. Bagaimanapun kita harus menangkap mantan anggota dewan itu,” ia mengerling pada Ezar, “Engelbert memecatnya secara tidak hormat tadi. Aku akan membujuk dewan agar menyetujuiku untuk melacak ke mana dia pergi dan membawanya kemari untuk diadili, meski sebenarnya itu wewenang komisi internal dibantu militer.
“Tapi Bregend yang ketua komisi adalah kroni Herven, dan militer di Arushkar akan lama dalam memobilisasi pasukannya. Makanya aku sendiri yang akan menghadapinya.”
Ezar mendengarkannya seksama. “Apakah bantuanku diperlukan?”
Seth mengiyakan dengan cepat. “Tentu, aku bisa sangat terbantu dengan kehadiranmu. Dan Nona Rhea, hari ini aku tidak akan menangkapmu karena menyusup ke istana dan dengan senang hati membukakan ruang arsip lebar-lebar untukmu. Kau bisa menggunakannya sesuka hati.”
“Terima kasih, Tuan Goffer,” kata Rhea kelihatan senang.
“Sekarang, mari bicarakan rencana...” kata Seth pada Ezar.
***






